detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 21 September 2019, 15:06 WIB

Kolom

Kisah Sang Penjaga Uang Kuno

Miguel AJ - detikNews
Kisah Sang Penjaga Uang Kuno Samsir, berjualan uang kuno di Pasar Baru sejak akhir 1950-an (Foto: Miguel AJ)
Jakarta -

Ketika memasuki Pasar Baru melalui Jalan Antara, para pengunjung segera disuguhi pemandangan toko-toko yang menjual berbagai macam barang. Ada yang menjual kain, sepatu, kacamata, baju, dan masih banyak lagi. Kegiatan belanja menjadi semakin menarik sebab beberapa toko masih mempertahankan bentuk gedungnya seperti sediakala saat pertama kali berdiri. Juga tentunya beraneka ragamnya jajanan yang tersedia menambah kemeriahan berbelanja di Pasar Baru.

Di tengah keramaian suasana itu, pengunjung bisa menangkap keberadaan sesosok lelaki sepuh yang duduk di sebuah kursi plastik, di depan Toko Sepatu New. Di sampingnya diletakkan sebuah papan kayu persegi di atas sebuah kursi plastik. Jika pengunjung mendekat, lekaslah terlihat beragam koin dan uang kertas yang dijajakan di papan tersebut. Pak tua itu ternyata menjual uang-uang kuno.

Namanya Samsir, lelaki kelahiran 1939 yang sudah melakukan aktivitas jual-beli di Pasar Baru sejak medio akhir 1950-an. Samsir biasanya menjajakan uang-uang kunonya saat pagi, dan pulang pada sore hari. Berjualan uang kuno sudah menjadi aktivitas harian yang dilakukan Samsir setiap harinya.

Uang kuno yang dijualnya bervariasi. Samsir tidak hanya menjual uang asal Indonesia, tetapi juga uang-uang keluaran luar negeri. Uang kuno paling tua yang dijual Samsir merupakan koin sen dolar Amerika pertengahan 1800-an, serta koin kepeng asal Tiongkok yang kemungkinan berasal dari permulaan abad ke-20. Sementara untuk uang paling baru yang dijualnya adalah uang kertas Rp 1000 yang bergambar Pattimura, yang sejak 2014 sudah berhenti dicetak oleh Bank Indonesia.

Ia menjejerkan koin-koin kunonya di atas papan. Sedangkan untuk uang-uang kertas, Samsir menyimpannya di dalam sebuah album. Selain uang-uang resmi keluaran pemerintah, Samsir juga menjual uang kuno permainan kasino serta materai berusia lawas. Ketika ditanya seputar uang-uang yang dijualnya itu, Samsir menjawabnya dengan nada suara yang tenang dan sabar. Namun, di balik perawakannya yang terlihat sederhana dan tenang, ia menyimpan kisah perjuangan hidup yang tak setenang lautan damai.

Merantau

Samsir yang merupakan orang Minang datang ke Jakarta dari Sumatra Barat pada akhir 1957 menggunakan kapal laut. Kita bakalan lekas menebak Samsir merantau dikarenakan ia seorang Minang --sebab orang-orang Minang memang dikenal memiliki budaya rantau. Namun, budaya merantau bukanlah satu-satunya penyebab Samsir jauh-jauh dari Sumatra Barat singgah ke Jakarta. Alasan ekonomi yang jadi sebab utama Samsir meninggalkan kampung halamannya.

"Saya tidak mau membebani keluarga. Waktu itu saya merasa harus bisa mencari pemasukan sendiri," kata Samsir memulai cerita alasannya merantau.

Ayahnya seorang polisi dengan gaji bulanan sebesar Rp 200. Itu tidak mencukupi kebutuhan keluarga Samsir. Berniat mengurangi beban keluarga, Samsir pun memutuskan hengkang dari rumah dan mencari pendapatan sendiri. Bermodal kenekatan, Jakarta sebagai ibu kota negara pun menjadi pilihannya.

Samsir muda cukup kebingungan ketika pertama kali sampai di Jakarta. Ia hanya memiliki kenekatan, tetapi tidak memiliki pengetahuan untuk bertahan hidup seperti berjualan atau melakoni pekerjaan lainnya. Alhasil, ia menghabiskan permulaan waktunya di Jakarta dengan mengamati aktivitas orang berjualan di Pasar Baru.

Baru tiga bulan menjalani kehidupan di Jakarta, berita buruk datang menghampiri dirinya. Pemberontakan yang kelak dikenal sebagai PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) meletus di Sumatra. Padang, tempat Samsir dahulu tinggal, menjadi pusat pemberontakan tersebut. Komunikasinya pun terputus dengan keluarga dan sahabatnya.

