detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 21 September 2019, 12:15 WIB

Pustaka

Muda, Berprestasi, dan Berkarya Mandiri

Hendriko Handana - detikNews
Muda, Berprestasi, dan Berkarya Mandiri
Jakarta -

Judul Buku: Masih Belajar; Penulis: Iman Usman; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2019; Tebal: 224

Dua minggu lalu, saya sama sekali tak kenal perihal anak muda ini. Padahal karyanya luar biasa. Ada dua kemungkinan. Pertama, dia memang tidak terkenal. Atau kedua, justru "wawasan terbarukan" saya jatuh pada kondisi mengkhawatirkan. Saya tidak cukup update tentang informasi terkini. Kemungkinan terakhir itu sepertinya lebih tepat.

Beberapa tahun belakangan, benak saya memang lebih cenderung dicekoki kabar-kabar viral di media sosial dan berita perpolitikan yang ujungnya tak jauh dari sajian saling caci dan bully. Ketimbang hal-hal tersebut, saya putuskan menggeser fokus pada cerita-cerita bermutu dan penuh makna.

Sampai akhirnya, dua minggu lalu, saat menjelajah salah satu pojok buku best seller pada sebuah cabang jaringan toko buku besar, saya bertemu dengan buku bertajuk Masih Belajar, bersampul eye catching dengan warna sedikit norak, merah jambu. Namun bukan warna itu yang menarik perhatian saya. Melainkan sejumput ulasan dan biografi singkat penulis di sampul bagian belakangnya.

Penulisnya seorang anak muda kelahiran 1991, beberapa tahun di bawah saya. Ah, masih muda. Justru itu poin khususnya.

Ulasan tersebut menggambarkan bahwa anak muda ini telah meraih berbagai penghargaan internasional dan telah menginisiasi beragam organisasi tingkat daerah dan nasional. Ia bahkan pernah didaulat sebagai pembicara di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat berusia belum genap 20 tahun. Kurang ajar nggak tuh anak?

Usai menamatkan S2 di New York, saat ini ia bersama sahabatnya memimpin ribuan karyawan Ruangguru, sebuah bimbingan belajar online nomor satu di Indonesia. Perusahaan start up yang bergerak di bidang pendidikan ini mereka gagas dan besut bersama sejak 5 tahun yang lalu.

Namanya Iman Usman. Melihat rekam jejaknya, patut saya duga bahwa dia tumbuh dan berkembang di luar negeri, bukan asli produk didikan Indonesia. Saya prediksi juga bahwa berasal dari keluarga terpandang dan berada, yang apa-apa kebutuhan pengembangan dirinya bisa dipenuhi kedua orangtua. Seketika, saya baca beberapa lembar bagian awal buku itu. Lantas saya stalking halaman Facebook-nya. Maaf, bukan stalking urusan asmara.

Ternyata, saya salah --salah besar. Dia lahir dan mengenyam pendidikan dasar sampai SMA di Kota Padang. Cukup dekat dari tempat saya dibesarkan. Hanya jarak beberapa milimeter saja kalau diukur pada peta Indonesia.

Pun kenyataannya, Iman lahir dan berkembang dari keluarga yang punya keterbatasan secara ekonomi. Ayahnya berprofesi sebagai penjual minyak tanah, sedang ibunya fokus mengurus rumah tangga. Lantas bagaimana bisa; apa rahasia dan dorongan apa yang membuat Iman untuk bisa berkarya sejak usia sangat muda?

Kejadian Menjengkelkan

Sebuah kejadian menjengkelkan dalam hidup Iman, pada usia 13 tahun saat SMP, dia mencalonkan diri sebagai kandidat ketua OSIS. Iman penuh percaya diri bahwa ia akan terpilih dan sanggup menjalankan ide-ide dengan cemerlang.

Namun, kenyataan berbeda. Saat orasi penyampaian visi dan misi, ia di-bully oleh sekelompok siswa. Di kala orasi, seseorang melempar sampah di hadapannya. Meskipun Iman tetap melanjutkan orasi, namun setelahnya ia langsung berlalu menuju toilet. Menangis, sedih; perasaannya tersayat luka. Ia tak mengerti, apa sebab gerombolan siswa itu menghinanya, tak sedikit pun menghargainya.

Hasil pemungutan suara pun tak berpihak pada Iman. Ia hanya memperoleh suara sedikit dan urutan paling buncit. Rekan-rekan sekolah sepertinya tak percaya kemampuannya. Iman merasa minder. Sejak saat itu ia merasa tak berani lagi tampil berbicara di depan banyak orang, trauma akibat bully-an teman-temannya. Dan, ia merasa bahwa public speaking sama sekali bukan bakatnya.

Namun, siapa menduga, Iman mampu memoles dirinya menjadi pribadi yang benar-benar berubah secara istimewa. Tak genap tujuh tahun setelah kejadian itu, Iman didaulat menjadi pembicara di depan sebuah forum dunia. Tak tanggung-tanggung, Majelis Umum PBB. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, berbicara di depan publik justru jadi hal menakutkan baginya.

Itu adalah salah satu cuplikan kisah yang dituangkannya dalam buku ini. Kegagalan, justru menjadi titik balik bagi Iman untuk tidak terus jatuh dan larut dalam kesedihan mendalam.

Lalu, kiat apa yang dilakukan Iman? Bagaimana orangtua mendidiknya menjadi luar biasa? Bagaimana Iman mendirikan dan mengelola bermacam organisasi, namun tetap lulus dengan nilai cum laude dan tepat waktu? Bagaimana bisa sosok Harry Potter justru memberi Iman muda banyak ide-ide luar biasa? Bahkan kelak Harry Potter juga menjadi inspirasinya memunculkan Ruangguru sebagai sebuah mahakarya?

Apa saja nilai-nilai yang dipegang Iman dan bisa ditularkan? Silakan temukan langsung jawabannya dalam buku ini.

Bukan Follower

Sejak beranjak remaja sampai menjadi mahasiswa, senyatanya banyak juga kolega-kolega saya yang luar biasa. Beberapa kolega, fokus belajar dan punya prestasi akademik dengan IPK mentereng. Sebagian lain punya andil hebat dalam organisasi dan gerakan sosial kemasyarakatan. Sebagai lain mandiri secara ekonomi dan pintar berwirausaha. Namun, jarang yang bisa berhasil mengelola sekaligus ketiga-tiganya --akademik, kegiatan organisasi, dan wirausaha-- dalam waktu bersamaan.

Tidak hanya sebagai follower, Iman bahkan tampil sebagai penggerak di depan. Dia punya andil pada setiap aktivitas yang dia geluti. Sejak remaja, ia sudah punya prinsip, rencana, ambisi, dan obsesi terukur. Tidak serta merta dan serba kebetulan saja kalau ia sudah menemukan passion pada usia yang masih sangat muda.

Tak berlebihan kalau Iman menjadi salah satu role model remaja masa kini. Bahkan tetap relevan untuk semua usia yang membaca bukunya. Khususnya jiwa-jiwa yang masih terus belajar.

Satu kalimat untuk Iman, "Angku lua biaso, Man. Gas taruih, jan agiah rem...!"


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com