Terpilihnya Caleg Muda di Parlemen

Kolom

Terpilihnya Caleg Muda di Parlemen

Nabil Lintang Pamungkas - detikNews
Senin, 26 Agu 2019 11:35 WIB
Pelantikan caleg terpilih DPRD Bayuwangi (21/8)/Foto: Ardian Fanani
Pelantikan caleg terpilih DPRD Bayuwangi (21/8)/Foto: Ardian Fanani
Jakarta - Generasi muda atau yang lebih sering disebut sebagai generasi yang melek akan dunia digital memang menjadi isu yang paling santer untuk diperbincangkan dalam kontestasi pemilu di Indonesia, khususnya pada pemilu serentak 2019. Hubungan antara anak muda dan politik selalu berjalan dengan seiringnya waktu.

Sebenarnya, relasi tersebut mulai menampakkan dirinya ketika rezim Orde Baru di akhir masa periodenya. Dikutip dari Ariel Heryanto, bahwa fenomena anak muda berkecimpung dalam dunia politik --bukan berarti hanya politik praktis-- terlihat jelas ketika di awal Reformasi. Maraknya fenomena politik jalanan seperti demonstrasi selalu dimotori maupun didominasi oleh kaum muda.

Ketika rezim Orde Baru masih berkuasa, anak muda seolah-olah hanya menjadi "objek" bagi para elite nasional. Mereka selalu dihadapkan pada agenda-agenda ideologi politik negara yang bersifat hegemonik tersebut. Berbeda dengan generasi sekarang yang lebih ramah terhadap kemajuan teknologi, mereka cenderung bebas berekspresi dengan cara menampilkan identitasnya di berbagai ruang publik seperti pada kanal-kanal media sosial.

Meningkatnya jumlah pemilih pada generasi muda menjadi sebuah fenomena yang menarik. Pasalnya, beriringan dengan kehadiran kompetitor-kompetitor muda maupun kompetitor baru yang sangat mendominasi jalannya pemilu, terbukti pada masa pendaftaran caleg di tingkat nasional terdapat 878 caleg muda yang berusia di bawah 30 tahun. Ini merupakan peningkatan lebih dari 100 persen jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya, serta caleg termuda yang berusia 21 tahun sekitar 11 persen dari total 7986 calon legislatif.

Ratusan caleg muda tersebut menyebar di berbagai partai politik. Partai politik yang paling didominasi oleh anak muda adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI). PSI paling banyak mengusung caleg muda dengan 171 caleg, dan selalu mengkampanyekan keterlibatan anak muda dalam konstelasi politik. Kemudian disusul dengan Partai Garuda (84 caleg), PPP (81), PKB (78), PAN (58), Gerindra dan Perindro (56), Nasdem (52), dan partai-partai lainnya yang hanya mengusung caleg muda di bawah 50 orang.

Menuju Parlemen

Tidak sedikit pula terpilihnya caleg-caleg muda atau pendatang baru yang mendapatkan kursi legislatif dalam tingkat nasional. Berdasarkan temuan data yang diperoleh, caleg muda yang berkontestasi dalam rentang umur 21-35 tahun, khususnya di kawasan Pulau Jawa terdapat 30 caleg muda yang terpilih menuju parlemen.

Terpilihnya caleg muda jika dilihat berdasarkan wilayah dapilnya, Jawa Timur paling banyak di antara provinsi lainnya. Dapil dalam provinsi Jawa Timur mendapati sebanyak 8 caleg muda yang terpilih dalam pemilu kali ini, disusul Jawa Tengah dan Jawa Barat yang masing-masing daerah terdapat 7 orang caleg muda, kemudian provinsi Banten tercatat sebanyak 5 orang, serta DKI Jakarta 2 orang, dan yang terakhir DIY hanya 1 caleg muda yang terpilih.

Berdasarkan data tersebut, maka tak heran jika 3 provinsi besar yakni Jatim, Jateng, dan Jabar mendapatkan perolehan kursi caleg muda terbanyak, disebabkan persebaran DPT terbanyak pada 3 provinsi tersebut.

