Pustaka

Manaqib Penjatuhan Gus Dur

Anwar Kurniawan - detikNews
Sabtu, 18 Jan 2020 12:50 WIB
Jakarta - Judul Buku: Menjerat Gus Dur; Penulis: Virdika Risky Utama; Penerbit: NU Media Digital Indonesia, Desember 2019; Tebal: xxi+ 376 halaman

Sejarah boleh jadi milik pemenang, tetapi bukan berarti pihak yang "kalah" akan diam tanpa melawan. Buku Menjerat Gus Dur yang ditulis Virdika Rizky Utama ini merupakan salah satu ikhtiar untuk menyibak tabir sejarah di balik "impeachment" Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, buku ini secara mengejutkan mengkonfirmasi penuturan Gus Dur di sebuah talkshow bersama Andy F Noya beberapa tahun silam. Gus Dur menyebut bilamana terdapat dua orang yang menurutnya paling bertanggung jawab atas pencopotan tersebut.

"Dua, Amien Rais dan Megawati," begitu terang Gus Dur.

"Mengapa?" kejar Andy.

"Tanya sana dong, kok tanya saya!"

Betapapun, Gus Dur merasa bahwa besok-besok akan terbukti oleh bangsa ini sendiri. Benar saja, dua dekade pasca pelengseran, menyadur pengakuan Virdi di sebuah diskusi yang disiarkan 164 Channel di Youtube, dokumen konfidental itu seolah "mengiba" kepada Virdi sewaktu melaksanakan tugas jurnalistik di Kantor DPP Partai Golkar medio 2017.

Ya, ia mengiba, sebab nasib dokumen itu, masih menurut pengakuan Virdi, nyaris di-"kilo"-kan, jika tidak dibuang, oleh petugas kebersihan. Padahal, ia secara lengkap mengungkap keterlibatan sejumlah nama tokoh dan elite politik yang saat ini masih hidup dan beberapa di antaranya bahkan bergentayangan di pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Dalam dokumen itu, semuanya tercatat rapi dengan peranannya masing-masing. Malahan, tidak hanya Amien Rais dan Megawati, mulai dari Anas Ubaningrum yang berlaku sebagai kurir, sampai Fuad Bawazier, dan paling sentral adalah Akbar Tanjung merupakan sederet nama yang turut berkiprah dalam sandiwara tersebut.

Menariknya, Virdi tidak lantas menelan mentah-mentah dokumen fenomenal itu. Ia tetap skeptis. Dengan kata lain, sebagai seorang yang berlatar belakang disiplin ilmu sejarah sekaligus seorang jurnalis, ia tetap melakukan tugasnya dengan baik, bahkan terbilang cukup berani: verifikasi!

Ya, butuh sekiranya dua tahun sejak penemuan dokumen hingga proses pembukuan. Berbekal "amunisi" tentang konteks historis pelengseran Gus Dur yang ia dapat dari penelusuran pustaka, baik digital maupun cetak, Virdi menjadwalkan pertemuan dengan sejumlah nama yang tercantum dalam dokumen tersebut sepanjang 2018.

Hasilnya, beberapa tokoh sudi bertemu, beberapa lainnya enggan. Tetapi, mengingat proses dan hasil wawancara yang ditempuh Virdi, tidak berlebihan jika dokumen itu dinyatakan sahih adanya. Dengan demikian, buku ini sekaligus bisa dibilang "mahal", sebab di dalamnya memuat lampiran dokumen yang tidak saja penting, tetapi juga berbahaya tentang skenario pelengseran Gus Dur.

Sebagai contoh, ia dengan terang benderang menampilkan skenario Semut Merah (Semer), sebuah sandiwara politik untuk melemahkan legitimasi moral Gus Dur melalui berbagai upaya termasuk kasus Ajinomoto oleh MUI serta rekayasa Buloggate dan Bruneigate (hlm. 358).

Di titik inilah, hadirnya buku ini menemukan relevansinya. Pasalnya, ia dapat menjawab keraguan, dan pada saat yang sama menepis tuduhan sejumlah kasus yang terkadang menghantui bahkan menjadi senjata politis untuk mendelegitimasi konsistensi perjuangan Gus Dur, utamanya dalam mengemban amanat reformasi dan memberantas korupsi.

Pertengahan September 2019 lalu, umpamanya, dalam sebuah kicauan di Twitter, Faisal Assegaf menulis, "Kalau @AlissaWahid konsisten melawan kejahatan korupsi, harus desak KPK bongkar kejahatan Buloggate & Bruneigate yang membuat Gus Dur dilengserkan dari kursi presiden..."

Kini terbukti bahwa sejumlah tuduhan itu hanyalah isapan jempol semata. Tuduhan yang, seperti kata Gus Dur, tidak lain dan tidak bukan adalah upaya untuk melengserkan lawan politik dengan segala cara.

Kini, kepingan demi kepingan sejarah perlahan telah terungkap. Segera setelah penemuan dokumen rahasia yang tidak lagi rahasia itu, Virdi menceritakan sedikitnya ada "tiga kali gelombang" sepanjang 2018 di mana rumahnya mendapat tamu tak diundang yang menanyakan keberadaan dokumen tersebut.

Tapi senyatanya hal itu tidak lantas menyurutkan dia untuk tetap menuliskan buku tentang drama politik di balik penjatuhan Gus Dur ini. Seperti diakui oleh Virdi dalam sebuah ulasan di alif.id (19/8/2019), buku ini tidak dimaksudkan untuk melemahkan lawan politik tertentu, baik dalam Pemilu 2019 maupun lawan politik Gus Dur secara umum. Ia menulis buku Menjerat Gus Dur semata karena passion jurnalistik serta disiplin ilmu sejarah yang ia geluti.

Dan, seperti dipesankan oleh Alissa Wahid, putri sulung Gus Dur, bahwa buku ini bukan diniatkan untuk motif balas dendam. Sebaliknya, ia lebih diharapkan sebagai pelajaran agar kita tak selalu diwarisi awan gelap masa lalu, dan di atas itu semua catatan sejarah memang seharusnya diluruskan.

Akhir kalam, mengingat buku ini menemukan momentumnya dengan satu dekade Haul Gus Dur, saya menganggapnya lebih sebagai manaqib Gus Dur. Ia laiknya tradisi penulisan manaqib pada umumnya yang dibacakan sewaktu peringatan haul seorang ulama khos.

Bedanya, kalau pembacaan manaqib Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi di haul Solo pertengahan Desember lalu, misalnya, adalah tentang ibrah-ibrah dan hikmah-hikmah dari yang bersangkutan, manaqib Gus Dur kali ini bercerita soal pahitnya kenyataan dari upaya penjatuhan Presiden ke-4 RI oleh sebuah kekuatan yang disebut Eny Sagita --dalam lirik lagu Gus Dur-- sebagai "reformis palsu".

Anwar Kurniawan alumnus STAI Sunan Pandanaran, aktif di Komunitas Santri Gus Dur Jogja

(mmu/mmu)