detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 20 September 2019, 16:21 WIB

Kolom

Oase Baru Pecinta Buku

Shela Kusumaningtyas - detikNews
Oase Baru Pecinta Buku Foto: Johanes Randy
Jakarta - Ada rasa haru yang berdesir tatkala menyambangi pasar buku yang ramai dibicarakan di media sosial belakangan ini. Seorang bapak berpakaian lusuh terlihat sedang memilih-milih buku. Ia berhenti di bagian rak buku pelajaran sekolah. Mungkin dia sedang mencarikan buku untuk anaknya di rumah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kerutan di wajahnya menjadi tanda usianya mulai menua. Matanya tampak lelah, tapi tetap berbinar karena bersemangat membelikan buku buat sang buah hati.

Seorang pria mitra ojek motor daring tengah menemani putrinya memilih alat peraga yang bisa menunjang aktivitas belajar. Bapak itu tetap sabar menunggu celoteh putrinya yang antusias menceritakan kegiatannya di sekolah dan materi apa yang akan lebih mudah dipahami jika belajar dibantu alat peraga. Keduanya akhirnya memutuskan mengambil satu barang setelah beberapa saat sempat memilih warna yang cocok.

Sang bapak yang masih mengenakan jaket kebanggaan yang melambangkan identitas profesinya itu lantas mengeluarkan dompet. Kasir dengan sigap menanyakan apakah bapak tersebut memiliki Kartu Jakarta Pintar (KJP). Sebab jika menunjukkan kartu tersebut, akan mendapatkan potongan harga. Senyum lebar pun tersungging dari sang bapak. Ia kembali merogoh dompet, lalu sibuk menyibak isinya. Sejurus kemudian, ia menyerahkan KJP kepunyaannya.

Pasar buku yang diresmikan pada April lalu itu membuat semakin yakin bahwa dunia literasi Indonesia tidak akan padam. Keyakinan itu semakin bertambah ketika melihat rombongan muda-mudi yang asyik menekuri ringkasan cerita dari novel yang telah lama mereka incar. Hingga akhirnya masing-masing dari mereka menenteng minimal dua buku untuk dibawa pulang.

Alternatif Baru

Anda bisa menemukan surga buku yang viral di media sosial itu di lantai tiga Pasar Kenari, Jakarta Pusat. Sekilas memang tidak meyakinkan, apakah benar ada toko buku yang lokasinya harus menyibak lantai demi lantai yang dipenuhi pedagang kabel, pompa, dan pipa.

Memang, sebelum mencapai lantai yang dikhususkan untuk lapak buku, kita terlebih dahulu harus menyusuri suasana panas, gelap, dan sedikit berdebu. Tak usah khawatir tersesat; di luar pasar telah terpasang spanduk yang memampang keterangan tentang lokasi wisata buku. Di setiap lantai juga tertempel anak panah yang mengarahkan lokasi toko buku. Anda bisa melewati tiap lantai menggunakan tangga ataupun eskalator.

Geliat pasar buku ini memang belum bisa dikatakan ramai. Karena hanya satu toko buku yang dipenuhi oleh pengunjung, yakni Jakbook. Saya tebak, ini karena hanya toko buku tersebut yang menempati lokasi lebih luas dibandingkan lapak sederhana lainnya. Toko buku milik pemerintah DKI Jakarta itu dilengkapi pendingin udara, berdinding kaca, dan melayani transaksi menggunakan dompet digital ataupun KJP. Sehingga ada diskon yang menguntungkan bagi penikmat buku.

Buku-buku yang dipamerkan di Jakbook juga tertata rapi dalam rak-rak yang sudah diklasifikasikan berdasarkan genre-nya. Sehingga memudahkan pengunjung yang kebingungan mencari buku. Ada pula mesin pelacak buku yang bisa digunakan untuk pencarian instan tanpa perlu menyusuri rak demi rak. Kondisi itu berbeda dengan lapak-lapak buku di sekitarnya. Pengunjung harus merasakan gerah dan secara mandiri mencari buku yang menumpuk dan tergeletak tak beraturan.

Kesulitan pun menghadang karena terkadang tidak semua stok tersedia. Jika Jakbook memperjualbelikan buku baru yang masih terbungkus rapi dengan sampul utuh, kios-kios sepetak lainnya umumnya menjajakan buku bekas yang kondisinya tidak sempurna 100%. Jadi memang harus pintar-pintar mengecek keseluruhan fisik buku yang akan dibeli. Tentunya, transaksi di lapak bisa mengandalkan kemampuan tawar-menawar. Apabila beruntung, kita akan mendapatkan harga yang jauh lebih miring.

Mari kita ramaikan surga buku di Pasar Kenari. Agar muka para pedagang di lapak-lapak sederhana itu tidak lagi murung menantikan kehadiran pembeli. Hitung-hitung kita ikut membantu nasib mereka yang menggantungkan hidup dari penjualan buku bekas. Karena banyak terdengar berita yang menyebutkan bahwa pendapatan mereka menurun semenjak dipindahkan ke Pasar Kenari. Sebelumnya, mereka adalah pedagang yang mengisi kawasan Kwitang.

Menurut saya, menyenangkan sekali berada di pasar buku tersebut. Kita bisa membandingkan koleksi antarlapak. Menukil inspirasi dari para pedagang tentang perjuangan mereka memburu buku-buku langka yang diminati para kolektor. Mendengarkan keluh-kesah mereka yang harus terus berjuang untuk tetap bertahan di antara gempuran buku digital.

Digarap Serius

Wisata Buku di Pasar Kenari digarap serius oleh pemerintah DKI Jakarta. Buktinya, mereka juga memikirkan bagaimana kenyamanan pengunjung agar betah menghabiskan waktu lama di sana. Tersedia kedai kopi yang bisa disinggahi pengunjung setelah memborong aneka buku. Buku yang baru dibeli bisa langsung dilahap sembari bercengkerama bersama kawan di warung kopi itu.

Di tengah lantai tiga juga ditaruh meja panjang beserta kursi yang bisa dimanfaatkan untuk duduk-duduk santai membaca buku. Di setiap dinding lantai tiga juga dihiasi mural yang bertuliskan cuplikan karya para tokoh literasi kenamaan di Indonesia. Kata-kata pelecut yang bisa membangkitkan gelora minat baca dan tulis para pengunjung. Ini juga menjadi daya tarik bagi generasi kiwari yang suka mengunjungi suatu tempat demi konten Instagram yang estetik.

Semoga gaung pasar buku Kenari semakin terdengar agar bisa berumur panjang dan menjadi jalan bagi terbukanya inklusi literasi. Karena selama ini, toko buku umumnya berlokasi di dalam pusat perbelanjaan dan mematok harga yang tidak bisa dijangkau semua kalangan. Akibatnya, beberapa orang terpaksa memenuhi kebutuhan ilmunya melalui buku-buku bajakan yang banyak beredar di pasaran. Pasar buku Kenari setidaknya adalah permulaan untuk gerakan literasi yang lebih masif. Memasyarakatkan kebiasaan membaca buku dengan lebih asyik dan menyenangkan.

Shela Kusumaningtyas gemar membaca dan menulis. Telah menerbitkan buku kumpulan esai berjudul Gelisah Membuah


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com