Kolom

Nongkrong, "Review", dan Politik Mobilitas

Hamzah Fansuri - detikNews
Jumat, 17 Jan 2020 14:36 WIB
Jakarta -

Barangkali kita kerap lengah ketika meninggalkan sebuah tempat kongkow bersama kolega atau keluarga. Kelengahan itu adalah lupa memberi ulasan (review) atas tempat yang baru saja dikunjungi. Sementara secara algoritmik, Google terus berupaya menarik perhatian kita dengan bertanya "how was bla bla bla?" dan tak lupa pula diminta untuk memberi rating berupa bintang.

Apa yang terjadi secara mekanik itu boleh jadi karena sangking umumnya notifikasi yang berseliweran di gawai kita, sehingga tidak semua kemudian serta merta menggubrisnya sebagai sesuatu yang mengandung makna, meski hanya sekadar mengklik bintang tanpa komentar apa-apa. Padahal, sebuah review singkat bisa membawa dampak sosial yang justru bisa menyasar banyak sisi terutama proses inklusi dan eksklusi sosial sekaligus.

Untuk saat ini, keterlibatan setiap pengguna telepon pintar dalam ranah digital umumnya turut membentuk berbagai normalitas baru. Artinya, sebagai sesuatu yang baru, ia tak ubahnya bangunan stigma atas aktivisme di luar unsur digital (online). Sehingga muaranya ada semacam dorongan untuk online public engagement bagi siapapun. Sementara nalar yang demikian kentara sekali mengabaikan keragaman dimensi sosial di samping kenyataan bahwa selera dan kepentingan setiap orang pasti berbeda.

Inklusi Sosial

Sebuah inklusi sosial tentunya harapan ideal dari kehadiran ruang publik maya. Tetapi karena idealitasnya itu pula, bayangan atas ruang-ruang publik yang mengakomodasi keberagaman, kesetaraan, hingga aspek keadilan seakan langka untuk jumpai, untuk tidak mengatakan itu mustahil. Mengapa demikian? Jawabannya paling tidak mengacu pada normalitas baru itu sebagai sebuah ide.

Tidak dapat dipungkiri, sistem sosial yang bergerak di masyarakat kita cenderung mengkotak-kotakkan satu afiliasi dengan lainnya, satu pandangan dengan pandangan lainnya, hingga satu keyakinan dan selera dengan keyakinan dan selera lainnya yang berbeda. Di sinilah asal muasal subordinasi atas "yang lain" bisa terjadi. Algoritma tak terbantahkan telah bekerja sampai ke situ. Meski tentu tidak semudah itu mengabaikan anomali-anomali yang ada.

Dengan memberikan sebuah review atas tempat yang baru saja kita kunjungi, hal itu menandakan tidak saja kepedulian sosial kepada pihak lain, namun juga menghubungkan kita dengan banyak orang. Wujud kepedulian itu tampak dari kerelaan menyampaikan pengalaman dari sudut pandang pribadi, yang terbukti bagi pihak lain menjadi sebuah referensi. Sedangkan keterhubungan (connectivity) di sini juga berarti semakin terbuka peluang untuk mempermudah bertemunya satu dengan yang lain di tengah mobilitas yang kompleks.

Sebagai reviewer, orang lain bisa dengan mudah mengenali profile kita meski kadang hanya ulasan palsu, karena review umumnya akan terhubung langsung dengan Google Maps. Relasi sosial semacam ini, dalam aspek yang lain, yang justru kerap tidak disadari, turut membentuk kesadaran dan identitas sosial pengguna telepon pintar. Dan mesti diingat, Google dalam konteks ini, sebagai mesin data raksasa bukan hanya memediasi setiap pengguna untuk menunjukkan kesadaran sosialnya, melainkan juga berupaya untuk membuat sebuah ekosistem yang inklusif, dengan tetap membaca kecenderungan masyarakat melalui sebuah review.

Eksklusi Sosial

Lantas bagaimana review itu ikut mendorong proses eksklusi sosial?

Beberapa waktu lalu, guru besar sosiologi Prof. Heru Nugroho membacakan pidato Dies Natalis Fisipol UGM yang mengangkat tema soal subjek algoritmik. Sasaran kritik dari pidato itu adalah pada sikap-sikap insan akademik untuk tidak lengah terhadap segala hal yang berwujud inovasi teknologi. Sudah barang tentu, imajinasi sosiologis diperlukan untuk melihat pada ruang sosial yang lebih luas, dengan tidak membatasi pengamatan di kalangan cendekia. Artinya, sebagai pengguna telepon pintar, setiap orang memerlukan kesadaran digital untuk tetap mencermati lingkungan sekitarnya di mana idealitas timpang di banyak tempat.

Digitalisasi maupun otomatisasi dalam rupa sebuah review di mesin Google ternyata berwajah ganda. Ia turut mencipta inklusi dan eksklusi secara bersamaan. Meminjam Creswell (2006) dalam bukunya On the Move, politik mobilitas tengah berlangsung dari sebuah review di mesin pencarian raksasa itu berwujud pengalaman. Bagi Google, ulasan pengalaman sekaligus merupakan metode pengumpulan info mengenai aktivitas bisnis, serta untuk menjaga perhatian para pencari pada hasil pencarian lokalnya. Karena demikian, tak terelakkan lagi bahwa review sangat kental aroma kompetisi bisnisnya. Sementara kita, tetap selaku konsumen semata.

Ironisnya, dalam konteks ini sharing tidak lagi melulu berarti peduli. Karena, sebagaimana disampaikan Prof. Heru, kita adalah subjek algoritmik yang bekerja mengikuti apa yang dikehendaki perusahaan data sebesar Google. Alienasi baru pun tercipta tanpa banyak disadari dan dikenali. Keberadaan kolom review pada akhirnya membelah masyarakat berdasarkan pengalaman yang disukai dan tidak disukai yang bisa mengancam kohesi sosial pada satu sisi, serta luputnya kesadaran kritis terhadap kenyataan akan kesetaraan, keadilan, dan emansipasi di lain sisi.

Hamzah Fansuri dosen Universitas Krisnadwipayana; Departemen Riset PP Pemuda Muhammadiyah; deklarator Jaringan Intelektual Berkemajuan


Simak Video "Lagi! Kejagung Sita Mobil Hasil Korupsi Jiwasraya"

[Gambas:Video 20detik]

(mmu/mmu)