Situasi tegang tak hanya terjadi di tempat pemberontakan. Jakarta juga terkena imbasnya. Masyarakat, terutama yang berasal dari daerah yang melakukan pemberontakan, kerap dicurigai aparat keamanan. "Bahkan hanya mendengar siaran radio Padang bisa dipukuli tentara," cerita Samsir.

Keadaan yang tidak kondusif itu sempat membuat kegiatan jual-beli di Pasar Baru menurun. Masyarakat takut melakukan terlalu banyak interaksi di luar, termasuk pula Samsir yang pada saat itu baru berusaha mempelajari kiat-kiat berdagang. Terlebih, ia mengkhawatirkan keadaan kenalannya di Sumatra Barat.

Pada pertengahan 1960-an, ketika Samsir memiliki kesempatan untuk kembali ke Sumatra Barat, ia menggunakannya untuk mencari dan menemukan teman-temannya sewaktu kecil dulu. Hasilnya sungguh menyedihkan. Seluruh teman-temannya meninggal dunia akibat perang saudara yang meletus. "Tak ada lagi yang tersisa," kenangnya dengan miris.

Menjual Kembang

Usai lama mengamati aktivitas dagang di Pasar Baru, Samsir masih juga belum memiliki pekerjaan. Itu berlangsung sampai seseorang yang berasal dari daerah yang sama dengannya menawarkannya pekerjaan menjual kembang. Samsir muda pun cepat menyambut tawaran itu.

Sebagai orang yang datang dari luar Jawa, Samsir mengaku tidak tahu-menahu tentang apa yang dijualnya itu. "Saya hanya tahu itu bunga, tetapi tidak tahu kalau namanya kembang," ujar Samsir sambil tersenyum. Orang yang memberikan Samsir pekerjaan itu pun tak merasa harus menjelaskan apa yang dijual Samsir sehari-harinya, karena ia berpikir Samsir telah mengetahui nama barang dagangan tersebut.

Akhirnya terjadilah peristiwa yang sampai saat ini dikenang Samsir. Sekali waktu, sebuah mobil melaju pelan mendekati Samsir. "Kembang! Kembang!" Pengendara itu, seorang wanita, berteriak kepada Samsir. Karena tidak tahu kalau bunga yang dijualnya itu adalah kembang, Samsir pun diam mematung dan tidak memberikan kembang yang ia pegang kepada orang itu.

Karena kesal tidak digubris, si pengendara pun keluar dari mobilnya dan menghampiri Samsir. "Hei kamu! Saya panggil-panggil dari tadi kamu tidak nyahut. Saya mau beli kembang kamu," ucap Samsir memperagakan perkataan si perempuan itu.

"Oh ini kembang toh, Bu. Saya nggak tahu kalau ini kembang, saya cuma tahu ini bunga," kata Samsir sedikit malu, mengenang jawaban apa adanya puluhan tahun silam yang lalu.

Meski begitu, Samsir berhasil menjual kembangnya dengan harga yang bisa dibilang fantastis. Kembang yang dihargai Rp 4, berhasil ia jual sebesar Rp 100. Di penjualan-penjualan berikutnya pun Samsir berhasil menjual kembang dengan keuntungan besar di Pasar Baru. Sampai-sampai bosnya merasa heran dengan kemampuan berjualan Samsir.

Berbisnis Dolar

Walau menjual kembang bisa mendapatkan keuntungan besar, kembang tetaplah kembang. Ia bukan komoditas utama perdagangan sehingga kerap kali kembang yang dijual Samsir tak laku sama sekali selama beberapa waktu. Itu membuatnya berpikir untuk mulai mencari sumber pendapatan lain.

Titik balik pencariannya pun terjadi ketika aparat melakukan razia "pedagang liar" di Pasar Baru. Samsir sebagai pedagang tidak resmi yang berjuala kembang termasuk dalam daftar orang yang harus ditertibkan. Ia pun memutuskan untuk menyembunyikan kembangnya dan merapat kepada temannya yang tidak termasuk dalam daftar penertiban.

"Dolar! Dolar!" kata Samsir menirukan teriakan temannya dahulu.

Samsir lekas tertarik, sebab tak punya pengetahuan tentang "dagangan" yang dijual temannya itu. Ia baru paham setelah diajak temannya sewaktu penertiban terjadi itu untuk membantunya melakukan transaksi dagang dolar: menukar uang dolar ke rupiah, ataupun sebaliknya. Ternyata keuntungan yang didapat lebih besar dan terjamin dibandingkan hanya berjualan kembang.

Samsir lekas banting stir dan mulai berbisnis dolar. Usaha yang menggiurkan tersebut terbukti lebih banyak memberikan keuntungan dibandingkan berjualan kembang. Sejak akhir 1960-an Samsir fokus menjalankan bisnis penukaran mata uang tersebut.

