detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 22 September 2019, 13:08 WIB

Jeda

Menyelamatkan Burung Layang-Layang

Mumu Aloha - detikNews
Menyelamatkan Burung Layang-Layang Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Ayahnya seorang milyuner --lebih tepatnya direktur perusahaan minyak international. Ketika dia berusia 12 tahun, satu tanker minyak bermuatan tiga puluh ribu ton kandas di pantai Atlantik. Dua puluh ribu ton lebih minyak mentah tumpah ke laut. Waktu itu, keluarganya tinggal di vila tidak jauh dari tempat kejadian. Ketika ayahnya mendengar berita kecelakaan tanker itu, hal pertama yang dilakukan adalah mencari cara menghindari tanggung jawab dan meminimalkan kerugian perusahaan.

Sore itu, ia --si bocah 12 tahun itu-- pergi ke pantai yang hancur. Laut berwarna hitam, dan gelombangnya, yang diselubungi lapisan tebal minyak yang lengket, mengalun lemah. Pantai juga dipenuhi lapisan minyak mentah hitam. Ia pun bergabung dengan beberapa sukarelawan, mencari burung di pantai yang masih hidup. Burung-burung itu berlumur minyak pekat, seperti patung hitam yang baru keluar dari kubangan aspal; hanya mata mereka yang menyiratkan mereka masih hidup.

Bersama sukarelawan lainnya, ia ikut mencuci burung-burung itu dengan detergen untuk menghilangkan lapisan minyak dari tubuh mereka. Ternyata sangat sulit; minyak mentah meresap ke dalam bulu mereka, dan jika ia menyikatnya dengan keras, bulunya akan rontok semua bersama dengan minyak. Malam itu, sebagian besar burung telah mati. Ia pun terduduk kelelahan di pantai dengan tangan dan sebagian badan berlumuran minyak. Ia menatap matahari yang tenggelam di laut hitam, dan merasa itulah akhir dunia....

Setelah hari itu, mata burung-burung yang terendam minyak terus menghantuinya, dan mempengaruhi jalan hidupnya. Ketika ia berusia 13 tahun, dan ayahnya bertanya ingin jadi apa dirinya kelak kalau sudah dewasa, ia menjawab, ingin menjadi juru selamat. Kedengarannya mungkin konyol. Tapi, mimpinya tidak besar; ia hanya ingin menyelamatkan satu spesies dari kepunahan. Bisa jadi sejenis burung yang tidak cantik, atau kupu-kupu jelek, atau kumbang yang bahkan tidak diperhatikan orang.

Kemudian, ketika dewasa, ia kuliah jurusan Biologi, dan lulus sebagai ahli burung dan serangga. Dari sudut pandangnya, cita-citanya berharga. Baginya, menyelamatkan satu spesies tidak berbeda dengan menyelamatkan umat manusia. Semua kehidupan bernilai sama, itu doktrin dan "ideologi" yang ia yakini dan ciptakan sendiri. Ia bahkan menyebutnya sebagai "agama", dengan inti kepercayaannya adalah semua spesies di muka bumi ini setara.

Mike Evans, sang ahli waris perusahaan minyak itu, meninggalkan kekayaan dan seluruh kenyamanan hidupnya, dan benar-benar mewujudkan cita-citanya untuk menjadi juru selamat dengan pergi ke Timur, ke wilayah pinggiran negeri China, menetap di sebuah desa perbukitan di bagian barat daya, dan menanam pohon untuk menyelamatkan burung layang-layang coklat dari kepunahan. Setiap musim semi, burung-burung itu mengikuti jalur migrasi purba dari barat laut kembali ke selatan, dan hanya bersarang di wilayah itu. Namun, kini mereka tak menemukan pohon untuk membuat sarang karena hutan mulai menghilang tahun demi tahun.

Ketika Ye Wenjie, seorang astrofisikawan Universitas Qinhua yang tengah mengerjakan sebuah proyek perancangan observatorium astronomi radio besar berkeliling ke beberapa daerah untuk mencari lokasi yang cocok, dan bertemu dengan sang juru selamat itu, ia pun terheran-heran dengan apa yang dilakukan oleh pria itu. Evans yang sudah terbiasa mendapat respons penuh tanda tanya dari warga sekitar pun meradang.

"Kenapa kalian semua seperti ini? Mengapa hanya orang yang perlu diselamatkan? Mengapa menyelamatkan spesies lain dianggap tidak penting? Siapa yang menempatkan manusia setinggi itu? Tidak, manusia tidak perlu diselamatkan. Manusia bahkan sudah hidup lebih baik daripada yang seharusnya."

Ye Wenjie tertegun. Ia teringat kata-kata Ketua Mao. Seorang manusia mulia, murni, bermoral, seorang manusia yang sudah dibebaskan dari dunia kasar... Ia menghela napas, menatap Evans lekat-lekat. "...ternyata sungguh-sungguh ada orang yang bisa hidup seperti itu," batinnya. Jiwanya bergejolak. Ia bicara pada dirinya sendiri: Jika ada lebih banyak orang seperti dia, bahkan sedikit saja, dunia akan berbeda.

