detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 20 September 2019, 13:15 WIB

Kolom

Literasi Pensil Warna

Wiranto - detikNews
Literasi Pensil Warna Foto: Amelia Sewaka
Jakarta -

"Ayo belajar menulis dan membaca! Disuruh belajar malah menggambar!" Suatu saat pernah saya mendengar larangan tersebut. Ironis, menggambar menjadi tersangka penghalang proses belajar! Padahal faktanya, menggambar dapat dijadikan sebagai pintu masuk untuk membimbing anak menuju budaya literasi keluarga.

Lebih Menyenangkan

Anak mana yang tidak suka menggambar? Semua pasti suka. Dari sekadar corat-coret ala benang ruwet hingga gambar yang mirip bentuk-bentuk tertentu. Tak sekadar coretan tanpa arti, gambar pada masing-masing tingkatan usia mencerminkan perkembangan jiwa anak. Menggambar tak sesederhana seperti yang dikira kebanyakan orang selama ini. Lebih penting lagi, semua prasyarat keberhasilan literasi keluarga dapat dicapai dengan kegiatan menggambar, terutama literasi baca dan tulis.

Cyril Burt dan Victor Lowenfeld sebagai pakar gambar anak sepakat bahwa menggambar benar-benar melibatkan aspek keterampilan, sikap, maupun kognitif. Dari sisi keterampilan motorik, menggambar melatih koordinasi antara mata dengan tangan. Anak juga dituntut terampil menggunakan alat tulis dengan cara tepat untuk membuat goresan yang menghasilkan gambar. Hal ini akan menjadi dasar dalam membantu anak melatih kecerdasan motoriknya dalam menulis.

Dari sisi kognitif, kegiatan menggambar menuntut anak untuk berpikir saat berimajinasi. Aktivitas ini akan meningkatkan kemampuan anak dalam mengingat saat membaca. Dari sisi sikap dan afeksi, aktivitas menggambar menjadi media terbaik untuk menyampaikan perasaan, menyalurkan emosi, atau hal-hal lain yang tidak dapat disampaikan secara lisan. Menggambar membantu anak yang mengalami kesulitan seperti enggan berkomunikasi, rasa malu atau kurang percaya diri, mampu menyampaikan segala hal yang terpendam dalam pikiran atau hati.

Penelitian Dr. Noella Mackenzie (2010) menemukan bahwa melalui menggambar, anak merasa lebih merasa percaya diri diarahkan menuju literasi. Hasil penelitian Noella digunakan secara meluas di Australia dan beberapa negara lainnya. Ternyata menggambar sebagai sebuah aktivitas yang positif dan menyenangkan dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kemampuan literasi anak.

Senada dengan Noella, faktanya memang banyak anak yang menikmati menggambar dan melakukannya dengan senang hati, bahkan terkadang tanpa harus disuruh. Motivasi dalam menggambar dapat digunakan untuk mendorong anak belajar menulis dan membaca. Tentunya cara ini lebih menyenangkan daripada berlatih menulis dan membaca secara langsung. Menulis secara formal selama ini terbukti memberi kesan menakutkan, menegangkan, dan sulit untuk dilakukan oleh anak. Dengan terlebih dahulu melakukan aktivitas "membuat makna" melalui kegiatan menggambar, menulis dan membaca menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan.

Namun demikian, proses ini harus mendapat dukungan penuh dari keluarga, terutama orangtua. Langeveld, seorang pakar pendidikan, menyatakan bahwa perkembangan jiwa dan kemampuan anak hingga masa remaja sangat dipengaruhi oleh faktor dalam (intern) dan luar (ekstern). Pengaruh faktor luar yang paling utama dan berpengaruh besar tentunya adalah keluarga.

Literasi dalam keluarga sebagai sebuah metode pendidikan telah diterapkan di beberapa negara di antaranya Amerika Serikat, Kanada, dan Afrika Selatan. Semangat dasar literasi keluarga sebagai sebuah metode pendidikan adalah "orangtua merupakan guru pertama bagi anak-anak".

Budaya literasi keluarga menjadi strategi yang paling efektif untuk meningkatkan keterlibatan orangtua dalam pengembangan literasi anak. Ketika orangtua terlibat penuh, mereka akan menjadi pihak yang seumur hidupnya aktif dalam pendidikan sang buah hati. Sebuah keluarga yang menerapkan filosofi Long Life Education (Pendidikan Seumur Hidup). Sebuah Keluarga Pembelajar.

