detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 21 Oktober 2019, 09:22 WIB

Kolom Kang Hasan

Lapis-Lapis Teknologi

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Lapis-Lapis Teknologi Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Hadiah Nobel Kimia 2019 diberikan kepada tiga ilmuwan yang telah berjasa mengembangkan suatu produk yang sangat kita rasakan manfaatnya saat ini, yaitu baterai litium. Baterai ini sekarang memenuhi berbagai ruang kehidupan kita, menjadi sumber energi bagi berbagai perangkat elektronik yang kita pakai. Di masa depan baterai ini akan berperan lebih besar dalam penyediaan energi untuk panel surya dan kendaraan listrik.

Ada tiga ilmuwan yang diberi hadiah bergengsi itu, salah satunya adalah Akira Yoshino dari Jepang. Berbeda dengan John Goodenough dan Stanley Wittingham yang juga menerima Hadiah Nobel bersamanya, Yoshino bukanlah ilmuwan kampus. Ia memang jadi profesor di Meijo University di Nagoya. Tapi pekerjaan riset baterai litium ini tadinya ia lakukan di perusahaan tempat ia bekerja, yaitu Asahi Kasei Corporation, sebuah perusahaan kimia raksasa Jepang.

Sebelum ini juga sudah ada orang Jepang yang merupakan peneliti di perusahaan yang memenangkan hadiah yang sama, yaitu Koichi Tanaka dari Simadzu Corporation, yang mendapat Hadiah Nobel Kimia pada 2002.

Hadiah Nobel bagi Yoshino maupun Tanaka memberi gambaran penting tentang hubungan antara teknologi dan bisnis. Perusahaan tempat mereka bekerja telah berkontribusi dalam mengembangkan teknologi yang manfaatnya sangat luas bagi umat manusia. Perusahaan berperan besar dalam pengembangan teknologi.

Teknologi dibangun dengan riset ilmu dasar untuk memahami gejala-gejala alam. Pada titik ini masih banyak riset yang sulit kita temukan aplikasinya bagi masyarakat. Misalnya riset yang mendapat Hadiah Nobel Fisika tahun ini, yang bertema riset luar angkasa, lebih merupakan riset yang tujuannya adalah membuka misteri alam saja.

Meski tidak semua riset dasar punya arah yang tegas soal aplikasi masa depannya, namun bisa dipastikan bahwa tidak ada teknologi besar yang tidak didukung dengan riset dasar. Riset-riset dasar umumnya dikerjakan di universitas maupun lembaga riset milik pemerintah. Namun ada juga perusahaan swasta yang melakukan riset dasar untuk tema-tema tertentu.

Di lapis yang lebih tinggi, ada riset aplikasi, untuk menciptakan produk baru yang lebih unggul. Di lapisan inilah Yoshino bekerja. Riset seperti ini biasa dilakukan baik di kampus maupun di perusahaan. Risetnya dapat berupa pengembangan platform teknologi untuk membangun sebuah produk, atau dapat pula berupa pembangunan produk itu sendiri. Dengan cara itu teknologi baru dihasilkan, dan teknologi itu menjelma dalam bentuk produk-produk baru yang kita rasakan manfaatnya.

Untuk bisa menghasilkan sebuah teknologi, membangun produk berbasis teknologi, sebuah negara mutlak memerlukan dua hal itu, yaitu riset dasar dan riset aplikasi. Tidak ada negara yang maju teknologinya, yang tidak melakukan keduanya. Bagi orang awam riset-riset dasar sering kali sulit dipahami keperluannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sekali lagi, ia mutlak diperlukan untuk membangun teknologi.

Dengan riset itu apakah kita sudah bisa memastikan adanya produk teknologi? Belum. Produk hasil riset biasanya baru berbentuk purwarupa. Benda yang dihasilkan bisa berfungsi dengan keunggulan seperti yang diinginkan. Tapi biasanya ada masalah besar di situ, yaitu harganya masih mahal.

Sebagus apapun teknologi, ia tidak akan bisa dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat kalau harganya mahal. Untuk mendapat produk dalam jumlah besar dengan harga murah, perlu ditemukan metode produksi massal. Di sini para engineer berperan. Mereka tidak lagi bekerja untuk menemukan produk baru, tapi bekerja untuk membuat produk baru menjadi murah.

Apakah dengan engineer yang bekerja untuk membangun metode produksi massal itu serta merta sebuah produk komersial bisa dihasilkan? Belum. Metode itu harus dijalankan oleh manusia. Para operator mesin adalah lini terakhir yang memastikan semua itu berjalan dengan benar sesuai rancangan. Setiap titik pada jalur produksi berperan memastikan bahwa produk yang dihasilkan memenuhi standar mutu yang ditetapkan, juga dengan standar biaya yang diinginkan.

Pada semua lapisan yang bekerja untuk menghasilkan produk teknologi tadi, manusia berperan sebagai kunci. Artinya, untuk bisa menghasilkan produk teknologi, sebuah negara mutlak harus mengembangkan sumber daya manusia pada berbagai level. Tidak hanya pada level tertinggi, yaitu pada orang-orang yang melakukan riset untuk menghasilkan teknologi, tapi juga pada level pekerja yang memastikan produk dapat diproduksi.

Pertanyaannya, apakah kita mengembangkan sumber daya manusia untuk keperluan itu? Tentu saja. Pertanyaan selanjutnya, apakah cukup? Belum. Jauh dari cukup. Sumber daya manusia untuk riset kita masih sangat kurang. Tidak hanya itu, mereka juga belum terkelola dengan baik. Apalagi di level pekerja. Sulit menemukan tanda bahwa pemerintah sudah bekerja secara sistematis untuk mengembangkan kemampuan pekerja.

Apakah hal-hal ini akan digarap oleh Presiden Jokowi pada periode kedua pemerintahannya ini? Semoga.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com