detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 19 Oktober 2019, 10:18 WIB

Zaman "Start Up"

Ishadi SK - detikNews
Zaman Start Up Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Sekarang ini zaman start up. Banyak orang muda yang mulai berbisnis start up. Beberapa berhasil tapi banyak lainnya berhenti sementara atau selamanya. Menkominfo yang sering memonitor start up, karena telekomunikasi digital yang menjadi prasarana basic bisnis start up di bawah pengamatannya. Ia mengklaim telah membina, paling tidak mendorong 1.000 start up yang berhasil meski masih dalam skala yang kecil di seluruh Indonesia. Cirinya bertahan pada bisnisnya 3 tahun paling sedikit dan telah memiliki 20 orang yang bekerja bersamanya.

Rama Mamuaya yang rajin mengamati start up di Indonesia menyebut ada tiga kelompok kategori start up:
--Para pencipta "game"
--Para aplikasi edukasi/pendidikan
--Para usaha perdagangan seperti e-commerce dan usaha informasi

Sejarah bisnis di Indonesia telah berumur panjang, 20 Maret 1602, 417 tahun yang lalu VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) didirikan oleh Johan van Oldenbarnevelt. Kantor pusat di Amsterdam dan cabang di Batavia, Hindia Belanda. Dalam waktu singkat perusahaan ini berkembang pesat didukung oleh penguasa yang pada dasarnya menjajah Hindia Belanda waktu itu. VOC diberi hak-hak istimewa, di antaranya boleh memiliki tentara, memiliki mata uang, bernegosiasi dan menyatakan perang dengan negara lain; Inggris, Spanyol dan Portugal.

Juga kerajaan lokal di Aceh, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Maluku. VOC memiliki hak monopoli tanaman seperti cengkeh, pala, kayu manis dan rempah-rempah lainnya.

Tahun 1669, setelah 67 tahun menjadi usaha monopoli dan fasilitas tak terbatas. VOC berkembang menjadi perusahaan terkaya dengan 150 kapal dagang, 40 kapal perang, 50.000 pekerja dan 10.000 tentara. Namun dua abad setelah berkuasa semena-mena, VOC dibubarkan karena tidak mampu bertahan melawan kepentingan Inggris dan Spanyol. Khususnya ketika Napoleon Bonaparte, kepala negara Perancis, menaklukkan kerajaan Belanda di Eropa.

Di awal abad ke-19, pemerintahan kolonial Belanda mendirikan De Javasche Bank di Batavia. Dalam waktu singkat De Javasche Bank berkembang membuka cabang di Semarang, Surabaya, Sumatrera, Kalimantan, Sulawesi dan New York, yang merupakan jajahan Belanda di benua Amerika.

De Javasche Bank dinasionalisasi, tahun 1951, setelah pemerintah Indonesia berdaulat penuh dan membayar semua saham Java Bank dengan harga 120% dari harga pasar. De Javasche Bank diambil alih dan diubah namanya menjadi Bank Indonesia dan berfungsi sebagai Bank Sentral, hingga sekarang.

September 1950, setidaknya 22 perusahaan perkebunan peninggalan Belanda di Sumatera dan Jawa diambil alih negara menjadi kelompok Badan Pimpinan Umum Perusahaan Perkebunan Negara (BPUPPN).

Tahun 1967 giliran 30 perusahaan dagang Belanda diambil alih. Salah satu di antaranya adalah grup "The Big Five", Boorsumij, Internatio, Jacobson van den Berg, Lindeteves Stokvis, dan Geowehry. Seluruh perusahaan perdagangan itu dilebur dalam PT Negara yang berbentuk Badan Usaha Perdagangan (BUD). Perusahaan itu kemudian menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dikenal sekarang.

Memasuki abad ke-21, BUMN berkembang dalam waktu yang bersamaan tumbuh berkembang perusahaan swasta yang awalnya mendapat dukungan pemerintah. Dalam waktu relatif singkat berkembang menjadi usaha raksasa di dalam dan luar negeri. Dalam bentuk konglomerasi swasta yang makin lama makin membesar, utamanya setelah tahun 1965 seiring mundurnya Presiden Soekarno, digantikan Presiden Soeharto.

Tahun 1970 hingga tahun 2000 perusahaan swasta berkembang menggarap wilayah usaha di luar BUMN, sampai sekarang.

Seiring dengan penggantian waktu milenial tahun 2000, terjadi perubahan besar di sektor bisnis seluruh dunia. Diawali dengan sebuah revolusi cara orang berkomunikasi, bersamaan dengan itu berubah pula cara orang berdagang, berjalan dan membeli perangkat barang dan jasa.

Perubahan terjadi berkat inovasi orang-orang muda di Amerika Serikat yang memperkenalkan tata cara berkomunikasi yang baru. Perhatikan tahap-tahap masanya.

1976: Bill Gates (21) dan Steve Jobs (21) menemukan Microsoft dan Apple Computer.

1995:
--Pierre Omidyar (28) menemukan eBay, lelangan online sedunia.
--Jerry Yang (26) dan David Filo (29) menemukan mesin pencari Yahoo, yang kemudian menjadi jaringan Google. Yahoo kemudian dibeli Microsoft senilai US$ 44,6 Miliar.

1998:
Larry Page (29) dan Sergey Brin (24) menemukan Google, mesin pencari segala fakta dan bahasa. Berdua mereka dalam usia dini seperti itu menciptakan perusahaan senilai satu multi miliar dollar yang mengguncangkan internet sedunia.

2004:
--Tom Anderson menciptakan jaringan sosial dunia MySpace di usia 23 tahun. Ia tercatat sebagai pendiri dari jaringan sosial yang dipakai luas di internet.

