detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 06 November 2019, 11:18 WIB

Kolom

Menyambut Kerja Sama Pendidikan dengan Taiwan

A Safril Mubah - detikNews
Menyambut Kerja Sama Pendidikan dengan Taiwan Taiwan (Foto: iStock
Jakarta -
Dalam pembukaan Yushan Forum di Taipei pada 8 Oktober lalu, Presiden Tsai Ing-wen menegaskan komitmen Taiwan untuk menjawab kebutuhan regional melalui implementasi New Southbound Policy. Yushan Forum merupakan forum dialog antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil tentang konektivitas regional lintas sektoral di Asia. Forum dialog tersebut dihadiri oleh perwakilan negara-negara mitra Taiwan yang membahas peningkatan kerja sama Taiwan dengan Asia dan merupakan upaya Taiwan untuk semakin memperkuat relasinya dengan Asia, khususnya negara-negara yang menjadi target New Southbound Policy, termasuk Indonesia.

Sejak diluncurkan Presiden Tsai pada 2016, New Southbound Policy telah berdampak positif terhadap pengembangan ikatan komprehensif berbasiskan hubungan antarmasyarakat yang terkonsentrasi pada bidang pendidikan, pengembangan industri, dan pertukaran sumber daya manusia antara Taiwan dengan negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Dalam bidang pendidikan, kebijakan ini berkontribusi dalam meningkatkan jumlah mahasiswa internasional yang belajar di Taiwan.

Satu dekade terakhir, jumlah total mahasiswa asing di Taiwan meningkat signifikan dari 39.553 pada 2009 ke 126.997 pada 2018 dan mahasiswa Indonesia merupakan mahasiswa internasional keempat terbanyak setelah China, Malaysia, dan Vietnam (DeAeth, 2019). Dari jumlah tersebut, sekitar 50.000 mahasiswa berasal dari negara-negara target New Southbound Policy, termasuk di antaranya 11.812 mahasiswa Indonesia.

Indonesia sangat diuntungkan karena dengan adanya kebijakan ini, ribuan anak muda Indonesia mendapatkan beasiswa belajar di sejumlah perguruan tinggi di Taiwan. Sejalan dengan upaya Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia demi mendorong Indonesia menjadi negara maju, proses pembelajaran hingga pendidikan tinggi menjadi agenda penting pemerintah Indonesia selama lima tahun ke depan.

Masalah mendasar yang dimiliki Indonesia saat ini adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia sehingga tidak cukup mampu bersaing dalam kompetisi global. Taiwan menawarkan peluang menarik kepada Indonesia untuk mengirimkan anak-anak muda belajar di institusi pendidikan tinggi berkelas dunia.

Pemerintah Taiwan meyakini program pendidikan berperan signifikan dalam meningkatkan pertukaran dengan Asia Tenggara. Dengan merekrut lebih banyak mahasiswa asing, New Southbound Policy diharapkan mampu memecahkan masalah pemenuhan kuota jumlah mahasiswa dengan mengucurkan subsidi kepada perguruan tinggi di Taiwan untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari Asia Tenggara.

Selain itu, terbuka pula kemungkinan adanya kerja sama antarinstitusi untuk membiayai studi mahasiswa asal Asia Tenggara di Taiwan. New Southbound Policy juga menawarkan sejumlah skema beasiswa kepada mahasiswa dari Asia Tenggara.

Sebagai negara berkembang yang belum memiliki kualitas sumber daya manusia memadai untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, Indonesia perlu menyambut peluang yang ditawarkan oleh Taiwan. Sejak tahun 2000, Indonesia dan Taiwan telah menandatangani 256 kerja sama pendidikan antaruniversitas. Pada 2011, seiring dengan Memorandum of Understanding (MoU) antara pemerintah kedua negara, Taiwan mendanai pendirian Taiwan Education Center (TEC) untuk mengenalkan sistem pendidikannya dan mempromosikan perguruan tingginya di Indonesia.

Hingga kini, TEC telah resmi dibuka di Universitas Airlangga, Universitas Kristen Krida Wacana, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Taiwan juga menyepakati untuk menyediakan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia yang berminat studi doktor di Taiwan melalui skema 3+1, yaitu tiga tahun beasiswa dari pemerintah Indonesia dan satu tahun beasiswa dari pemerintah Taiwan.

