detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 14 November 2019, 15:47 WIB

Analisis Zuhairi Misrawi

Air Mata Gaza yang Tak Pernah Kering

Zuhairi Misrawi - detikNews
Air Mata Gaza yang Tak Pernah Kering Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Israel dalam seminggu terakhir meluncurkan rudal-rudalnya di Jalur Gaza yang menyebabkan pimpinan Jihad al-Islami, Bahaa Abu al-Atta dan keluarganya meninggal dunia dalam sebuah serangan mematikan. Selain itu, Khaled Mawod, salah satu pimpinan Jihad al-Islami juga dikabarkan menjadi salah satu korban serangan rudal Israel. Hingga saat ini sudah tercatat 34 orang warga Gaza yang meninggal dunia.

Pihak Israel berdalih bahwa serangan ke Gaza yang membabi-buta itu terkait dengan serangan yang dilakukan oleh Jihad al-Islami ke Israel seminggu yang lalu. Setidaknya ada 63 warga Israel yang terluka dan mendapatkan penanganan khusus. Kabar ini masih belum terkonfirmasi kebenarannya, dan hanya klaim sepihak Israel belaka.

Gaza menjadi kisah penderitaan yang tidak pernah terhenti. Warganya hidup dalam ketidakpastian, dan ancaman rudal yang setiap saat bisa berjatuhan ke tempat tinggal mereka. Israel kapan saja bisa mengirimkan rudal, baik karena alasan serangan balasan atau karena tanpa alasan.

Ironisnya, di saat Israel sedang menghadapi masalah politik dalam negeri yang tidak kunjung menemukan titik-temu, justru Gaza selalu menjadi sasaran empuk dari rezim yang berkuasa di Israel untuk memantik simpati dari publik. Menyerang Gaza adalah senjata ampuh untuk mendapatkan dukungan publik, karena kuatnya politik identitas di Israel. Apalagi setelah amandemen konstitusi yang terakhir, yang disepakati agar Israel menjadi negara bagi orang-orang Yahudi.

Langkah yang diambil Netanyahu dalam dua hari terakhir ini pada hakikatnya ingin mengumpulkan pundi-pundi dukungan. Netanyahu dan koalisinya gagal mendapatkan dukungan mayoritas di parlemen, sehingga ia harus melobi beberapa partai oposisi untuk bergabung dalam rangka membentuk pemerintahan baru. Rayuan Netanyahu tidak mudah dipenuhi, karena saat ini Netanyahu terlibat dalam dua kasus korupsi yang dapat menjadikan dirinya dalam masalah hukum serius. Jika Netanyahu gagal membentuk pemerintahan baru, maka kesempatan akan diberikan kepada pihak oposisi untuk membentuk pemerintahan baru.

Membunuh Pimpinan Jihad al-Islami merupakan langkah taktis bagi Netanyahu untuk mendapatkan dukungan dari lawan-lawan politiknya. Ia serius mengambil langkah yang sekalipun menjadi kemunduran bagi perbincangan dialog dan perdamaian dengan Palestina. Netanyahu ingin mengambil hati lawan-lawan politiknya, bahwa ia tidak akan berdamai dengan faksi-faksi yang selama ini tidak mengakui Israel, seperti Hamas dan Jihad al-Islami.

Namun langkah tersebut bukan tanpa konsekuensi. Netanyahu semakin tidak populer di dunia internasional, karena langkahnya dianggap memberikan panggung bagi kelompok-kelompok perlawanan di Palestina untuk mengonsolidasikan diri. Langkah Israel membunuh pimpinan Jihad al-Islami bisa dikatakan sedang membangunkan macan tidur.

Faksi-faksi anti-Israel di Gaza sudah pasti akan mengambil langkah-langkah yang akan memperkeruh situasi keamanan di Israel. Bahaa Abu al-Atta adalah tokoh sentral dan simbol dari perlawanan terhadap Israel. Karenanya Jihad al-Islami pasti tidak akan berdiam diri. Mereka dikabarkan terus melancarkan serangan ke Israel. Kematian pimpinan tertinggi harus dibayar dengan perlawanan yang setimpal.

Pada titik ini, situasinya semakin mencekam dan tidak menentu. Pola saling serang antara Israel dan Gaza akan berdampak bagi jatuhnya korban dalam jumlah yang lebih besar. Kondisi Gaza yang terus menderita akibat blokade, konflik internal, dan serangan Israel yang sewaktu-waktu bisa saja datang, telah menyebabkan Gaza semakin menderita. Air mata warga Gaza tidak pernah kering, karena mereka harus menelan pil pahit dari benang kusut politik yang terjadi, baik antara faksi-faksi politik di Palestina maupun masalah pelik yang terjadi dengan Israel.

Tukar-menukar rudal sama sekali tidak menguntungkan warga Gaza, karena rudal-rudal Israel sangat mengerikan. Ironisnya, hingga saat ini tidak ada sanksi internasional terhadap kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel. Akibatnya, Israel seenaknya mengirimkan rudal yang membabi-buta, bisa membunuh siapapun yang menjadi sasaran dari rudal.

Langkah yang diambil Netanyahu dengan melakukan pembalasan yang sporadis sebenarnya tidak hanya menarget pimpinan Jihad al-Islami, melainkan hendak memberi pesan yang terang benderang bagi faksi-faksi politik di Israel. Kelompok-kelompok yang selama ini tidak mengakui eksistensi Israel di Jalur Gaza akan menjadi target yang serius. Tidak ada ampun sama sekali bagi mereka yang hendak menebarkan ancaman bagi kedaulatan Israel.

Namun satu hal yang tidak pernah dipikirkan Netanyahu, bahwa isu serangan membabi-buta ke Jalur Gaza bukan hanya isu domestik belaka, melainkan isu yang mempunyai jangkauan luas sekali, termasuk juga dampaknya. Langkah Netanyahu tersebut dapat membangunkan sel-sel teroris yang selama ini menjadikan isu Palestina sebagai salah satu isu sentral.

Misalnya bom bunuh diri di Medan baru-baru ini tidak bisa hanya dianalisis sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Aksi bom bunuh diri itu dari segi momentum bersamaan dengan aksi membabi buta Israel ke Jalur Gaza. Hampir semua media menjadikan serangan Israel ke Gaza sebagai isu utama yang menyebabkan kelompok-kelompok teroris mendapatkan asupan ideologis untuk melakukan aksi brutalnya.

Maka dari itu, isu Palestina merupakan masalah serius yang harus dipecahkan dengan serius pula. Langkah yang diambil Israel dalam menyerang Gaza hanya ingin sekadar memenuhi ambisi politik dalam negeri sangat merugikan dunia internasional, karena dampaknya dapat menghidupkan sel-sel teroris. Netanyahu mestinya mempunyai pandangan yang jauh lebih jauh untuk menjaga perdamaian dunia.

Saat ini sudah tercapai gencatan senjata antara Israel dan Jihad al-Islami yang dimediasi oleh Mesir. Langkah ini dalam beberapa hari ke depan akan menjadi solusi yang baik dari normalisasi keamanan di Gaza. Meskipun pada akhirnya selalu menyisakan ketidakpastian perihal blokade, rekonsiliasi internal, dan penderitaan yang tidak berujung bagi warga Gaza.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com