detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 12 November 2019, 12:00 WIB

Kolom

Dongeng dan Penjara Zimbardo

Fajar Ruddin - detikNews
Dongeng dan Penjara Zimbardo Foto: Dario Pignatelli/Reuters
Jakarta -
Alkisah di suatu negeri terdapat dua jago yang saling beradu menjadi raja. Jago pertama, sebutlah Si Kurus, berwatak kalem dengan perawakan yang sangat mewakili rakyat. Banyak rakyat simpati dengan Si Kurus dan menaruh harapan yang tinggi bahwa kelak setelah terpilih, dia akan bersungguh-sungguh memperjuangkan nasib wong cilik.

Lawannya adalah Si Gemuk yang berkepribadian tegas lagi pandai dalam urusan perang. Pendukungnya juga tidak kalah banyak. Ciri, sifat, dan pengetahuan Si Gemuk sangat mewakili karakter pemimpin ideal. Negeri akan maju dan aman jika dipimpin orang seperti dia. Begitu kira-kira pendukungnya berlogika.

Dengan basis massa yang hampir imbang, negeri itu terbelah sempurna menjadi dua kutub. Keduanya sama-sama militan dengan kadar melebihi apapun. Masing-masing pendukung haqqul yaqin bahwa jago merekalah yang akan memenangkan pertarungan. Negeri panas membara. Tidak pernah sebelumnya perebutan kursi raja sepanas itu.

Singkat cerita, Si Kurus keluar sebagai pemenang pertarungan. Si Gemuk beserta pendukungnya tidak percaya, merasa dicurangi oleh Si Kurus dan kroninya. Didatanginya hakim untuk menggugat kemenangan Si Kurus. Tapi upaya Si Gemuk menemui jalan buntu; hakim membenarkan kemenangan Si Kurus.

Pendukung Si Kurus bersorak. Massa Si Gemuk bukan main kecewanya. Tapi sorak sorai serta kekecewaan tersebut seketika ambyar saat kisah perseteruan dua orang itu menemui ujungnya. Si Kurus menjadikan Si Gemuk hulubalang. Ini adalah akhir yang absurd, yang membuat masing-masing pendukung kecewa mengkerut. Tak dinyana, perseteruan dua orang yang menjalar hingga pelosok desa rupanya dagelan semata.

***

Ketika sejarawan Inggris, Lord Acton mendalilkan power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely, mungkin dia tidak menduga kalau kemudian dalilnya itu akan menyejarah. Kalimat itu adalah kutipan surat Acton kepada seorang uskup berdasarkan keresahannya terhadap kekuasaan pemimpin politik dan agama.

Kata orang, resah adalah perkara hati dan hati pantang berbohong. Hampir seabad setelah surat menyurat dua sejawat itu, dalil Acton menemukan muara ilmiahnya. Seorang psikolog sosial bernama Philip Zimbardo menyegel validitas dalil tersebut, meski sebenarnya penelitian Zimbardo tidak ada kaitan langsungnya dengan Acton.

Eksperimen Penjara Stanford, demikian proyek itu diberi nama. Zimbardo ingin cari tahu, bagaimana rupa hidup orang-orang yang ditempatkan dalam penjara buatan. Subjeknya mahasiswanya sendiri, yang lurus tiada cacat kriminal, juga sehat fisik dan psikologis.

Dengan mengacu pada sistem bermain peran (role play), Zimbardo membagi subjeknya menjadi dua, kubu sipir dan narapidana. Kemudian meminta mereka untuk menginap selama 14 hari di kampus yang telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga menyerupai penjara. Gelap, pengap, tanpa jendela.

Meski direncanakan 14 hari, tapi eksperimen tersebut terpaksa harus disudahi pada hari keenam karena perilaku para mahasiswa yang berperan sebagai sipir berubah menjadi semakin bengis. Mereka semakin berani melakukan tindak kekerasan, baik fisik maupun verbal, kepada lawan mainnya yakni para mahasiswa yang menjadi narapidana. Seolah-olah lupa bahwa itu hanya permainan peran belaka, antarteman sesama mahasiswa pula.

Zimbardo memberi simpulan: tempat dengan ketimpangan kekuasaan yang tinggi cenderung menjadi tempat yang brutal lagi kasar, kecuali ada agen pengontrol yang mengendalikan impulsivitas penguasa. Dia menambahkan, "Bukannya kita menempatkan apel yang buruk dalam keranjang yang baik. Kami menaruh apel yang baik di keranjang yang buruk. Lalu keranjang merusak apa pun yang disentuhnya."

***

Rakyat di negeri antah berantah tadi boleh jadi kecewa dengan akhir kisah perseteruan dua jago mereka. Tapi meski demikian, sebenarnya bukan kekecewaan itu sendiri yang paling dicemaskan. Toh mereka sudah berkali-kali melalui kontestasi pemilihan raja seperti itu; kalah-menang urusan biasa. Mereka gelisah karena adanya persekutuan dua kekuatan besar yang dapat menghasilkan kekuasaan absolut. Itu yang membuat mereka panas-dingin.

Kekhawatiran rakyat sejatinya sangat beralasan, terlebih mereka memiliki sejarah otoritarianisme yang panjang dan kelam di negeri tersebut. Dulu mereka pernah dipimpin para diktator sebelum akhirnya perlawanan rakyat menumbangkan si rezim kotor. Meski telah tumbang, tapi luka traumatik telanjur menumpuk dalam memori kolektif mereka.

Rakyat juga wajar curiga. Ketika koalisi terbentuk secara bulat, akan mudah bagi penguasa untuk menggalang kekuatan demi melakukan amandemen. Jangan-jangan ada upaya mengubah masa jabatan raja menjadi lebih panjang? Begitu kira-kira salah satu keresahan yang menjalar di ruang publik negeri tersebut. Kalau benar demikian, berarti mereka akan kembali ke zaman otoriter dulu. Padahal sudah banyak martir yang berkorban demi menumbangkan rezim itu.

Memang narasi yang disampaikan penguasa atas pembentukan koalisi mereka isinya indah, tentang persatuan. Kalian rakyat jangan ribut-ribut melulu. Sudah terlalu banyak energi kita terbuang dengan keributan saat kontestasi. Sekarang mari kita bersatu memajukan negeri. Contohlah kami, tidak ada lagi permusuhan. Jangan dikira akurnya kami adalah kompromi pembagian kue ya. Oh, harum betul logika penguasa!

Tetapi Zimbardo telah mengajarkan kita bahwa kekuasaan tanpa pengawas akan sama tragisnya dengan kisah sipir dan narapidana. Karena kekuasaan absolut bersifat merusak. Jika dalam bermain peran saja orang bisa hanyut menjadi kejam ketika diberi kuasa, apalah jadinya kalau itu memang kehidupan nyata?

Ingat, yang buruk bukan apelnya, tapi keranjang yang dapat membusukkan apapun yang disentuhnya. Kita tidak sedang menuduh penguasa bermental korup, tapi kekuasaan absolut itulah yang mengkorupsi moral sesiapa yang bersinggungan dengannya.

Tulisan ini dimulai dengan kata pembuka "alkisah" agar pembaca percaya bahwa ini hanyalah dongeng pengantar tidur. Tapi rasanya pembaca juga telah tahu bahwa dongeng zaman sekarang juga seringkali dibuka dengan kalimat, "Kalau saya terpilih nanti...."

Fajar Ruddin akademisi psikologi


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com