Sejak 2017, Taiwan terus berupaya meningkatkan jumlah mahasiswa asal Indonesia. Karena itu, pemerintah Taiwan telah secara bertahap meningkatkan kuota beasiswa dari tahun ke tahun. Selain itu, jumlah dosen dan peneliti Indonesia yang menerima Taiwan Fellowship dari Kementerian Luar Negeri Taiwan juga terus meningkat. Fakta bahwa Taiwan secara intensif mempromosikan pendidikannya di Indonesia menunjukkan bahwa negara ini memandang pertukaran akademik sebagai instrumen penting dalam hubungan kerjasamanya dengan Indonesia.

Indonesia harus memanfaatkan peluang tersebut dengan, pertama, memberikan beasiswa kepada siswa-siswa SMA Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di Taiwan. Selama ini, fokus pemberian beasiswa terkonsentrasi pada jenjang S2 dan S3, padahal masih banyak pelajar Indonesia yang belum mampu menempuh pendidikan S1. Karena itu, beasiswa S1 perlu diperbanyak jumlahnya, baik oleh pemerintah Indonesia maupun oleh pemerintah Taiwan.

Kesempatan studi S1 di Taiwan merupakan peluang emas bagi para pelajar Indonesia. Di masa studi, mereka dapat menjalin koneksi global dengan mahasiswa internasional sejak dini dan langkah itu akan membuat mereka semakin matang dan kompetitif di usia sangat muda. Selesai studi, mereka juga dimungkinkan untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Taiwan.

Kedua, memberikan beasiswa kepada pelajar Indonesia yang berasal dari kawasan timur seperti Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia, ketiga provinsi tersebut memiliki kualitas sumber daya manusia paling rendah dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Berbagai kendala dihadapi para pelajar dari kawasan timur Indonesia seperti minimnya dukungan finansial dan buruknya infrastruktur pendidikan. Karena itu, kawasan timur Indonesia perlu dijadikan target utama pemberian beasiswa.

TEC yang hanya didirikan di Jawa perlu melakukan ekspansi ke pulau-pulau tersebut untuk semakin menyebarluaskan informasi tentang Taiwan di seluruh Indonesia, terutama di kawasan timur. Harapannya, kesenjangan kualitas sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi antara kawasan timur dan barat Indonesia dapat semakin dipersempit.

Ketiga, mengintegrasikan sektor pendidikan dengan sektor ekonomi untuk mempercepat penyerapan lulusan ke dunia kerja. Skema beasiswa perlu mencantumkan keharusan bagi para penerima beasiswa untuk magang di perusahaan selama setahun di akhir masa studi. Sehingga, ketika mahasiswa Indonesia lulus dari perguruan tinggi, mereka dapat langsung meningkatkan status magangnya menjadi pegawai perusahaan.

Perusahaan-perusahaan di Taiwan perlu didorong untuk mempekerjakan lulusan tersebut sekaligus memberikan beasiswa studi lanjut selama mereka bekerja. Dengan begitu, talenta-talenta muda Indonesia di Taiwan akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus, peningkatan keterampilan melalui pekerjaan dan peningkatan pengetahuan melalui pembelajaran.

Melalui skema tersebut, mahasiswa juga didorong untuk tidak langsung pulang ke Indonesia seusai studi, tetapi mencari pengalaman kerja dulu selama beberapa tahun di Taiwan sebelum akhirnya kembali ke Indonesia untuk membangun perekonomian nasional. Interaksi dengan tenaga kerja asing di luar negeri perlu diintensifkan selama bekerja di Taiwan agar pemuda Indonesia merasakan langsung iklim kompetisi global.

Pengalaman kerja di luar negeri sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing anak-anak muda Indonesia menghadapi para kompetitor berkelas dunia. Pengalaman itulah yang suatu saat nanti harus ditularkan kepada penduduk usia produktif di Tanah Air.

A Safril Mubah kandidat Doktor Kajian Asia Pasifik di National Chengchi University, Taiwan


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com