Meluruskan Makna Jihad (15)

Mengevaluasi Ego Keumatan Kita

Nasaruddin Umar - detikNews
Rabu, 22 Jan 2020 16:59 WIB
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Egoisme keumatan perlu sesekali direnungkan kembali. Betulkah kita sudah perfect sebagai ummah sehingga dapat digunakan rujukan untuk menilai orang dan masyarakat lain? Motivasi dan referensi apa yang paling dominan di dalam diri kita untuk melakukan jihad? Jangan sampai kriteria yang kita gunakan untuk menyasar orang lain justru lebih menonjol subjektivitas kita yang berbeda dengan orang atau kelompok yang disasar.

Jangan sampai kita termasuk pihak yang disindir oleh pepatah: Semut mati di seberang laut kelihatan, gajah mati di pelupuk mata tidak kelihatan. Selama namanya manusia, pasti subjektivitasnya pernah mendominasi dirinya. Dalam keadaan seperti ini manusia cenderung bukan hanya meng-aku-kan dirinya sendiri, tapi juga berharap meng-aku-kan orang lain. Dengan kata lain, ia ingin melihat orang lain seperti keakuan dirinya, bukan sesuai dengan esensi universal yang menjadi inti ajaran agama.

Sering kita menjumpai orang menghendaki persepsi atau keakuan dirinya diimplementasikan oleh orang lain di luar dirinya. Ia kecewa bahkan marah kalau keinginan dirinya berjarak dengan kenyataan. Celakanya, terkadang seseorang menggunakan bahasa agama untuk melegitimasi dan menjustifikasi keakuan diri tersebut, sehingga siapapun yang berbeda dengan dirinya maka salah menurut agama. Atas nama "kebenaran" itu, maka seseorang bisa menghalalkan yang haram, termasuk mengalirkan darah saudaranya sendiri.

Kondisi sedemikian di atas bukanlah sesuatu yang ideal dan tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang ideal. Kini sudah saatnya kita melakukan interiorisasi ajaran agama. Jika nilai-nilai ajaran agama menjadi bagian yang integral, internal, dan inheren di dalam diri setiap individu, maka akan tercipta universalitas nilai-nilai ajaran agama di dalam lingkungan pacu kehidupan kita. Interiorisasi nilai-nilai luhur ajaran agama ke dalam pribadi akan melahirkan kesadaran kolektif dan universal. Betapa tidak, karena diri kita sudah melihat substansi diri kita sendiri di dalam diri orang lain, bahkan pada seluruh alam raya.

Setiap kali kita melihat orang lain atau apapun yang kita lihat, seolah-olah substansi diri kita juga ada di sana. Seolah-olah kata I, you, dan he/she/hey menjadi tidak relevan lagi. Seolah-olah kata I, you, dan he/she/they larut menjadi we. Tidak lagi ada kamus "orang lain" di luar diri kita. Kamus aku adalah kamus engkau dan kamus mereka juga. Dengan demikian, lingkungan sosial tercipta sebuah keindahan.

Perbedaan yang ada bukan lagi sesuatu yang menyedot energi, tetapi bagaikan ornamen lukisan warna-warni yang menyejukkan hati dan pikiran. Alam ini ini memang adalah sebuah lukisan; lukisan Tuhan (The Painting of God). Siapa yang menentang realitas pluralis berarti tidak takjub melihat lukisan Tuhan. Orang yang demikian boleh jadi itulah yang dicap dengan fi qulubihim maradl (dalam hatinya ada yang tidak beres). Jika hal ini berlanjut maka dikhawatirkan berada dalam posisi khatamallah 'ala qulubihim (Allah mengunci mati hatinya). Na'udzu billah.

Sesungguhnya yang ideal ialah proporsional, yakni interiorisasi yang diiringi dengan eksteriorisasi. Kita harus terlebih dahulu menginternalisasikan nilai-nilai ideal itu pada diri sendiri sebelum menyerukannya kepada orang lain. Nabi Muhammad bukan hanya mengatakan: Ibda' bi nafsik (mulailah pada diri sendiri). Allah juga memperkenalkan nilai-nilai Islam sebagaimana terangkum di dalam Al-Quran diawali dengan proses internalisasi nilai-nilai substantif (aqidah) yang turun di Mekah, yang biasa disebut ayat-ayat Makkiyyah, lalu disusul dengan ayat-ayat legal-formalistis untuk kehidupan bermasyarakat di Madinah yang dikenal dengan ayat-ayat Madaniyyah.

Sistematisasi penurunan ayat (at-tanzil) berdasarkan kondisi objektif masyarakat menarik untuk diperhatikan. Sebaiknya kita tidak rancu di dalam memperkenalkan ajaran agama. Ada kaedah-kaedah dan metodologi di dalam menyampaikan ajaran agama, seperti diserukan sendiri dalam Al-Quran: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. al-Nahl/16:125).

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)