detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 20 November 2019, 11:47 WIB

Kolom

Transisi Demografi dan Gaya Hidup Tak Sehat

Dedy Susanto - detikNews
Transisi Demografi dan Gaya Hidup Tak Sehat Hanya tiga dari sepuluh orang di Indonesia yang aktif meluangkan waktu berolahraga per minggunya (Foto: shutterstocks)
Jakarta -
Saat ini transisi demografi mulai memasuki transisi kelima. Transisi demografi dimulai dari angka fertilitas dan mortalitas tinggi, lalu dilanjutkan menurunnya tingkat mortalitas, dan disusul dengan tingkat fertilitas yang juga merosot. Tetapi, berangsur-angsur tingkat kelahiran semakin jatuh kemudian angka kematian meningkat dengan membalikkan keadaan. Angka kematian lebih tinggi dibandingkan angka kelahiran melahirkan minusnya pertumbuhan populasi penduduk. Inilah yang disebut dengan transisi demografi ke-5.

Meningkatnya angka kematian di era milenial ini disebabkan oleh penyakit degeneratif yang tak menular. Penyakit jenis ini timbul akibat dari gaya hidup modern yang tidak sehat seperti malas bergerak dan berolahraga, merokok, serta pola makan yang buruk. WHO menyebutkan penyakit degeneratif seperti jantung dan stroke merupakan penyakit yang membunuh hingga 15,2 juta juta jiwa pada 2016. Penyakit ini pun bertahan hingga 15 tahun sebagai penyebab kematian terbanyak bagi penduduk di dunia.

Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang malas bergerak. Secara subjektif kita dapat perhatikan, orang-orang pergi ke warung yang tidak ada 250 meter saja kadang naik kendaraan bermotor. Mereka cenderung malas untuk berjalan kaki. Bergerak saja malas, apalagi berolahraga. BPS mencatat hanya tiga dari sepuluh orang di Indonesia yang aktif meluangkan waktu berolahraga per minggunya. Itu artinya, selama 2018 hanya berkisar 30-an persen yang aktif berolahraga.

Pola aktivitas negatif lain penyumbang penyakit degeneratif adalah merokok. Rokok ikut sumbangsih risiko penyakit jantung koroner, penyakit pernapasan, kanker, stroke serta segala penyakit lain yang tegas tertulis di segala bungkus rokok dengan merek apapun. Walaupun begitu sebagian masyarakat Indonesia masih hobi mengikutsertakan rokok dalam aktivitas sehari-harinya. BPS juga mencatat konsumsi rokok di Indonesia berkategori tinggi. Pada 2018 tercatat persentase perokok aktif usia lima tahun ke atas mencapai 23,48 persen dengan rata-rata konsumsi hingga 78-79 batang rokok per minggu.

Ditambah, rokok memiliki efek langsung dan tak langsung pada kesehatan keluarga. Efek langsung, perokok aktif di dalam suatu keluarga akan mengurangi kualitas udara dan kesehatan pernafasan bagi para perokok pasif seperti balita dan anak-anak. Perokok pasif juga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit pernapasan dibandingkan para perokok aktif bila terpapar asap rokok dalam periode yang lama.

Sedangkan efek tak langsung pada kesehatan terlihat pada total pengeluaran konsumsi rumah tangga di Indonesia terbanyak kedua disisihkan untuk membeli rokok (setelah beras). Pola ini selalu tercatat dua kali di tiap tahunnya pada hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) BPS. Di mana efek pada kesehatannya? Porsi pengeluaran konsumsi keluarga yang terlalu tinggi pada rokok akan menghilangkan peluang pengeluaran konsumsi makanan lain yang lebih esensial bagi kesehatan keluarga. Porsi pembelian telur, daging, sayur, dan makanan dengan gizi tinggi lain akan berkurang. Hal ini akan mengurangi tingkat kesehatan masyarakat.

Terakhir penyakit degeneratif disebabkan oleh pola makan masyarakat yang salah. Budaya masyarakat di negara ini yang menganggap bukan makan kalau tidak pakai nasi dalam tiga kali sehari merupakan pola makan yang sebetulnya tidak sehat apabila tidak diimbangi dengan aktivitas yang memadai. Nasi merupakan sumber kalori tinggi. Konsumsi nasi terlalu banyak tanpa diimbangi aktivitas gerakan dan olahraga yang memadai akan menyebabkan kelebihan kalori. Kelebihan energi tersebut akan dikonversi dalam bentuk lemak di dalam tubuh. Mungkin ini merupakan salah satu penyebab Kementerian Kesehatan mencetuskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kasus obesitas tertinggi ke-10 dunia.

Lalu konsumsi serat buah dan sayur orang Indonesia termasuk rendah. WHO menyebutkan rata-rata konsumsi sayur dan buah orang Indonesia berkisar 34,55 kg per tahun. Padahal, menurut FAO tubuh yang sehat merupakan tubuh yang mengonsumsi sayur dan buah setidaknya 73 kg per tahun. Data ini didukung oleh Kementerian Kesehatan dalam data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, yang menyebutkan 93,6 persen masyarakat Indonesia masuk pada kategori kurang makan sayur dan buah.

Sebagai tambahan informasi, penyakit degeneratif seperti jantung, stroke, dan kanker merupakan tiga penyakit yang paling banyak memakan biaya kesehatan dari BPJS Kesehatan, yakni mencapai Rp 12,3 triliun. Share pembiayaan kesehatannya kira-kira mencapai 80-an persen dari seluruh total pembiayaan kesehatan per Agustus 2019 (detikHealth, 7/10). Dengan begitu, mayoritas pembiayaan kesehatan BPJS bukanlah penyakit dari bakteri berbahaya maupun virus mematikan. Justru mayoritas pembiayaan disebabkan kepada penyakit yang diakibatkan dari ulah manusia itu sendiri, yakni pola aktivitas dan makanan masyarakat yang tidak sehat.

Untuk itu, saya pribadi berpendapat, sungguh tak elok apabila kita memprotes keras akan kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Itu karena secara tak langsung kenaikan iuran BPJS Kesehatan merupakan imbas dari pola hidup tak sehat dari masyarakat sendiri.

Dedy Susanto, SST staf Seksi Statistik Ketahanan Sosial BPS Provinsi Papua


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com