Kolom

Anak Muda, Ruang Publik, dan Perjumpaan

Anggi Afriansyah - detikNews
Rabu, 11 Des 2019 11:15 WIB
Tempat nongkrong menjadi ruang bagi kalangan muda untuk mengaktualisasikan dirinya (Foto: istimewa)
Tempat nongkrong menjadi ruang bagi kalangan muda untuk mengaktualisasikan dirinya (Foto: istimewa)
Jakarta -
Di dekat sekolah anak saya terdapat begitu banyak tempat nongkrong bagi anak-anak muda. Sambil menunggu anak selesai bersekolah, saya menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor di salah satu tempat nongkrong tersebut. Makanan minuman yang variatif dan tidak terlalu mahal, tempat duduk nyaman, ruangan dingin, Wi-Fi kencang, dan dapat mengecas laptop membuat saya memilih tempat nongkrong tersebut.

Anak-anak pulang sekolah pada waktu tersebut, sehingga suasananya begitu ramai. Sambil makan dan menyeruput teh saya mengamati apa yang dikerjakan anak-anak sekolah yang ada di situ. Ada dua anak yang asyik mengobrol di meja samping saya duduk. Lelaki dan perempuan yang sepertinya sedang PDKT (pendekatan) kisaran kelas 11 SMA. Obrolannya seru mulai dari soal fotografi, pelajaran favorit, keseharian di sekolah, dan lain sebagainya. Uniknya, setelah lama mengobrol mereka kemudian membuka gawai masing-masing dan serius mengerjakan tugas.

Di sudut lainnya ada beberapa kelompok anak. Dari seragam yang digunakan, mereka adalah anak-anak SMP dan SMA. Mereka memesan makanan dan minuman, bicara macam-macam mulai dari K-Pop, gosip sekolah, gebetan yang mereka sasar dan obrolan random lainnya. Tak lama mereka membuka koran. Saya mendengar dengan jelas mereka mendapat tugas untuk menganalisis berita di koran. Di meja lain, anak-anak membuat maket dari sterofoam. Mereka memotong, menggunting, dan menempel dengan serius.

Fenomena tersebut tentu bukan hal yang baru dalam realitas masyarakat perkotaan. Beban tugas anak-anak yang bersekolah semakin berat. Mau tidak mau mereka harus memanfaatkan waktu yang ada secara bijak agar tugas-tugas tersebut selesai tepat waktu.

Hadirnya tempat-tempat nongkrong di perkotaan menjadi arena baru bagi anak-anak tersebut untuk mengerjakan beragam tugas sekolah. Mudah sekali ditemui anak-anak yang seharian nongkrong di kafe-kafe atau kedai kopi hanya untuk mengerjakan tugas. Mereka tentu harus merogoh lebih banyak uang. Tetapi itu setara dengan akses internet yang kencang dan tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.

Tentu saja anak-anak itu berasal dari kelompok kelas menengah perkotaan. Mereka memiliki kapital untuk mengakses beragam lokasi yang cozy di mana mereka bisa berkonsentrasi untuk belajar dan mengerjakan tugas. Jika dahulu biasanya hal tersebut hanya dilakukan oleh para mahasiswa, saat ini tidak sulit menemukan anak-anak SMP atau SMA mewarnai tempat-tempat nongkrong sebagai tempat "nugas".

Tempat nongkrong menjadi ruang bagi kalangan muda untuk mengaktualisasikan dirinya. Tidak hanya sok gaya-gayaan saja, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran. Belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja terimplementasi dengan baik di tempat-tempat nongkrong tersebut. Situasi yang berbeda dengan sekolah yang memiliki aura "memenjarakan" membuat anak-anak ini mengoptimalkan potensinya. Di tempat nongkrong, mereka bisa mengerjakan tugas sambil tertawa riang atau kadang sambil leyeh-leyeh ketika rasa penat menghampiri. Mereka merdeka mengerjakan tugas yang diberikan.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, akses terhadap tempat nongkrong yang nyaman ini hanya dapat dijangkau oleh anak-anak yang berasal dari kelas menengah atas. Pada situasi ini intervensi dari pemerintah sangatlah penting. Ruang publik yang nyaman sebagai working space harus dapat diakses oleh siapapun. Ruang publik tersebut, mengutip Gert Biesta (2012), adalah arena public pedagogy. Di ruang publik tersebut diciptakan kebersamaan antar beragam kelompok dan memungkinkan mereka untuk saling belajar.

Beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah memang semakin menaruh perhatian terhadap penciptaan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat. Namun memang working space yang ramah anak namun ekonomis masih sangat terbatas. Pembuatan working space ramah anak ini perlu dibuka sebanyak-banyaknya.

Arena tersebut harus dilengkapi dengan beragam infrastruktur penunjang seperti Wi-Fi gratis, arena jajanan murah meriah dan sehat, juga beragam fasilitas lainnya yang membuat belajar anak menjadi lebih nyaman. Apalagi anak-anak di wilayah perkotaan sudah dibebani begitu banyak tugas yang memerlukan akses internet yang memadai. Tidak semua orangtua mampu membiayai tagihan internet tersebut sehingga peran pemerintah sangatlah krusial.

Sangat memungkinkan membuat working space ini di setiap kelurahan atau desa. Ruang interaksi menjadi lebih terbuka dan terjadi alami. Siapa saja bisa masuk dan memanfaatkan fasilitas publik tersebut. Ruang publik sesungguhnya dapat menjadi pembelajaran bagi anak-anak untuk saling mengenal pihak yang berbeda. Semaraknya anak-anak muda mengunjungi tempat nongkrong sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk membuka kesempatan perjumpaan di kalangan anak-anak muda.

Di tempat nongkrong "premium dan berbayar", peluang perjumpaan substantif --di mana mereka dapat saling mengenal, berdialog, atau bertukar ide-- sangatlah minim karena mereka yang nongkrong sejak awal sudah mengelompok secara eksklusif menjadi beberapa sub-grup dan tidak mungkin intens bertemu.

Di working space "ekonomis" yang dibuat oleh kelurahan atau pemerintah desa harus dibuat beberapa program yang membuat anak-anak dapat saling mengenal dan bertegur sapa. Ruang publik perkotaan, mengutip Sven De Visscher dkk (2011), menjadi ruang untuk mengkonstruksi kehidupan sosial di mana anak-anak dapat belajar bersosialisasi dan menghadapi beragam perbedaan.

Yang perlu menjadi perhatian adalah proses menjaga working space yang sudah dibangun tersebut. Harus ada rasa kepemilikan dari setiap orang yang mengakses ruang publik ini sehingga kemanfaatannya dapat dirasakan bersama.

Anggi Afriansyah peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

(mmu/mmu)