Sentilan Iqbal Aji Daryono

Bahasa Lokal Sekarat di Tangan Bahasa Nasional

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 10 Des 2019 15:16 WIB
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

"Mas, pernah nggak sih kamu merasa malu pakai bahasa Jawa?"

Akhirnya, pertanyaan itu muncul juga. Muno, kawan saya yang juragan pempek itu, melontarkannya saat kami sarapan sambil menikmati udara Palembang yang liat, tiga pekan lalu.

Saya tertawa. Ini pertanyaan dengan jawaban yang bakalan agak kompleks. Namun, saya langsung bisa mengaitkannya dengan beberapa amatan yang saya lakukan selama beberapa bulan belakangan.

Ceritanya, saya sedang rajin berkeliling ke berbagai kota. Di tiap kota itu, selain mencicipi produk kuliner berikut segenap konsekuensi kolesterolnya, saya pun selalu tertarik mencicipi perilaku para warganya dalam berbahasa.

Maka, saat di Makassar, saya memang tidak paham bahasa Bugis selain kata mappamulasi, namun cukup diribetkan dengan kata ganti "kita" yang menunjuk "Anda", dan "sebentar" untuk mengatakan "nanti".

Di Batam, saya berjumpa dengan bahasa Melayu yang lebih dekat dengan celetukan-celetukan ala Malaysia alih-alih Riau. Mereka, misalnya, mengucapkan "kopi o" dan "teh o" untuk kopi hitam dan teh manis. Saya pertama kali mendengar istilah demikian di Malaka.

Di Bangka, saya jumpai adonan antara bahasa Melayu dengan beberapa istilah bahasa Cina Hokkian, juga bagaimana gaya penyebutan nama bulan mirip orang Aceh. "Bulan dua" alih-alih Februari, "bulan empat" alih-alih April.

Di Medan pinggiran, saya berjumpa dengan pasangan muda baik hati yang masih berbicara bahasa Batak dengan anak mereka, meski pasangan itu campuran Batak-Jawa.

Walaupun sekilas tampak normal, yang terakhir itu unik di mata saya. Sebab sudah lama saya merasakan ada pergeseran pola komunikasi yang serius di generasi saya ke bawah, dalam mempraktikkan bahasa-bahasa lokal. Dan ini tidak cuma terjadi di lingkungan saya.

***

Bahasa-bahasa lokal di Nusantara kian terkikis. Siapa yang mengikisnya? Bukan bahasa asing atau aseng, atau gempuran film Hollywood dan drama Korea. Bahasa-bahasa daerah beranjak punah dengan tersangka pelaku yang sering tidak kita sadari: bahasa Indonesia.

Saya sendiri penutur aktif bahasa Jawa. Saya masih berbicara total bahasa Jawa dengan kawan-kawan saya sesama orang Jawa. Saya berbicara bahasa Jawa pula saat nongkrong di kampung, bahkan saya pun menguasai bahasa Jawa tingkat tutur tinggi (krama inggil) untuk kebutuhan berbicara di forum-forum resmi kampung atau untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang lebih tua.

Namun, tanpa sungguh-sungguh saya sadari selama ini, bukan bahasa Jawa-lah yang dominan saya tuturkan saat berkomunikasi dengan anak-anak saya, dengan keponakan-keponakan saya, juga dengan kawan-kawan sebaya anak saya. Bahasa Jawa tetap muncul kadangkala, tapi porsi terbesar dari kata-kata yang saya ucapkan kepada mereka adalah kata-kata bahasa Indonesia.

Kenapa begitu? Apakah saya malu berbahasa Jawa, sebagaimana pertanyaan Muno di atas tadi? Atau, apakah saya malu jika anak-anak saya berbahasa Jawa?

Saya merenungkannya agak lama. Sepertinya saya tidak pernah berurusan dengan rasa malu jenis itu. Nama anak-anak saya sendiri saja sangat Jawa, dan itu pilihan sadar di tengah tekanan orangtua saya yang ingin memberikan nama Arab untuk cucu-cucu mereka. Soal pendidikan tata krama secara umum, sedikit banyak saya pun memasukkan etika kejawaan. Anehnya, dalam berbahasa, kenapa seolah secara refleks saya meninggalkan Jawa?

***

"Mas, pernah nggak sih kamu merasa malu pakai bahasa Jawa?"

Dengan tegas saya akan menjawab tidak. Namun saya bukan satu-satunya orang Jawa yang meninggalkan bahasa Jawa saat berkomunikasi dengan anak-anak saya. Ada jutaan manusia Jawa lainnya, dan saya menduga faktor malu itu pun ada.

Selebihnya, pelan-pelan kita akan menemukan beragam penyebab lain. Bukan hanya yang menimpa bahasa Jawa, tentu saja, namun juga bahasa-bahasa lokal lainnya.

