detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 14 Oktober 2019, 10:15 WIB

Kolom Kang Hasan

Narasi Hubungan Islam dan Sains

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Narasi Hubungan Islam dan Sains Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Topik hubungan Islam dengan sains masih jadi satu bahasan menarik dalam kajian-kajian Islam hingga saat ini. Pengajian yang disampaikan Ustaz Abdul Somad di UII minggu lalu, setelah dibatalkan di UGM, juga mengambil tema tersebut. Dia juga pernah berceramah dengan tema yang sama di Masjid Salman, ITB.

Kajian dengan tema ini tidak menghasilkan hal-hal baru. Semua hanya bicara soal ayat-ayat Quran yang selaras dengan sains. Di Indonesia kajian dengan tema ini mulai populer sejak buku tulisan Maurice Bucaille diperkenalkan ke publik pada tahun 80-an. Dalam buku berjudul Bible, Quran, dan Sains Modern itu Bucaille menyampaikan sejumlah tafsir atas ayat-ayat Quran. Berdasar tafsirnya itu Bucaille menyimpulkan bahwa ayat-ayat Quran cocok dengan sains.

Setelah buku Bucaille itu sejumlah penulis lokal menulis karya serupa, di antaranya ditulis oleh Ahmad Baiquni. Yang terbaru, setahu saya, adalah karya Agus Purwanto, seorang ahli fisika teori yang menulis buku berjudul Ayat-Ayat Semesta.

Di mimbar ceramah, secara internasional ada Zakir Naik. Ia sangat populer sebagai pembahas tema ini. Ia pernah hadir di Indonesia, dan mendapat sambutan hangat.

Bagaimanakah wujud kecocokan itu? Bucaille misalnya menulis bahwa ayat tentang manusia yang diciptakan dari tanah itu bermakna bahwa tubuh manusia ini tersusun dari unsur-unsur yang sama dengan unsur-unsur penyusun tanah. Bagi saya, tafsir itu tidak tepat bila dibandingkan dengan dalil-dalil hadis yang lebih detil soal penciptaan dari tanah tadi.

Klaim soal kecocokan Quran dengan sains itu terasa janggal, karena di sisi lain ada opini bahwa sains modern adalah sains yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan, karena dikembangkan oleh kaum sekuler, bahkan ateis. Karena itu sains perlu diwarnai dengan nilai-nilai Islam. Bagi saya ada semacam paradoks. Kalau sains modern ini jauh dari nilai-nilai ketuhanan, bagaimana mungkin pada saat yang sama ia cocok dengan ayat-ayat Quran?

Kajian soal Islamisasi sains yang sempat populer pada tahun 90-an, kini nyaris tak terdengar. Gagasan ini terdengar indah dalam ruang diskusi, tapi mungkin akan membingungkan bila dibawa ke ruang riset sains. Bagaimana, misalnya, rumusan teori atom kalau faktor Islam dimasukkan? Lalu, bagaimana rumusan teori big bang atau teori evolusi dengan memasukkan kuasa Tuhan dalam rumusannya? Saya pernah menanyakan soal ini dalam berbagai forum diskusi, tapi tak pernah ada yang memberi jawaban yang jelas.

Bagi saya, tema-tema kajian seperti kecocokan Quran dengan sains maupun Islamisasi sains terasa lebih menghibur ketimbang serius. Setelah puluhan tahun tema itu dikumandangkan dalam berbagai pengajian dan diskusi, dengan berbagai buku dan makalah diterbitkan, fakta di dunia sains tidak berubah, yaitu bahwa kontribusi dari negara-negara Islam pada perkembangan sains tetap minim. Saat ini baru ada 3 pemenang Hadiah Nobel di bidang sains dari negara-negara muslim, dan semuanya bekerja di luar negara mereka sendiri. Sementara itu Israel saja sudah memiliki 6 pemenang Hadiah Nobel Kimia, ditambah 2 pemenang Hadiah Nobel Ekonomi.

Dalam suasana itu, kajian tentu saja ada hiburan lain, yaitu mengenang kontribusi ilmuwan muslim di masa lalu, seperti kontribusi Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan sebagainya. Tentu saja dengan klaim, bahwa tanpa kontribusi mereka dunia sains modern tidak akan ada.

Yang harus dikaji secara serius oleh umat Islam sebenarnya adalah bagaimana meningkatkan kontribusi terhadap perkembangan sains. Bagaimana kebijakan yang harus dibuat oleh negara-negara berpenduduk muslim agar sains berkembang. Berapa besar anggaran, bagaimana peneliti diperlakukan, apa yang harus dijadikan prioritas, bagaimana strategi untuk mengejar ketertinggalan, dan sebagainya.

Yang tak kalah serius adalah bagaimana muslim harus bersikap terhadap sains dan komunitas ilmuwan internasional. Apakah terus-menerus mengatai sains sebagai sesuatu yang jauh dari nilai ketuhanan akan menghasilkan sains baru, atau malah menjauhkan muslim dari sains?

Selain itu, bagaimana pendidikan terhadap anak-anak harus diselenggarakan. Apakah pola pendidikan seperti sekarang, yang ramai-ramai mendorong anak-anak untuk menjadi penghafal Quran adalah pola yang tepat untuk menghasilkan ilmuwan andal? Apakah penerima Hadiah Nobel seperti Abdus Salam, Ahmed Zewail, Abdul Aziz Sancar itu adalah para penghafal Quran?

Lalu, bagaimana etos kerja yang seharusnya dimiliki oleh para peneliti di negeri-negeri muslim? Apakah mereka sudah bekerja sekeras para peneliti dari negeri lain seperti Jerman, Jepang, Cina, Israel, dan sebagainya? Apa peran ajaran Islam dalam mendorong dan menyemangati orang-orang untuk bekerja keras?

Kajian-kajian seperti itu punya konsekuensi. Ketika sudah didapatkan rumusan, maka rumusan itu harus dilaksanakan. Melaksanakannya berarti mengubah sikap dan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dipraktikkan. Berubah bukanlah hal mudah. Berubah bukanlah hal yang disukai. Berubah memerlukan energi besar, dan tentu saja itu mengganggu kenyamanan.

Itu mungkin sebabnya kenapa kajian-kajian dengan tema-tema tersebut tidak menarik. Tak ada hiburan di situ. Yang ada hanyalah tuntutan untuk bekerja lebih keras lagi, dan itu tidak enak. Lebih enak mendengar kajian-kajian yang menghibur tadi.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com