--Mark Zuckerberg saat berusia 19 tahun karena putus cinta dengan sesama teman kuliah di Harvard University, memutuskan berhenti kuliah dan menekuni Facebook sebagai satu platform jaringan sosial bagi remaja di perguruan tinggi. Facebook merupakan situs web jaringan sosial terbesar di dunia, mengungguli MySpace. Sejak dua tahun lalu Mark Zuckerberg sudah me-launching Libra: Criptocurrency-Bitcoin yang laris keras di pasar meskipun Bank Indonesia, Bank Sentral Amerika, Bank Sentral Prancis, Bank Sentral Inggris dan Bank Sentral India menolak.

2005:
Steve Chen (27) dan Chad Hurley (28), pencipta Youtube, situs web "berbagi video online".


2009:
Jan Koum (33) dan Brian Acton (37) menemukan Whatsapp, aplikasi pesan untuk smart phone. WA merupakan aplikasi pesan lintas platform yang memungkinkan bertukar pesan tanpa biaya.

2010:
Kevin Systrom (27) dan Mike Krieger (24), pendiri Instagram, sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital dan membaginya ke berbagai layanan jejaring sosial, secara cuma-cuma.

Nah jelas bukan, berkat temuan-temuan ini semua komunikasi manusia tergantikan dalam sistem yang mendunia, secara lebih lengkap, dalam angka, huruf, gambar dalam wujud yang tak terbatas, lebih cepat dan lebih murah.

Yang pada akhirnya mengubah semua cara kita bertemu, berbicara, bercanda dan bermasalah. Cara berbisnis pun berubah, lebih tak terbatas, lebih cepat, lebih singkat dan lebih murah.

Lahir bisnis start up, yang kini berkembang menjamur, di berbagai sektor, dan mengubah cara orang berbelanja, mengatur perjalanan, membeli tiket angkutan atau segala jenis tiket pertunjukan dan semuanya bisa dilakukan instan di rumah, di mobil, di pesawat terbang dan di laut terpencil.

Beberapa usaha start up kemudian sukses hanya dalam kurun waktu singkat (di bawah 10 tahun). Bandingkan dengan VOC yang mencapai puncak setelah berusaha 160 tahun, atau perusahaan rokok Djarum dan Gudang Garam, perusahaan terbesar di Indonesia yang mencapai puncaknya setelah 50 tahun, membangun industrinya.

Usaha start up menanjak setelah kunjungan Presiden Jokowi ke Silicon Valley, Februari 2016 dan bertemu face to face dengan Mark Zuckerberg. Sejak itu Jokowi memerintahkan Menteri-Menterinya untuk mendorong 1.000 start up baru guna menjadi pengusaha sukses dan menjadi Unicorn --bisnis yang memiliki nilai valuasi sedikitnya US$ 1 Miliar.

Dari data yang dikumpulkan CNBC Indonesia, 28 Oktober 2018 tercatat lima start up yang berhasil meraih tingkat Unicorn:

--Gojek, didirikan oleh Nadiem Makariem. Meluncurkan aplikasi berbasis Android dan iOS untuk mengubah sistem pemesanan transportasi berbasis call center.

--Bukalapak, digagas bersama oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono dan Fajrin Rasyid di rumah kost semasa kuliah di ITB.

--Tokopedia, diluncurkan 17 Agustus 2009, oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison. Lima tahun kemudian karena kekuatan fokus pada usaha jual beli kebutuhan barang pokok. Menjadi sangat banyak customer dan sekaligus mendapat masukan investasi jumbo. Pada bulan Agustus, delapan tahun setelah didirikan, Tokopedia berkembang menjadi perusahaan tingkat dunia, setelah disuntik modal oleh Alibaba, senilai US$ 1,1 Miliar.

--Traveloka, didirikan tahun 2012 oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma dan Albert Zhang, mendirikan mesin khusus, mesin pencari tiket pesawat, pemesanan hotel dan berbagai kegiatan angkutan maupun pertunjukan lainnya.

--OVO, menjadi start up status Unicorn sejak 19 Maret 2019. Perusahaan milik LIPPO Group ini menyasar pasar yang masih kosong sebagai perusahaan aplikasi dompet digital (e-wallet) pertama di Indonesia. Laporan CB Insight OVO disebutkan memiliki valuasi US$ 2,9 Miliar, terbesar dibanding para Unicorn sebelumnya.

Demikianlah gerak cepat para start up muda Indonesia, sebuah tata cara bisnis baru yang berkembang karena penggunaan internet bisa menggelembungkan usaha bisnisnya dengan teramat sangat cepat. Usaha bisnis baru yang dalam banyak situasi mampu mematahkan perusahaan bisnis konvensional yang selama puluhan tahun telah dengan susah payah dirintis.

Barangkali yang akan menjadi soal adalah kelima Unicorn di Indonesia berkembang cepat, sangat cepat didorong oleh investor start up dari berbagai negara yang menyebabkan bagian saham para start up Unicorn Indonesia tinggal 10%-20% saja. Kalau ini terus berkembang semua Unicorn start up Indonesia akan hanya menjadi pemilik minoritas dari usahanya yang dibangun dengan susah payah sejak awal.

Lantas apa bedanya dengan usaha bisnis di zaman kolonial sebelum kemerdekaan, di mana pribumi hanya menjadi penonton atau paling beruntung hanya menikmati kepemilikan saham usaha atas dasar belas kasih secuil saham, seperti dinikmati para Raja dan Sultan yang hidup dalam kungkungan kekuasaan penjajah Belanda waktu itu?

Apakah sejarah berulang? Waktu yang bisa menjawab karena di era serba cepat ini segala sesuatu bisa berubah. Siapa tahu akan ditemukan spesies baru bisnis "The New Start Up-er".

Ishadi SK Komisaris Transmedia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com