Keterpilihan caleg muda dalam kontestasi pemilu kali ini cukup menarik, pasalnya tidak sedikit caleg muda yang berhasil mendapatkan kursi legislatif nasional. Sebagian dari keterpilihan caleg muda di Pulau Jawa ternyata memiliki modal sosial yang cukup kuat. Kekuatan yang dimiliki oleh caleg muda tidak bisa terlepas dari peran keluarga, serta jaringan sosial yang dimilikinya. Hal ini yang menjadi penyebab maraknya caleg muda yang terjun dalam dunia politik.

Dua di antaranya adalah Ardhya Pratiwi dan Andika Pandu Puragabaya. Ardhya Pratiwi adalah seorang caleg muda yang berasal dari dapil Jabar X (Ciamis, Kuningan, dan Pangandaran). Ardhya merupakan kompetitor baru dalam pemilu ini, berbeda dengan Andika yang merupakan caleg petahana yang berasal dari dapil DIY. Keterpilihan mereka tidak bisa lepas dari peran ayahnya yakni Djoko Santoso yang merupakan Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno. Hadirnya figur Djoko Santoso memberikan dampak elektoral terhadap perolehan suara kedua anaknya.

Lemahnya pelembagaan partai politik di Indonesia membuat masyarakat cenderung memilih figur daripada partai politik itu sendiri. Perilaku pemilih dapat dilihat melalui pendekatan psikologis yang menjelaskan bahwa terjadinya personalisasi politik disebabkan salah satunya perbedaan ideologis antarpartai politik yang melemah (Gunther dan Diamond, 2001). Fenomena ini sekaligus menegaskan bahwa figur politik atau kandidat lebih penting daripada partai politik itu sendiri.

Publik tidak lagi memerlukan partai politik sebagai wadah saluran politiknya. Wacana diskusi yang berkembang sekarang bukan lagi pada "apa" dan "bagaimana", namun lebih terhadap "siapa" yang akan bertarung (Ambardi, 2009). Gejala seperti ini sudah sangat terlihat jelas, bagaimana sikap aktor politik tidak lagi mempertimbangkan institusi partai politik sebagai media dalam memperoleh perhatian publik. Justru yang ada hanyalah popularitas belaka, dan ini menjadi faktor determinan terhadap angka keterpilihan kandidat khususnya di kalangan caleg muda.

Media Sosial

Salah satu faktor lainnya dalam keterpilihan anak muda adalah penggunaan media sosial. Salah satu contoh, Paramitha Widya adalah caleg dapil Jateng IX yang berhasil lolos menuju Senayan. Lewat akun Instagram-nya menjelang hari pencoblosan, Paramitha menggunakan metode forum diskusi. Konstituennya mayoritas adalah perempuan, isu yang diangkat oleh Paramitha adalah tentang isu keperempuanan yang perlu mendapatkan tempat di hadapan publik.

Cara berkampanye dengan tatap muka tersebut selalu diunggah dalam media sosial yang dimilikinya. Dengan menggunakan cara seperti itu, kandidat tersebut menginginkan cara berkampanye yang efektif. Dalam setiap kedatangannya di desa-desa, Mitha selalu menyapa, bersalaman, melihat kondisi ekonomi masyarakat, serta memberikan konsultasi terhadap persoalan yang dialami warga. Aktivitas tersebut kemudian dikomentasikan menjadi video pendek dan diunggah di berbagai media sosialnya.

Cara yang digunakan melakukan pencampuran antara konvensional dan "kekinian". Kandidat memperoleh citra yang positif di hadapan masyarakat secara langsung, serta mendapatkan respons yang baik oleh para pengguna media sosial. Selain perlunya pencampuran secara bersamaan antara kampanye media sosial dan secara langsung, yang perlu dipertimbangkan lagi adalah isi pesan kampanye yang disampaikan oleh kandidat.

Seperti yang sudah dijelaskan, keterpilihan anak muda cenderung melakukan penyampaian isi kampanye dengan kalimat yang singkat dan padat. Banyaknya jargon-jargon unggulan yang menggunakan kosakata "muda" dimuat dalam media sosial, hal ini berkenaan dengan pangsa pasar yang dituju adalah seorang pemilih muda yang mempunyai sifat cenderung lebih praktis.

Nabil Lintang Pamungkas mahasiswa Magister Politik dan Pemerintahan (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada
(mmu/mmu)