Perkawinan campuran antar-etnis bisa dilihat sebagai salah satu sebab utama. Pergaulan kita semakin cair, masyarakat kita semakin urban, dan interaksi-interaksi sosial kita semakin kosmopolit. Dua atau tiga dasawarsa silam, persentuhan antarmanusia di lingkungan kita masih sangat homogen. Hasilnya, orang menikah dengan tetangga sebelah rumah, atau maksimal beda kecamatan.

Kemudian, seiring naiknya tingkat pendidikan, para pemuda bersekolah atau bekerja ke kota, kuliah di universitas luar kota atau bahkan luar pulau, dan perjumpaan-perjumpaan antarbudaya (yang sering berujung pada kesepakatan-kesepakatan asmara) pun terjadi. Muncullah pasangan-pasangan campuran beda etnis.

Hasilnya, anak-anak hasil perkawinan campur etnis tadi tidak bisa didominasi oleh ayahnya saja atau ibunya saja. Bahkan karena sejak awal komunikasi antara suami dan istri di keluarga itu tak bisa dikuasai oleh salah satu di antara dua bahasa daerah saja, digunakanlah solusi manjur yang membuat para founding fathers bangga: bahasa Indonesia. Tak ayal, anak-anak mereka pun menjadi native bahasa Indonesia.

Pergaulan yang kian kosmopolit bukan cuma berimbas kepada pasangan-pasangan kawin campur etnis. Sebab dalam rumah tangga kawin campur beda kabupaten (ehem, semacam saya) pun akibat itu muncul. Saya dan istri memang saling berkomunikasi dengan bahasa Jawa, namanya juga sesama Jawa. Namun, anak saya berinteraksi dengan teman-teman di sekolah dan di mana-mana yang bukan melulu orang Jawa. Di sinilah kunci persoalannya.

Sekarang ini, rasanya agak mustahil seorang anak yang tinggal dan bersekolah di daerah urban menjadikan bahasa Indonesia sekadar sebagai bahasa kedua, setelah bahasa ibu. Bahasa utama yang dia pakai setiap saat untuk berinteraksi dengan kawan-kawannya adalah bahasa Indonesia.

Ini terbawa hingga ke rumah. Para orangtua pun mengondisikan cara berkomunikasi dengan kebutuhan lazim anak-anak di luar rumah. Ujungnya, bahasa lokal pelan-pelan jadi asing, dan tinggal sebagai mata pelajaran sekolah belaka.

Sementara itu, batas antara yang urban dan yang pedesaan rasanya semakin kabur. Keluarga-keluarga di kampung, yang sebenarnya masih minim persentuhan dengan masyarakat yang heterogen, kian disuguhi referensi gaya berkomunikasi masyarakat urban. Maka, seolah-olah muncullah strata: yang urban itu lebih keren, yang keren-keren itu berbahasa Indonesia, dan yang kampung(an) terus berbahasa lokal sesuai daerahnya. Jadilah sebagian orang mulai malu berbahasa lokal.

Pola seperti itu yang saya bayangkan telah dan sedang terjadi. Dan ratusan bahasa lokal di Nusantara pun jatuh sekarat, tanpa ada yang benar-benar peduli.

***

Sebagian di antara pemerhati bahasa resah dengan ancaman imperialisme bahasa Inggris, yang konon mengacak-acak bahasa Indonesia. Namun ternyata, selama ini telah berjalan dengan diam-diam tapi dahsyat dan mengerikan: imperialisme bahasa Indonesia atas bahasa-bahasa daerah.

Dalam menghadapi apa yang disebut-sebut sebagai imperialisme bahasa Inggris atas bahasa Indonesia, masih ada infrastruktur pertahanannya. Ada organisasi birokrasi yang berlapis-lapis, ada sistem pendidikan dan sekolah-sekolahnya, dan ada media massa. Semuanya masih sangat mungkin digunakan, dan saya yakin bahasa Indonesia akan tetap baik-baik saja untuk jangka waktu yang masih sangat lama.

Tapi, bagaimana dengan bahasa-bahasa daerah? Apa yang bisa dilakukan? Seberapa kuat dan efektif langkah-langkah struktural yang dapat dijalankan untuk aksi penyelamatan? Ingat, musuh bahasa daerah bukan anasir asing yang bisa dihadapi dengan "nasionalisme bahasa". Musuh bahasa daerah justru wujud paling konkret dari nasionalisme bahasa itu sendiri!

Bukan mustahil, dua atau tiga dasawarsa ke depan kita sudah sangat sulit menjumpai orang-orang yang menuturkan bahasa lokal. Lalu banyak orang menangisi kematian bahasa-bahasa itu, meratap-ratap di tepi kuburan mereka, sambil sesekali membisikkan kalimat doa.

Iqbal Aji Daryono penulis buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira

(mmu/mmu)