***

Pertemuan itu mengubah jalan hidup Ye Wenjie. Perempuan yang dibesarkan di era Revolusi Kebudayaan, dan telah mengalami salah satu masa paling kelam dalam sejarah umat manusia, sehingga tumbuh menjadi seorang ilmuwan yang nyaris kehilangan kepercayaan pada peradaban itu, merasa menemukan seorang teman. Maka, begitulah, disatukan oleh kesamaan pandangan, dan dengan kemampuan masing-masing yang dimiliki, Ye dan Evans kemudian mendirikan Organisasi Bumi-Trisurya, yang kelak tak hanya menggegerkan otoritas pemerintahan dan militer China, melainkan juga organisasi-organisasi keamanan dunia.

Dengan ilmu yang dimiliki Ye, didukung warisan harta melimpah yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan oleh Evans, mereka berhasil mengirimkan pesan ke luar angkasa untuk meminta bala bantuan dari makhluk cerdas yang mungkin ada di planet lain. Peradaban manusia sudah tidak bisa diharapkan, oleh karenanya harus dihancurkan, dan itu perlu intervensi dan invasi dari penghuni jagad lain yang memiliki teknologi lebih tinggi. Dan, tanpa disangka, pesan mereka berbalas! Jantung Ye berdebar kencang. Ia berjalan ke tepi tebing; matahari larut dalam awan dan menyebar ke seluruh angkasa, memancarkan hamparan besar berwarna merah darah. Perang dunia akan segera dimulai. "Inilah senjakala umat manusia," bisik Ye.

Fantasi muram yang dituturkan oleh novelis Liu Cixin dalam dalam karya berjudul The Tree-Body Problem pada 2016 itu baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh dengan judul Trisurya (Kepustakaan Populer Gramedia, 2019). Jika sejarah umat manusia dipenuhi berbagai peristiwa-peristiwa tragis, dan pencapaian peradaban pun hanya menghasilkan kerusakan dan kehancuran di muka bumi, maka ke mana lagi kita harus berharap, kalau bukan kepada imajinasi yang tiada batas?

Membaca karya fiksi --yang menggabungkan sains dan hiburan dengan latar sejarah-- memberi kita secercah harapan, walau mungkin terasa surealis. Imajinasi yang punya jangkauan luas tidak hanya menjadi pelarian dari masalah kehidupan kita sehari-hari, lebih dari itu juga membangkitkan energi mental dan rangsangan kreatif untuk senantiasa memikirkan kembali banyak hal, merenung, diam sejenak, membersihkan hati dan pikiran, untuk diisi kembali dengan ide-ide yang mampu memberi sentuhan kebaikan bagi kehidupan.

Tak heran jika Barrack Obama, ketika itu masih menjabat Presiden Amerika Serikat dan membaca novel ini, mengatakan, "Saking asyiknya dibaca, masalah harian saya dengan Kongres jadi terasa remeh."

Hari-hari ini, kita didera oleh berbagai kekecewaan yang muncul dari kebijakan-kebijakan politik yang mengabaikan aspirasi masyarakat, mengusik toleransi dan kebhinekaan, dan bahkan sebagian terasa membodohi akal sehat. Perlu berpaling sejenak untuk mencari pelampiasan, salah satunya dengan membaca novel-novel seperti ini. Jika Voltaire dalam karya klasiknya Candide mengajak kita untuk "merawat kebun", maka siapa tahu Trisurya memberi kita inspirasi untuk menjadi seorang juru selamat, walau hanya bagi kucing-kucing jelek dan bau yang tersuruk-suruk mengais makanan di tempat sampah.

Syukur-syukur, kita menjadi lebih berempati pada peristiwa kematian seorang bayi akibat bencana kabut asap di Riau, dan hati kita terketuk untuk menyelamatkan binatang-binatang yang menderita akibat kebakaran hutan. Syukur-syukur, kita lebih serius menangani bencana lebih dari sekedar pamer foto sepatu kotor; lebih menunjukkan sikap peduli dan simpati pada warga yang menjadi korban paparan asap, dan bukannya justru menjawabnya dengan menebar kampanye "sawit baik".

Syukur-syukur, para pengambil kebijakan, pembuat undang-undang dan berbagai peraturan dalam bernegara lebih peka untuk mendengarkan suara-suara rakyat. Dan bukannya justru dengan enteng, sembrono, dan sesat mengembuskan stigma "disusupi radikal" kepada para pengritiknya. Syukur-syukur, kepercayaan kita pada presiden yang telah kita pilih, yang dalam beberapa hari ini tercederai, bisa dipulihkan kembali, dengan kebijakan-kebijakan yang tegas berpihak pada demokrasi, bukan pada kepentingan kekuasaan partai-partai pendukung.

Mudah-mudahan kita belum seputus asa Mike Evans dan Ye Wenjie untuk meminta bantuan dari makhluk cerdas penghuni planet lain.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com