Kegiatan keluarga untuk membangun budaya literasi akan memberikan kesempatan bagi orangtua dan anak saling berbagi pengalaman. Mereka berinteraksi bersama, mengikat-eratkan hubungan melalui pembelajaran timbal balik yang terjadi, memungkinkan mereka menjadi mitra sejati dalam pendidikan menuju budaya literasi keluarga.

Mudah Dilakukan

Mengembangkan budaya literasi keluarga melalui kegiatan menggambar bersama sangatlah mudah untuk dilakukan. Pun biaya yang dikeluarkan tidaklah besar, bahkan orangtua dengan pendidikan rendah juga bisa. Lantas bagaimana melakukannya?

Pertama, jangan memaksa dan menghakimi anak untuk bisa menggambar secara nyata. Menggambar adalah upaya seorang anak untuk memahami sesuatu dari sudut pandang mereka (bukan orangtua). Kemampuan menggambar ini (apapun hasilnya) merupakan langkah awal menuju kemampuan literasi.

Mereka harus dibebaskan agar berani mencoba sesuatu yang baru. Melalui gambar, seorang anak berusaha menyampaikan diri mereka sendiri baik emosi, gagasan, maupun pengalaman. Dengan membebaskan mereka untuk menggambar, mereka akan merasa memiliki kebebasan dan percaya diri. Biarkan mereka berkreasi, jangan hakimi maupun arahkan. Biarkan merdeka.

Kedua, ajak anak membicarakan hasil gambarnya, daripada hanya sekedar berkata, "Wow, gambarmu bagus!" Hal ini akan melatih kemampuan anak untuk mempelajari hubungan antara gambaran dengan tuturan. Nah, kemampuannya dalam menuturkan hasil gambar akan memandu mereka untuk memiliki kemampuan literasi, bercerita, komunikasi, harga diri, kreativitas, dan pengembangan konsep. Lebih penting, menggambar mencerminkan pemahaman anak terhadap lingkungan sekeliling dan membangun landasan pengetahuan di atasnya. Pengetahuan awal anak dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan literasi anak.

Ketiga, bimbing anak menggunakan peralatan menggambar. Bagi anak pada usia awal, memegang alat gambar (yang juga alat menulis) adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Mereka belum cukup mempunyai kekuatan jari maupun tangan untuk melakukan aktivitas tersebut. Menggambar akan melatih anak mahir secara perlahan melalui banyaknya praktek. Jikalau anak terbiasa menggambar dengan berbagai jenis peralatan (pensil, bolpoin, spidol, krayon, kapur, dan lain-lain) maka mereka akan semakin terlatih untuk menulis.

Keempat, pajanglah karya anak. Hal ini penting untuk membuat anak merasa yakin dengan dirinya dan percaya diri. Mereka akan merasa sangat dihargai. Semua gambar yang tertempel akan mengingatkan pada proses pembelajaran yang telah mereka lakukan. Mereka akan terus merasa yakin dan senang untuk melanjutkan belajar menulis dan membaca.

Kelima, sertai aktivitas menggambar dengan kegiatan menulis dan membaca. Semakin banyak aktivitas menggambar yang disertai dengan menulis dan membaca akan membuat anak semakin percaya diri. Jangan heran jika selanjutnya anak akan membuat sebuah kartu ucapan sayang kepada orang tua dengan beberapa tulisan pada gambar yang ia buat. Bahkan tanpa dipaksa atau diminta! Pada saatnya, kesukaan anak dalam menggambar akan memicu mereka belajar menulis dan membaca. Anak tidak merasa takut untuk menulis karena baginya menulis adalah bagian dari menggambar.

Sebuah media nasional pernah melansir sebuah data yang menunjukkan bahwa minat baca di negeri ini masih sangat rendah. Indeks minat baca di Indonesia yang dikeluarkan UNESCO pada 2012 hanya berhenti pada angka 0.001. Artinya, pada setiap 1000 orang hanya ada satu orang yang memiliki minat baca. Padahal seperti kita ketahui bersama, membaca merupakan gerbang kemajuan sebuah bangsa. Membaca pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menulis.

Akhirnya, di tangan keluarga nasib bangsa ini dipertaruhkan. Jika pada sebuah pensil warna budaya literasi keluarga dapat ditumbuhkan, mengapa tidak kita lakukan? Ayo, belajar menulis dan membaca dengan menggambar, Anak-anak!

Wiranto guru Seni Budaya di SMA Negeri 1 Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah; peserta Program Short Course ke University of Southern Queensland, Toowoomba, Australia 2019


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com