Amplifikasi Meleset atas Kata 'Halal'

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Amplifikasi Meleset atas Kata 'Halal'

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 12 Nov 2019 16:02 WIB
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Jika Anda ingin melihat mispersepsi atas suatu istilah gara-gara efek amplifikasi di media sosial, tengoklah kata "halal".

Kata ini sebenarnya klir saja maksudnya. Ada konteksnya, ada peruntukannya tersendiri yang pas, dan memang ada ideologi di dalamnya. Namun, mendadak ia memancing banyak sekali prasangka.

Kalau Anda seorang muslim, tentu Anda mewajibkan diri memakan makanan yang halal, meminum minuman yang halal. Itu pasti, dan mayoritas orang di Indonesia saya kira sudah paham. Tapi, begitu istilah halal itu dilekatkan ke kata 'wisata', sehingga menjadi 'wisata halal', yang terjadi adalah kehebohan.

Ada yang sinis seketika. Ada yang menuduh akan terjadi islamisasi. Bahkan ada yang membayangkan di tempat-tempat wisata bakalan digelar razia orang pacaran, razia pakaian yang membuka aurat, juga jenis-jenis razia lainnya.

Padahal, senyatanya tidak begitu. Buktinya, saya yang kadang-kadang dituduh liberal ini pun merasa sangat membutuhkan fasilitas wisata halal.

***

Pekan lalu, bersama beberapa kawan, saya datang ke tepian Danau Toba. Sambil menunggu kapal yang akan menyeberangkan kami ke Samosir, kami cari sarapan dulu. Sialnya, di tempat sepenting itu, tak ada di sekitar kami warung makanan halal.

Tidak semua warung harus memajang logo halal, tentunya. Saya di Bantul tak pernah mencari logo halal di warung-warung. Tapi konteks sosiologisnya beda. Di Bantul mayoritas warga adalah muslim, dan lazimnya makanan yang dijual "otomatis" halal.

Namun di Toba, mayoritas warga beragama Kristen. Sudah menjadi tradisi juga di tempat itu orang mengonsumsi daging babi. Bahkan sepekan sebelum saya datang, diselenggarakan Festival Babi Danau Toba. Sementara, babi adalah jenis makanan yang tidak halal bagi muslim.

Artinya, meski ada warung-warung di tepian Toba itu yang tidak menjual masakan babi pun, sangat bisa dimaklumi bahwa umat muslim seperti kami merasa belum cukup aman. Apa jaminannya bahwa makanan yang disajikan tidak tercampur lemak babi? Apakah sudah jelas wadah-wadah tempat memasak tidak dipakai juga di lain waktu untuk memasak babi? Dan sebagainya.

Saya sendiri kemudian asal makan di salah satu warung itu. Saya pesan mie dan telor, dengan piring yang bisa jadi pernah dipakai untuk makan babi panggang. Apa boleh buat. Beberapa kawan lain memilih memesan mie instan gelas yang tidak enak itu, karena lebih memenuhi rasa keamanan mereka dari babi dan segenap unsur turunannya. Sisanya, ada yang memesan menu seperti yang saya santap, tapi mereka ngumpet di sudut warung.

"Biarin saja," kata kawan di sebelah saya. "Mereka anak-anak UIN, pasti malu kalau ketahuan makan di tempat tanpa logo halal seperti ini." Hahaha!

***

Poin saya, kebutuhan rasa keamanan dalam mengakses makanan halal itu riil adanya, dan terkait urusan yang sangat personal, yaitu makanan dan minuman. Itu wajib dilindungi sebagai bagian dari hak berkeyakinan.

Lebih jauh lagi, jika memang suatu kawasan wisata di daerah-daerah dengan warga mayoritas non-muslim akan digenjot kunjungan turisnya, sementara ada potensi besar wisawatan muslim dari lain daerah, bukan sesuatu yang lebay jika fasilitas wisata halal itu diadakan.

Ini bukan cuma isu di Indonesia. Di Jepang, misalnya, konsep wisata halal ini terus dikembangkan. Potensi pengunjung dari negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim terus membesar. Ini aliran uang buat Jepang. Apa salahnya yang halal-halal disediakan?

Buktinya memang konkret. Agustus lalu pun saat saya ke Tokyo, begitu mudah saya menemukan warung dan restoran halal di sana, cukup dengan search "halal food in Tokyo". Perkembangan seperti itu beneran sangat membantu.

Nah, persoalannya, istilah halal sendiri lambat laun memanggul sampiran-sampiran makna dan kesan yang, menurut saya, tidak semestinya.

Saya duga, semua berawal dari munculnya hal-hal yang dipadu dengan istilah 'halal', padahal tidak semestinya harus halal, atau tidak semestinya harus berlabel halal.

Jilbab halal, misalnya. Juga panci halal.

