Jelajahi Nusantara, Menghemat Devisa

Kolom

Jelajahi Nusantara, Menghemat Devisa

Myra Gunawan - detikNews
Selasa, 03 Des 2019 15:02 WIB
Pulau Kanawa, Flores (Foto: Ahmad Masaul Khoiri)
Pulau Kanawa, Flores (Foto: Ahmad Masaul Khoiri)
Jakarta -

Target pembangunan kepariwisataan dalam RPJMN bukan lagi jumlah wisatawan seperti tahun-tahun sebelumnya. Target utama sekarang adalah nilai tambah dan devisa. Di samping mengatasi masalah klasik SDM, perlu mengatasi masalah strategis lain, yakni pariwisata hijau atau berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi.

Pariwisata bukan lagi industri berbasis sumber daya, namun makin jelas menjadi industri berbasis pengetahuan dan teknologi. Indonesia dengan sumber daya yang luar biasa terbukti masih kalah dari beberapa negara tetangga, karena ketinggalan dalam inovasi penciptaan produk dalam rangka penciptaan nilai tambah.

Berbeda dengan produk industri, produk pariwisata adalah pengalaman yang diperoleh wisatawan saat berwisata. Kualitas pengalaman tergantung dari kualitas sumber daya dan kemampuan destinasi menciptakan nilai tambah yang akan menjadi bagian dari pengalaman wisatawan melalui penampilan yang asri, penyampaian materi atau informasi yang menarik maupun cara penyampaiannya. Wisatawan bisa tidak membawa pulang cendera mata secara fisik, tetapi membawa kenangan indah atau kenangan penuh makna.

Mari, sementara kita lupakan saja target wisman yang belum kunjung tercapai, sambil berikhtiar memperbaiki neraca devisa dari sektor pariwisata.

Akhir tahun merupakan waktu emas bagi semua destinasi untuk menjadi tuan rumah para wisatawan dari berbagai penjuru. Pasti banyak warga Indonesia yang sudah berencana untuk berwisata ke dalam maupun ke luar negeri. Orang Indonesia menjadi harapan banyak negara tetangga maupun negara yang jauh sekalipun. Perkembangan ekonomi dan kelas menengahnya sangat getol berwisata; apalagi beberapa bank bekerja sama dengan biro perjalanan menawarkan kredit untuk melakukan wisata, ke luar negeri pula.

Sebetulnya itu sama juga dengan berutang untuk berwisata, termasuk ke luar negeri. Lucu, karena umumnya berwisata --Undang-Undang Kepariwisataan sudah menyebut sebagai bagian dari kebutuhan dasar manusia-- dilakukan setelah pemenuhan kebutuhan dasar akan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan.

Sadarkah kita bahwa berwisata selain memberi kesenangan untuk pelakunya, juga memberikan kontribusi ekonomi bagi negara yang kita kunjungi, melalui konsumsi berbagai barang dan jasa selama perjalanan wisata tersebut? Juga, menciptakan lapangan pekerjaan di lokasi tujuan maupun lokasi lain yang terkait dengan segala produk barang atau jasa yang kita konsumsi.

Kalau kita konsumsi produk wisata itu kita lakukan di dalam negeri, dampaknya akan kembali ke Indonesia.

Dalam kaitan membantu kondisi perekonomian nasional, mari kita serukan agar warga Indonesia memprioritaskan berwisata di dalam negeri dan menjadi "penghemat devisa", serta ikut menggerakkan ekonomi nasional.

Dalam penilaian WEF (World Economic Forum), Global Competitiveness Index daya saing Indonesia berada di posisi 50, di bawah Malaysia dan Thailand. Hal ini salah satunya terkait posisi kita kurang bagus dalam pasar tenaga kerja dan kesesuaian produk wisata. Sebaliknya, posisi bagus Indonesia justru pada pasar wisata domestik yang besar.

Dalam hal pariwisata, Indonesia bukan hanya memiliki Bali, tetapi juga 33 provinsi lain dengan masing-masing daya tarik tersendiri. Sepuluh di antaranya dijadikan prioritas untuk dikembangkan menjadi destinasi berkelas seperti Bali, dari barat ke timur: Danau Toba, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Tanjung Kelayang, Borobudur, Bromo- Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, Morotai. Dan, lima di antaranya menjadi superprioritas dengan pembangunan infrastruktur dan program besar untuk segera menjadikannya destinasi berkelas : Toba, Borobudur-Yogya-Prambanan, Lombok/Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

Bagi warga Indonesia yang akan berwisata, pertanyaannya, sudahkah Anda mengunjungi destinasi tersebut di atas, atau destinasi lain di Indonesia yang sudah terkenal di mancanegara dari Sabang dan Nias sampai ke Ambon, Ternate atau Raja Ampat?

Kalau Anda memilih salah satu destinasi di dalam negeri ketimbang ke luar negeri, berarti Anda sudah ikut menghemat devisa yang sedang susah payah kita cari.

Mari kita ingat peristiwa 1998 saat krisis nasional, salah satu sektor yang terpuruk adalah pariwisata. Kunjungan wisman menurun drastis dan butuh waktu cukup lama untuk kembali ke posisi 1997, yang disebut puncak (kunjungan wisman sebelum 1998). Penyelamat industri pariwisata nasional saat itu yaitu wisnus, wisatawan Indonesia yang berwisata di Indonesia.

Penurunan nilai tukar rupiah dan kebutuhan berwisata yang tak terbendung oleh krisis ekonomi telah mendorong wisatawan Indonesia untuk memilih destinasi di dalam negeri yang jumlahnya tak terhitung banyaknya. Alhasil, industri pariwisata Indonesia, termasuk Bali terselamatkan oleh arus wisnus ini.

Mari kita lakukan hal tersebut, agar neraca perekonomian Indonesia membaik.

Tanpa mengurangi hak masyarakat Indonesia dalam memilih destinasi wisata akhir tahunnya, kita dapat berpikir untuk ikut membantu peningkatan kinerja ekonomi dengan menukar pilihan wisata dari destinasi luar negeri menjadi kunjungan wisata ke dalam negeri.

Saya yakin tidak banyak orang Indonesia yang sudah berkunjung ke lima atau sepuluh destinasi prioritas di atas, apalagi ke 34 provinsi.

Buat rencana untuk menjejakkan kaki Anda di 34 provinsi di Indonesia, untuk mengatakan bahwa kita orang Indonesia yang mengenal Nusantara. Kalau sekarang Anda berusia 20 tahun dan mulai setiap hari mengunjungi satu pulau di Indonesia, tanpa libur, nanti pada usia menjelang 70 tahun Anda baru tamat menyelesaikan kunjungan ke 30 provinsi Indonesia!

Ayo tamasya, jelajahi Nusantara, dan menjadi penghemat devisa!

Myra P. Gunawan pendiri Pusat Penelitian Kepariwisataan Institut Teknologi Bandung, staf Ahli & Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 2000-2004

(mmu/mmu)