Meski memberikan lebih banyak keuntungan, ternyata berbisnis mata uang asing juga memiliki kerugiannya sendiri. Samsir beberapa kali mengalami penipuan. Uang dolar yang diberikan padanya kadang kala merupakan uang palsu. Kalau sudah begitu, satu transaksi yang mendapat uang palsu saja sudah memberikan kerugian yang besar.

"Risikonya besar kalau transaksi dolar. Seratus dolar yang satu lembar itu ditukar uang rupiah yang banyak, tapi ternyata palsu," jelas Samsir.

Samsir pun berpikir keras. Kiranya apa usaha yang tak jauh-jauh dari transaksi uang, tapi memiliki risiko kerugian yang lebih kecil. Kebetulan selama melakukan usaha penukaran mata uang asing, Samsir kerap mendapatkan pelanggan yang hendak mendapat mata uang asing, tetapi melakukan transaksi dengan mata uang kuno berupa kertas maupun koin. Samsir tetap meladeni pembeli tersebut selama transaksi tidak besar, karena merasa uang kuno itu memiliki nilai jual di kemudian hari.

Transaksi dengan uang kuno itu akhirnya memberikan ide kepada Samsir untuk kembali banting stir dan ganti berjualan uang kuno. Keputusan Samsir menerima uang-uang kuno yang dipakai untuk mendapat mata uang asing ternyata benar-benar membawa keuntungan di kemudian hari. Ia jadi mampu mengganti usaha penukaran uang asing menjadi berjualan uang kuno.

Risikonya sendiri lebih kecil daripada usaha mata uang asing. Uang kuno, terutama koin logam, sangat sulit untuk dibuat yang palsunya. Itu bisa dibuktikan dari keadaan kertas dan kualitas uang lama itu sendiri. Berbeda dengan dolar dan mata uang asing lainnya yang mudah dibuat versi palsunya.

Uang Kuno

Pada penghujung 1970-an, Samsir memutuskan untuk sepenuhnya berjualan uang kuno. Uang kuno yang ia miliki dari hasil transaksi uang dolar sebelumnya ada cukup banyak. Selama berdagang uang kuno, uang kuno yang dimilikinya bisa dikatakan malah bertambah dan tak habis-habis.

Itu karena ketika berdagang, ada saja pengunjung tempatnya berjualan yang tidak berniat membeli dagangan Samsir, tetapi berkeinginan menjual koleksi uang kuno di rumahnya. Samsir tak keberatan membeli selama harganya "ramah", sebab Samsir harus menjualnya kembali. Jika mahal, pastilah ia tak mampu mendapatkan keuntungan.

Pernah ada orang dari luar daerah yang menghampiri Samsir dan menawarkan uang-uang kunonya. Si pendatang itu kebetulan tidak tinggal di Jakarta, dan hanya sesekali dalam sebulan bisa datang ke Pasar Baru. Namun, ia berjanji untuk kembali dengan uang kuno simpanannya. Di kemudian hari, orang itu memang benar kembali dan menjual uang-uang kunonya. "Padahal saya sendiri sudah lupa ada orang yang nawarin uang kuno dari luar daerah," katanya terkekeh.

Walau terbilang sudah aman dari risiko mendapat uang palsu, Samsir masih saja mengalami kerugian ketika berjualan uang kuno. Ada saja orang yang menipu Samsir ketika bertransaksi, seperti misalnya membeli tiga koin kuno tetapi malah membawa pergi lima koin kuno.

Lebih parah lagi, ada seseorang yang sudah dipercaya karena telah menjadi langganan, menawarkan kepada Samsir untuk membawa beberapa koin kuno miliknya guna dijualkan dan ditawarkan olehnya kepada kenalan-kenalannya. Samsir yang telah mengenalnya sebagai langganan pun percaya dan membiarkan orang itu membawa beberapa koleksi uang kunonya. Nyatanya, orang itu tidak pernah kembali lagi. Kerugiannya cukup besar karena ia membawa banyak uang kuno milik Samsir.

"Yang namanya orang jahat itu pasti ada saja," ujar Samsir tenang.

Menjual uang kuno sampai saat ini menjadi rutinitas pria yang kini tinggal di Sumur Batu, dekat SMAN 5. Selama hampir 50 tahun berjualan uang kuno, selain mengalami penipuan, usaha Samsir terbilang lancar. Paling-paling dalam transaksinya Samsir menghindari pembeli "borongan". Biasanya pembeli yang membeli banyak uang kuno itu sering meminta potongan harga yang besar. Bukannya untung, Samsir malah merugi.

Di waktu senjanya ini, dan dengan banyaknya pengalaman yang dimilik, Samsir selalu mengingat pepatah orang Padang ketika dahulu pertama merantau. "Lama hidup, banyak yang dirasa." Artinya, saat merantau harus bisa menahan setiap suka-dukanya. Samsir adalah orang yang telah merasa duka dan mengecap suka perantauannya yang sangat lama itu.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com