Mendengar pertama kali istilah "jilbab halal", terlintas dalam imajinasi saya seorang tuan rumah yang berbasa-basi menyuguhkan hidangan untuk tamunya. "Monggo lho, Mbak ini jilbabnya dicicipi. Halal kok." Aduh maaf.

Bahwa selembar jilbab harus halal sih iya, artinya ia didapatkan dengan cara-cara halal. Bukan colongan, bukan hasil korupsi, bukan hasil ngemplang ke olshop teman. Tapi konsep label halal di jilbab itu menabrak kelaziman dan "bahasa" yang dipahami publik.

Saya paham, yang dimaksud dengan "halal" dalam konteks jilbab, kulkas, panci, dan belakangan juga kacamata, bukan dalam artian boleh dimakan atau halal dalam cara mendapatkan. Makna halal di situ adalah bebas dari najis yang berasal dari barang-barang yang diharamkan dalam Islam. Misalnya apa pun unsur dari babi, atau alkohol.

Artinya, dalam hal ini sebenarnya ada ketidaklaziman istilah yang dipaksa-tempelkan. Sebab, sifat steril dari najis seperti itu pun dalam Islam tidak diistilahkan dengan halal, melainkan suci. Jadi, semestinya penyebutannya adalah jilbab suci, panci suci, atau kulkas suci.

Itu baru satu persoalan. Persoalan lainnya, harus seberapa ngoyo alias seberapa berlebihankah seorang muslim untuk memastikan kesucian setiap hal yang dia sentuh atau dia pakai? Apakah Islam mengajarkan untuk menelusuri setiap bahan dari barang-barang yang kita gunakan dalam hidup, sehingga dari hulu hingga hilir wajib dipastikan suci?

Saya sendiri yakin bahwa jawabannya adalah tidak. Namun toh terus saja bermunculan yang begitu-begitu. Dan Anda harus bersiap-siap untuk suatu hari nanti melihat tayangan iklan motor halal, mobil halal, handle pintu halal, HP halal, baju halal, kolor halal, dan entah apa lagi yang mesti halal.

***

Hasilnya, istilah halal jadi menggelikan. Saya sendiri pun terkekeh ketika beberapa hari lalu menyimak unggahan di Facebook seorang kawan.

"Abang sayang, nih ada produk baru kacamata halal. Beliin dong, Bang. Biar Adek segera halal saat memandang Abang...." Aduduuuh. Meleleh saya. Hihi.

Kekonyolan-kekonyolan seperti itu terus teramplifikasi. Ada mekanisme viral yang berjalan. Banyak orang tertawa; tawa itu terus tersebar lewat jejaring medsos, sehingga orang-orang menangkap istilah "halal" sebagai sesuatu yang menggelikan.

Secara psikologis ini wajar. Dua hal yang terus-menerus tampil secara bersamaan, dengan intensitas tinggi, atau dengan kadar "entakan" yang kuat, akan membuat manusia mengidentikkan keduanya. Ketika kata halal lebih sering tersebar viral bersamaan dengan hal-hal yang menggelikan sebagaimana kasus jilbab dan kacamata, maka kata "halal" sendiri pun jadi seolah menggelikan.

Akibatnya, ketika muncul istilah "wisata halal", respons publik jadi tegang.

Kacamata, jilbab, kulkas, panci, tisu, yang memasang-masang label halal itu, adalah barang-barang konsumsi yang bersifat personal. Anda masih bebas memilih mau beli atau tidak. Adapun tempat wisata adalah ruang yang bersifat komunal. Jika kehalalan (yang kadung tercitrakan menggelikan bagi sebagian orang itu) diterapkan di wilayah sosial seperti halnya tempat wisata, imbasnya juga akan bersifat sosial. Ia tak lagi bisa dilihat sebatas pilihan personal.

Maka, visi kehalalan sebagai fasilitas penting di tempat-tempat wisata pun jadi ikut dipermasalahkan. Semua itu terjadi karena kombinasi dan akumulasi dari penempatan istilah halal yang tidak pas, kegelian publik yang muncul dari sana, amplifikasi yang terus-menerus di media sosial, sehingga kata 'halal' yang menempel pada 'wisata' pun turut dilawan.

***

Akhirulkalam, saya masih berharap wisata halal dapat diterapkan di banyak tempat di Indonesia. Kami, para aktivis piknik, sangat membutuhkannya.

Sembari itu, saya juga berharap agar para pedagang berhenti menjalankan strategi pemasaran nggak mutu berupa pemaksaan label halal pada barang-barang aneh yang tidak seharusnya dipaksa berlabel halal. Kekonyolan merekalah yang terus teramplifikasi, kemudian lambat laun merusak citra halal di tengah-tengah publik.

Iqbal Aji Daryono penggemar jalan-jalan dan makanan halal

(mmu/mmu)