detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 23 Oktober 2019, 15:45 WIB

Kolom

"Menteri Gojek" dan Masa Depan Pendidikan Tinggi

Bimo Ario Tejo - detikNews
Menteri Gojek dan Masa Depan Pendidikan Tinggi Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Terpilihnya pendiri Gojek, Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membawa dua kejutan besar. Pertama, latar belakang dia yang tidak berasal dari dunia pendidikan seperti menteri-menteri sebelumnya. Kedua, dihapusnya nomenklatur pendidikan tinggi dari Kabinet Kerja II (Kabinet Indonesia Maju) yang sempat dipisah menjadi kementerian tersendiri pada Kabinet Kerja I.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana masa depan pendidikan tinggi Indonesia pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo periode kedua? Tentu ada yang pesimis melihat latar belakang Nadiem yang bukan berasal dari kalangan akademik dan dikembalikannya sektor pendidikan tinggi ke Kemendikbud. Tetapi analisis mendalam terhadap kondisi pendidikan tinggi di Indonesia saat ini justru memunculkan optimisme bahwa Nadiem dapat membawa angin segar yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan tinggi kita.

Tak Perlu Khawatir

Digabungkannya kembali pendidikan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak perlu memicu kekhawatiran berlebihan. Dalam sejarah republik ini, pendidikan tinggi lebih sering berada di bawah Kemendikbud ketimbang terpisah sebagai kementerian tersendiri. Pada era Orde Lama, Indonesia pernah memiliki lima orang Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan dari 1962 hingga 1966. Pada era Orde Baru urusan pendidikan tinggi diletakkan di bawah Kemendikbud sebagai sebuah direktorat jenderal.

Demikian pula latar belakang Nadiem Makarim yang bukan berasal dari kalangan akademik juga tidak perlu dikhawatirkan. Justru pengalaman dia sebagai technopreneur sangat dibutuhkan untuk melanjutkan apa yang telah dirintis oleh menteri sebelumnya.

Di bawah kepemimpinan Menristekdikti Mohamad Nasir, pendidikan tinggi Indonesia dipacu untuk meningkatkan kualitasnya agar mampu bersaing di peringkat dunia. Universitas negeri ditargetkan untuk masuk dalam pemeringkatan global QS World University Rankings dan Times Higher Education (THE) World University Rankings. Pada skala nasional, Kemenristekdikti telah menyempurnakan klasterisasi dan pemeringkatan perguruan tinggi dengan menambah kriteria penilaian dari 13 menjadi 20 kriteria sebagai respon terhadap Revolusi Industri 4.0 dan kebutuhan tenaga kerja.

Kemenristekdikti juga mendorong perguruan tinggi untuk lebih gencar menghasilkan publikasi ilmiah dengan memberikan berbagai fasilitas dan insentif. Hasilnya cukup signifikan. Pada tahun 2018 tercatat 28.000 publikasi ilmiah dihasilkan oleh akademisi kita. Angka ini dipastikan terus meningkat dan pada tahun 2020 Indonesia akan menggeser posisi Malaysia sebagai penghasil publikasi ilmiah terbanyak di kawasan ASEAN.

Di balik pencapaian luar biasa Kemenristekdikti selama 5 tahun terakhir, yang menjadi pertanyaan apakah peningkatan peringkat universitas kita di skala global mampu menjawab persoalan tingginya angka pengangguran sarjana? Untuk tahun ini, tingkat pengangguran lulusan diploma dan universitas masing-masing berada di kisaran 6 hingga 7 persen, jauh di atas tingkat pengangguran lulusan SD (2,7 persen) dan SMP (5 persen).

Demikian pula dengan rendahnya daya inovasi masyarakat kita. Laporan Global Innovation Index 2019 menempatkan Indonesia di posisi kedua terendah setelah Kamboja di antara negara-negara ASEAN dari segi kemampuan berinovasi. Banyaknya jumlah publikasi ilmiah tidak mampu mendorong akademisi dan masyarakat awam untuk menghasilkan inovasi yang mampu mendatangkan manfaat riil.

Untuk menjawab dua masalah besar inilah sosok Nadiem Makarim dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk menempati posisi Mendikbud. Dengan pengalamannya sebagai entrepreneur, Mendikbud baru diharapkan dapat menciptakan link and match antara pendidikan tinggi dan dunia pekerjaan.

Dunia pendidikan tinggi harus direvitalisasi agar lulusannya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman (future-proof). Kurikulum pendidikan tinggi harus dirombak total (revamp) dengan melibatkan pelaku industri dan dunia usaha. Demikian pula dengan model kuliah di universitas yang selama ini mengandalkan tatap muka di kelas harus diubah secara bertahap. Program magang harus dimasukkan sebagai komponen wajib dalam kurikulum agar lulusan universitas memiliki kemampuan dan keterampilan yang memenuhi harapan dunia usaha.

Pilihan Tepat

Nadiem Makarim sebagai pendiri unicorn pertama di Indonesia tentu juga menyadari pentingnya inovasi dan tentu terpukul dengan rendahnya daya inovasi Indonesia dibanding negara-negara lain di ASEAN. Ratusan ribu akademisi yang tersebar di 4600 perguruan tinggi di Indonesia dan mampu menghasilkan 28.000 karya ilmiah per tahun sebenarnya memiliki potensi besar untuk membangkitkan daya inovasi masyarakat kita.

Hal ini dapat dimulai dengan pendirian inkubator bisnis dan innovation hub di setiap universitas, dimana akademisi, mahasiswa, pebisnis, dan masyarakat awam dapat bertemu untuk menciptakan ide-ide serta karya-karya inovatif. Silicon Valley di California, Amerika Serikat dan Silicon Fen di Cambridge, Inggris yang menjadi tempat berkumpulnya perusahaan-perusahaan high technology adalah dua contoh kolaborasi sukses antara akademisi dan dunia bisnis.

Dunia pendidikan tinggi kita membutuhkan sosok yang mampu membawa angin segar dan ide-ide revolusioner. Nadiem Makarim adalah pilihan yang tepat. Selamat menjalankan tugas, Pak Menteri!

Bimo Ario Tejo Associate Professor dan Dekan Faculty of Applied Sciences (2016-2019) UCSI University, Malaysia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com