detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 20 September 2019, 15:58 WIB

Kolom

Narasi Baru tentang Minat Baca

Romi Febriyanto Saputro - detikNews
Narasi Baru tentang Minat Baca Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Dua puluh empat tahun lalu, tepatnya pada 14 September, Presiden Soeharto mencanangkan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca. Sejak zaman dahulu kala ketika peringatan Hari Kunjung Perpustakaan digelar tentu akan keluar pernyataan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Masyarakat masih lebih suka menikmati budaya lisan daripada budaya membaca. Inilah narasi yang paling tidak saya sukai. Setiap tahun para pejabat yang bergerak di bidang literasi selalu menyalahkan masyarakat yang tidak mau menjadi pengunjung perpustakaan.

Narasi seperti ini sering menjadi jurus andalan penguasa sekolah yang belum ikhlas memberikan hak hidup bagi ruang perpustakaan. Anak-anak malas membaca. Mereka lebih suka membaca Whatsapp daripada membaca buku. Anak-anak lebih suka membuka Google untuk memperkaya cakrawala pengetahuan. Demikian yang pernah dikatakan oleh penguasa sekolah yang belum punya ruang perpustakaan. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan, hingga 2018 sebanyak 36,22 persen sekolah dasar di Indonesia masih belum memiliki perpustakaan.

Anak-anak malas membaca buku karena memang sekolah tidak pernah membuka ruang perpustakaan. Anak-anak tidak mau ke perpustakaan karena rak-rak buku hanya berisi buku paket atau buku pelajaran saja. Tidak pernah ada buku karya Tere Liye, Andrea Hirata, Karl May, atau Agatha Christie di rak-rak perpustakaan sekolah. Anak-anak lebih suka membuka Google karena memang ditugaskan oleh guru. Bapak/ibu guru tidak pernah menugaskan mencari pengayaan informasi di perpustakaan sekolah karena perpustakaan baru difungsikan sebagai gudang buku paket/pelajaran. Demikian narasi tandingan yang pernah saya sampaikan kepada penguasa sekolah.

Ada pula cerita dari sebuah sekolah dengan jumlah murid hampir mencapai seribu yang belum tertarik membuka ruang perpustakaan karena akan membikin perpustakaan digital. Dalam hati saya bertanya, inikah yang disebut dengan mabuk teknologi?

Naisbitt (1999) dalam Yasraf Amir Piliang (2013) menjelaskan enam gejala mabuk teknologi yang menjerat manusia masa kini, yaitu merayakan kecepatan dan kesegeraan ("tujuh langkah menjadi milyuner", "dua hari menjadi penulis"), memuja teknologi (penyembuhan, keamanan, iman), mengaburkan yang nyata dan tiruan (virtual, cyber, artifisial), menganggap kekerasan sebagai biasa (film, perang, game), mencintai teknologi sebagai mainan (high-tech toy, internet adult game), dan terbiasa dalam ketercerabutan dari realitas (virtual community, telepresence).

Saya bukan anti dengan perpustakaan digital, tetapi semua hal tentu ada tahapan yang perlu dicapai terlebih dahulu. Membangun perpustakaan digital bagi perpustakaan yang masih jarang membeli buku cetak adalah bentuk ketercabutan dari realitas. Sampai hari ini pun ketika sudah ada Buku Sekolah Elektronik (BSE) tidak pernah menyurutkan langkah penerbit plat merah maupun swasta untuk mencetak buku itu. Mengapa? Karena anak-anak lebih nyaman membaca BSE versi tercetak daripada versi digital sehingga pemerintah selalu mewajibkan sekolah untuk selalu membeli buku paket/pelajaran. Ironisnya, buku paket/pelajaran ini selalu mengalami perubahan menyesuaikan dengan kurikulum yang rajin berubah.

Narasi pesimis tentang minat baca masyarakat juga disuarakan oleh para penguasa desa yang tidak memiliki komitmen membangun perpustakaan desa yang baik. Perpustakaan tidak ada pengunjungnya. Masyarakat tidak tertarik membaca buku. Ada pula kisah seorang fasilitator pendamping dana desa yang mengatakan bahwa perpustakaan kurang bermanfaat bagi masyarakat. Lebih baik anggaran untuk perpustakaan dialihkan saja untuk infrastruktur.

Padahal Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, seperti diberitakan, pernah menegaskan bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam membangun ekosistem masyarakat yang berpengetahuan. Perpustakaan diharapkan bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tjahjo menyebut masih banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki perpustakaan. Sekarang ini masing sedikit; di provinsi baru 31, di kabupaten/kota baru 40 persen, dan desa jauh lebih sedikit lagi.

Berebut Buku

Narasi baru dalam membangun budaya literasi perlu diviralkan. Anak-anak negeri ini sangat suka membaca. Ketika saya mengikuti perjalanan perpustakaan keliling, aroma gila membaca sangat terasa. Anak-anak SD di daerah terpencil yang kami kunjungi sangat antusias untuk berebut buku. Mereka seperti orang yang kehausan buku di tengah padang pasir yang tandus ilmu pengetahuan. Senyum mereka begitu alami dalam menikmati buku.

Dalam hati saya merasa kasihan dengan anak-anak ini yang sangat merindukan buku, tetapi divonis tidak suka membaca oleh berbagai survei. Sampai hari ini saya masih penasaran dengan metodologi berbagai survei yang menjadikan masyarakat sebagai tersangka utama dalam lakon "minat baca masyarakat Indonesia rendah". Bagian mana dari negeri kepulauan ini yang menjadi sampel penelitian? Apakah dari Sabang sampai Merauke? Atau, sampel "ala kadarnya" yang diambil secara serabutan?

Suguhkan dulu buku-buku yang menarik kepada anak-anak. Lihat reaksi mereka, apakah akan diam saja, cuek, atau berebut untuk membaca? Setelah itu silakan membuat narasi tentang minat baca anak-anak negeri ini. Jangan sampai buku belum disuguhkan kita berkata bahwa anak-anak tidak suka membaca. Anak-anak yang tidak suka membaca buku matematika jangan divonis tidak suka membaca buku. Mungkin mereka lebih suka membaca buku sejarah. Jangan sampai ada narasi tunggal yang memojokkan anak-anak Indonesia.

Hasil berbagai survei minat baca masyarakat yang rendah bertentangan dengan minat beli buku masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan platform e-commerce global Picodi.com (2018), minat masyarakat Indonesia untuk membeli buku berada di peringkat kelima di Asia. Peringkat Indonesia ini jauh lebih baik dibandingkan dengan Singapura dan Vietnam. Survei menunjukkan, sebanyak 63% masyarakat Indonesia membeli buku minimal satu dalam setahun. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam sebesar 60% dan Singapura 51%. Namun, Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Thailand yang mencatat skor 79%, Malaysia 76%, dan Filipina 69%.

Dari survei di atas ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Singapura adalah juara gila membaca menurut berbagai survei, tetapi mereka tidak suka membeli buku? Indonesia malas membaca buku, tetapi suka membeli buku? Adakah orang yang malas membaca buku, tetapi suka membeli buku? Orang yang suka membeli buku adalah orang yang suka membaca buku?

Saya sangat merindukan narasi baru bahwa ternyata masyarakat Indonesia suka membaca dan suka membeli buku. Apalagi ketika ditawari buku KKN di Desa Penari. Siapa yang kuasa menolak untuk tidak membaca?

Romi Febriyanto Saputro Kasi Pembinaan Arsip dan Perpustakaan pada Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sragen




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com