detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 13 November 2019, 16:02 WIB

Kolom

Menyambut Pemimpin Milenial

M Samsul Arifin - detikNews
Menyambut Pemimpin Milenial Risa Santosa menjadi rektor termuda di usia 27 tahun (Foto: Muhammad Aminudin)
Jakarta -

Generasi baru dengan cara pandang dan perilaku berbeda dari generasi sebelumnya mulai dipercaya menjadi pemimpin. Ia adalah generasi milenial, lahir antara Januari 1977 dan Desember 1997.

Risa Santoso (27 tahun), misalnya, membuat sejarah baru Indonesia. Ia mencatatkan diri sebagai rektor termuda di Indonesia, dengan menjadi Rektor Institut Teknologi Bisnis Asia Malang. Sosoknya pun menjadi viral di media sosial.

Usut punya usut, generasi milenial yang menjadi rektor di sebuah universitas bukan kali ini saja. Sebelumnya, misalnya, ada Riki Saputra (36 tahun), Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat periode 2019-2023.

Presiden Joko Widodo juga telah menunjuk salah satu generasi milenial ini menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Siapa lagi kalau bukan Nadiem Makarim (35 tahun). Ia mencatatkan diri sebagai menteri termuda di Indonesia.

Generasi ini juga mendapatkan amanah sebagai Kepala dan Wakil Kepala Daerah. Muhammad Nur Arifin (28 tahun), misalnya, menjadi Bupati Trenggalek, Jawa Timur periode 2019-2024. Ia pun tercatat sebagai bupati termuda di Indonesia.

Sementara itu, Emil Dardak (35 tahun) adalah Wakil Gubernur Jawa Timur termuda. Ia lebih muda dibanding tiga Wakil Gubernur dari tiga provinsi lainnya yang terpilih pada Pilkada Serentak 2018 lalu, meski sama-sama masuk usia milenial. Mereka adalah Chusnunia Chalim (37 tahun) dari Provinsi Lampung, Andi Sudirman Sulaiman (36 tahun) dari Sulawesi Selatan, dan Taj Yasin (36 tahun) dari Jawa Tengah.

Kursi DPR periode 2019-2024 juga diwarnai generasi milenial. Mereka adalah Hillary Brigitta Lasut (23 tahun) dari Partai NasDem, Muhammad Rahul (23 tahun) dari Partai Gerindra, Farah Puteri Nahlia (23 tahun) dari PAN, Rizki Aulia Rahman Natakusumah (24 tahun) dari Partai Demokrat, Adrian Jopie Paruntu (25 tahun) dari Partai Golkar, Marthen Douw (29 tahun) dari PKB, Rojih Ubab Maimoen (28 tahun) dari PPP, Paramitha Widya Kusuma (27 tahun) dari PDIP, dan lain-lain.

Keterpilihan generasi milenial di posisi strategis itu perlu kita apresiasi. Tidak mudah meraih posisi itu. Karena itu, hal ini menjadi pembuktian dan pertaruhan kepemimpinan generasi milenial. Terlebih, peran generasi milenial sebagai future leaders menjadi sangat krusial bagi bangsa Indonesia di masa depan.

Pemimpin milenial memiliki pendekatan yang khas. Digitalisasi memungkinkan mereka untuk tidak lagi bekerja dan bertindak secara konvensional. Mereka juga lebih memperhatikan hasil. Lembaga analis ekonomi dan bisnis, Price Waterhouse Cooper (2013) menilai, milenial tidak percaya produktivitas harus diukur dengan jumlah jam kerja di kantor, tetapi dengan output pekerjaan yang dilakukan.

Pemimpin milenial juga perlu mendorong inovasi dan kreativitas dalam lembaga yang dipimpinnya. Ini tak mengherankan, mengingat karakter generasi milenial kreatif dan cenderung berpikir out of the box. Buktinya, banyak tumbuh industri start up dan industri kreatif lain yang dimotori generasi ini. Kreativitas mereka ini juga tampak di media sosial, sehingga banyak di antara mereka menjadi content creator.

Generasi ini juga confidence. Mereka sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat. Mereka juga berani berdebat di media sosial tanpa memandang siapa lawan bicaranya. Connected juga menjadi karakter lain generasi milenial. Mereka pandai bersosialisasi, yang dilihat dari jejak mereka di banyak media sosial.

Tumbuh di era digital, generasi ini terbiasa mendapatkan tanggapan instan dan cepat. Generasi ini pun sangat menyukai segala sesuatu yang bisa diperoleh dengan mudah dan cepat. Budaya lama yang cenderung berbelit-belit tak cocok dan menjadi pemberat bagi generasi ini.

Generasi milenial sangat menghargai perbedaan, lebih memilih bekerja sama daripada menerima perintah dan sangat pragmatis ketika memecahkan persoalan (Lancaster dan Stillman, 2002). Tumbuh di era digital membuat mereka menginginkan kesetaraan.

Neil Howe dan William Strauss (2000) mengungkapkan, generasi milenial menjadi generasi yang peduli pada masalah-masalah sosial. Mereka bisa berkontribusi dan memperkuat lembaga-lembaga sipil dan negara.

Akhirnya, dengan kehadiran pemimpin milenial ini semoga mampu membawa perubahan dan kemajuan dalam berbagai sektor di Indonesia. Bukan tidak mungkin ini bisa terjadi jika mereka adalah generasi yang berkualitas. Bukan sebagai SDM usia produktif yang tak berkualitas sehingga menimbulkan banyak masalah, mulai dari pengangguran hingga tingkat kriminalitas yang tinggi.

M. Samsul Arifin Direktur Konten Komunikonten




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com