Inovasi Tes HIV

Kolom

Inovasi Tes HIV

FX. Wikan Indrarto - detikNews
Senin, 02 Des 2019 15:07 WIB
Kampanye tes HIV di Jakarta Utara (Foto: AN Uyung Pramudiardja/detikHealth)
Kampanye tes HIV di Jakarta Utara (Foto: AN Uyung Pramudiardja/detikHealth)
Jakarta - Pada 27 November lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi baru untuk membantu semua negara dalam menjangkau 8,1 juta orang yang hidup dengan HIV tetapi belum didiagnosis. Tujuannya adalah agar mereka segera dapat memperoleh perawatan yang mampu menyelamatkan hidup mereka.

"Epidemi HIV telah berubah secara dramatis selama dekade terakhir," kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus. Hal ini karena sudah ada semakin banyak orang yang menerima pengobatan ARV daripada sebelumnya.

Namun demikian, sebenarnya masih terlalu banyak orang yang belum mendapatkan bantuan ARV yang mereka butuhkan, karena mereka belum didiagnosis. Untuk itu, Pedoman tes HIV baru (WHO's new HIV testing guidelines) bertujuan untuk secara dramatis mengubahnya.

Tes HIV adalah kunci untuk memastikan agar setiap orang dapat didiagnosis secara dini dan memulai pengobatan ARV. Layanan tes yang lengkap dan baik seharusnya juga memastikan bahwa orang yang pada tes HIV hasilnya negatif tetap terhubung dengan layanan pencegahan yang tepat dan efektif. Ini akan membantu mengurangi 1,7 juta infeksi HIV baru yang terjadi setiap tahun.

Layanan tes seperti termuat dalam pedoman WHO yang baru tersebut dirilis pada Hari AIDS Sedunia, Minggu, 1 Desember 2019, saat Konferensi Internasional tentang AIDS dan Infeksi Menular Seksual di Afrika (ICASA) 2019 yang berlangsung di Kigali, Rwanda.

Data pada Indonesia AIDS Coalition (IAC) pada 15 September 2019 menunjukkan bahwa cakupan pengobatan ARV untuk AIDS di Indonesia baru 17 persen. Angka tersebut menjadi yang terburuk di Asia Pasifik, bahkan dunia. Hanya 140.000 orang dengan HIV dalam pengobatan ARV. Artinya, ada 500.000 lainnya belum menerima pengobatan, bahkan masih belum mengetahui dirinya terinfeksi HIV.

One Step device HIV test ini adalah tes mandiri yang dapat digunakan di Indonesia sebagai screening awal. Jika hasilnya positif, bukan berarti pasti terinfeksi HIV, melainkan menyatakan bahwa tes tambahan di laboratorium harus dilakukan untuk memastikan hasil. Begitu pula dengan hasil negatif, dengan tes ini tidak berarti bahwa pasti tidak terinfeksi HIV, terutama pada orang dengan perilaku berisiko dalam waktu 3 bulan sebelumnya. Lakukan pengulangan tes 3 bulan setelah perilaku berisiko dan secara teratur, apabila perilakunya belum dapat dikoreksi.

WHO merekomendasikan agar semua negara menggunakan tes mandiri atau swa uji HIV untuk diagnosis, berdasarkan bukti baru bahwa orang yang berisiko lebih tinggi terhadap HIV dan tidak melakukan tes lebih mungkin bersedia untuk diuji jika mereka dapat mengakses swa uji HIV.

Selain itu, WHO juga merekomendasikan tes HIV berbasis jejaring sosial untuk menjangkau populasi kunci yang berisiko tinggi tetapi memiliki lebih sedikit akses ke layanan. Ini termasuk pria yang melakukan hubungan seks dengan pria, orang yang menyuntikkan narkoba, pekerja seks, populasi transgender, dan orang-orang di penjara. "Populasi kunci" ini dan pasangannya mencakup lebih dari 50% infeksi HIV baru.

Pada swa uji yang melibatkan jejaring sosial dari 143 orang HIV-positif di Republik Demokratik Kongo, 48% dinyatakan positif HIV.

Penggunaan alat komunikasi digital inovatif yang dibantu oleh rekan kerja, misalnya menggunakan pesan singkat dan video, terbukti dapat menyebabkan adanya permintaan dan bahkan peningkatan pengambilan alat tes HIV. Bukti dari Vietnam menunjukkan bahwa petugas layanan online memberi konseling kepada sekitar 6.500 orang dari kelompok populasi kunci yang berisiko, di mana 80% dirujuk untuk tes HIV dan 95% mampu melakukan tes. Mayoritas (75%) orang yang menerima konseling online belum pernah mengetahui layanan konselor sebaya penjangkauan HIV.

WHO merekomendasikan tes cepat oleh petugas dan relawan awam untuk negara-negara di kawasan Eropa Timur, Asia Tenggara, Pasifik Barat, dan Mediterania di mana metode berbasis laboratorium yang disebut "western blotting" dan sudah lama, tetap masih digunakan. Bukti dari Kirgistan menunjukkan bahwa diagnosis HIV yang memakan waktu 4-6 minggu dengan metode western blotting sekarang hanya memakan waktu 1-2 minggu dan jauh lebih terjangkau akibat perubahan kebijakan.

Penggunaan tes cepat ganda HIV dan sifilis dalam pemeriksaan kehamilan atau perawatan antenatal (ANC) adalah tes HIV pertama yang dapat membantu semua negara menghilangkan penularan infeksi dari ibu ke anak. Langkah ini dapat membantu menutup celah pengujian dan perawatan dan memerangi penyebab utama kedua terjadinya lahir mati (stillbirths) secara global. Pendekatan yang lebih terintegrasi untuk tes HIV, sifilis dan hepatitis B juga dianjurkan.

"Menyelamatkan nyawa orang dari HIV dimulai dengan tes," kata Ketua Tim WHO Testing, Prevention and HIV Populations Dr. Rachel Baggaley. "Rekomendasi baru ini dapat membantu negara untuk mempercepat kemajuan mereka dan merespons secara lebih efektif terhadap perubahan sifat epidemi HIV mereka."

Pada akhir 2018, ada 36,7 juta orang dengan HIV di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 79% telah didiagnosis, 62% sedang dalam pengobatan, dan 53% telah mengurangi tingkat HIV mereka melalui pengobatan berkelanjutan ke titik di mana mereka telah secara substansial mengurangi risiko penularan HIV.

Momentum Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2019 mengingatkan akan tes cepat diagnosis HIV secara mandiri, baru, dan inovatif. Tes ini ditujukan agar lebih banyak orang dapat memperoleh perawatan melawan HIV/AIDS yang mampu menyelamatkan hidup mereka.

FX. Wikan Indrarto dokter di RS Panti Rapih Yogyakarta, lektor FK UKDW

(mmu/mmu)