Jeda

Setiap Hari adalah Kesempatan Kedua

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 29 Des 2019 12:53 WIB
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Karena suatu peristiwa buruk yang tak bisa saya ceritakan di sini --katakan saja sebuah krisis yang menghempaskan pada titik terendah dalam hidup-- aku jadi mulai berpaling kembali dan menggali-nggali makna yang mungkin tersisa pada ungkapan bijak lama tentang "kesempatan kedua" sebagai penghiburan dan pegangan.

Orang bilang, atau mungkin kita sering mendengar orang mengatakan, kesempatan tidak datang dua kali. Sehingga, apa yang disebut sebagai "kesempatan kedua" biasanya terungkap dalam pengandaian-pengandaian yang mengandung janji. Seandainya aku punya kesempatan kedua, aku akan melakukan ini. Jika aku diberi kesempatan kedua, maka aku akan berbuat lebih baik lagi.

Ungkapan-ungkapan semacam itu terdengar bernada pasrah, seolah-olah kesempatan itu sesuatu yang diberikan oleh orang lain, datang dari luar diri kita, sehingga kita hanya bisa menunggu dan berandai-andai sambil membayangkan suatu keadaan ketika apa yang kita andaikan itu menjadi kenyataan. Jadi, apa sih sebenarnya kesempatan itu?

Kamu telah menyia-nyiakan kesempatan. Aku baru saja kehilangan kesempatan yang sangat berharga. Jangan sampai kesempatan itu berlalu begitu saja. Di hadapan kesempatan, kita seolah-olah tak berdaya; kesempatan layaknya sebuah kekuatan yang licin, mudah lepas, di luar kontrol diri kita, sehingga memerlukan antisipasi sepenuh tenaga dan jiwa-raga.

Ini dia kesempatan yang telah lama kutunggu-tunggu. Kesempatan itu akhirnya datang juga. Di sini, kesempatan seperti sesuatu yang datang dari jauh, tak terjangkau, dan lagi-lagi kita hanya bisa pasrah menunggu, mungkin sambil duduk-duduk terbosan-bosan mengunyah kuaci. Kesempatan menjadi tak ubahnya keberuntungan, datang secara tiba-tiba setelah sekian lama dinanti, menjadi kejutan dan mendatangkan letupan kebahagiaan.

Beri aku kesempatan. Kamu layak diberi kesempatan. Aku kasih kesempatan sekali lagi. Kali ini, kesempatan seperti sebuah bentuk penghargaan untuk suatu hasil penilaian atau kualitas tertentu. Ada semacam relasi kuasa, antara pemberi dan penerima atau peminta, penilai dan yang dinilai, hakim dan terdakwa. Kesempatan adalah hadiah sekaligus alat penguji, pengukur moral.

***

Pengalaman dan pesinggungan kita dengan kesempatan biasanya berkaitan dengan urusan-urusan "besar" mengenai percintaan, karier, rumah tangga, dan kesehatan. Kita putus cinta, patah hati, lalu merasa bersalah dan telah menyia-nyiakan kesempatan. Kita gagal dalam wawancara untuk mendapatkan pekerjaan yang kita idamkan, lalu menyesal, dan merasa telah kehilangan kesempatan yang sangat berharga. Kita selingkuh, mengacaukan segalanya, dan berharap diberi kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki diri.

Kita diagnosis oleh dokter mengidap penyakit berbahaya yang mematikan, diberi tahu bahwa kesempatan untuk sembuh "fifty-fifty", lalu kita berdoa sepenuh hati kepada Tuhan, meminta diberi kesembuhan, sambil berjanji, jika diberi kesempatan kedua, kita akan lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan mengabdikan seluruh sisa hidup hanya untuk kebaikan.

Karena Tuhan melihat kesungguhan kita, atau sebaliknya, sengaja hendak menguji kesungguhan kita, maka kita pun akhirnya sembuh. Kita terselamatkan dari penyakit. Saat itulah, kita merasa telah diberi kesempatan kedua. Dibukakan pintu baru, untuk menjalani hari-hari yang baru. Kita bersyukur, lebih rajin beribadah, berderma pada sesama, menjauhi berbagai gaya hidup yang dulu kita diakrabi dan berkontribusi terhadap datangnya penyakit yang nyaris merengut nyawa kemarin.

***

Tapi, benarkah apa yang disebut "kesempatan kedua" itu benar-benar ada? Hidup bisa berjalan mulus, penuh keberuntungan, dan setidak-tidaknya tampak selalu bahagia. Tapi, banyak di antara kita yang harus dihadapkan dengan kegagalan berkali-kali, kesalahan-kesalahan yang berulang yang membuat hidup kita berantakan, dan berbagai masalah yang datang silih berganti dan seolah tak habis-habis.

Kita terpuruk, jatuh, tergulung dalam gelombang kehidupan yang menghempas-hempaskan kita tanpa ampun. Kita bisa bangkit, dan berdiri tegak lagi, dan memulai segalanya dengan energi dan semangat baru untuk memperbaiki yang telah hancur. Tapi, kita juga bisa makin dalam terperosok, seolah menghadapi kebuntuan, dikepung dinding-dinding tebal, dan tak ada jalan untuk kembali.

Lalu, di mana kesempatan kedua itu? Mengapa kesempatan kedua tidak datang kepada siapa saja? Mengapa seseorang layak dihampiri oleh "malaikat" kesempatan kedua, dan yang lain tidak? Apa syaratnya? Apakah kesempatan kedua mendatangi orang-orang secara acak? Kita telah melakukan usaha yang sama kerasnya, memanjatkan doa yang sama khusyuknya, tapi mengapa hasilnya berbeda?

***

Suatu pagi, ketika sedang duduk di dalam bus TransJakarta dalam perjalanan menuju ke kantor, sambil memikirkan kembali berbagai pertanyaan mengenai bagaimana cara kesempatan dan kesempatan kedua bekerja dalam kehidupan ini, mendadak sekilas saya melihat sebuah tulisan di kaos yang dikenakan oleh seseorang yang tengah melintas di trotoar. Seolah seperti kebetulan dengan apa yang sedang saya pikirkan, tulisan di kaos itu terbaca: Everyday is a second chance.

Saya terhenyak. Untuk sekian lama saya tercenung. Benar juga. Mengapa harus "menunggu" gagal atau terpuruk oleh penyakit yang mengancam nyawa, untuk merasa beruntung dan terberkati, merasa menjadi orang-orang terpilih, terselamatkan, dan mendapat kesempatan kedua yang langka itu? Mengapa harus "mencari alasan" untuk lebih bersyukur --karena merasa hidup kita selalu lebih beruntung dibandingkan orang lain?

Mengapa selama ini seolah lupa atau mungkin memang tak terpikirkan hal sederhana ini: bahwa setiap hari adalah kesempatan kedua --untuk memperbaiki diri, berusaha lebih keras, lebih berbelas kasih, hidup lebih sehat, menepati janji, melupakan rencana yang tak perlu, menata rencana baru, mewujudkan mimpi?

Mengapa harus menunggu tahun baru untuk memulai hal-hal baru? Jika kita selalu ingat bahwa setiap hari adalah hari baru, maka kita punya jauh lebih banyak momen dan "alasan" untuk selalu memulai apa saja, membuat resolusi-resolusi, sekaligus terbentang kesempatan yang tak habis-habis untuk setiap usaha mewujudkannya. Karena setiap hari adalah kesempatan kedua. Selamat Tahun Baru 2020!

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)