detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 18 Agustus 2019, 12:08 WIB

Kolom

Dalam Kibaran Baju Kembang-Kembang

Mumu Aloha - detikNews
Dalam Kibaran Baju Kembang-Kembang Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Pergilah ke gerai-gerai fashion yang ada di mall hari-hari ini, maka kau akan menjumpai pemandangan mencolok penuh warna-warni menyilaukan mata terpancar dari deretan baju-baju yang digantung atau ditumpuk, yang model dan motifnya mengingatkanmu pada suasana liburan di pantai. Baju-baju berkain tipis, lembut, dengan potongan "gombrong", belahan leher rendah, dan bergambar bunga-bunga.

Gaya pantai rupanya tengah diusung ke kota seiring dengan merebaknya budaya liburan di kalangan masyarakat urban. Meskipun kita punya presiden yang antara lain populer dengan jargonnya "kerja, kerja, kerja", tapi sepertinya hal itu bukan alasan bagi industri pakaian jadi untuk membujuk konsumennya dengan iming-iming gaya yang sebaliknya, yang seolah justru ingin menekankan citra "santai, santai, santai".

Gerai-gerai seperti H&M, Cotton On, Pull and Bear, hingga Uniqlo --dan, tentu saja kemudian meluas "tiruan"-nya di kios-kios murah di mall-mall pinggiran dan ITC-- tak pernah sepi dari koleksi celana pendek, dengan aneka bahan dan model, yang semuanya seolah mengajak dan memberi alasan bagi calon pembeli untuk selalu tampil santai. Di Jakarta yang panas dan serba buru-buru ini, celana pendek memang cukup masuk akal sebagai pilihan, bahkan untuk segala suasana di luar jam kerja dan acara-acara formal.

Terbaru, sebuah brand sendal karet premium asal Brazil, yang biasa kita jumpai di setiap jengkal lokasi saat kita berlibur ke Bali, baru saja membuka gerai flagship pertamanya di Jakarta, yakni di Grand Indonesia. Seolah ini menjadi pernyataan yang semakin memberikan alasan bagi warga kota untuk mengandalkan sendal sebagai gaya untuk jalan-jalan ke mall.

Lengkap sudah: kemeja (atau kaos) kembang-kembang dengan warna mencolok, celana pendek, dan sendal jepit. Dengan penampilan semacam itu, kita pun siap menciptakan kondisi batin dan situasi mental "liburan ke pantai" dengan berjalan-jalan menyusuri pusat-pusat keramaian kota, atau duduk-duduk di kedai kopi favorit, tanpa harus "repot-repot" mengambil cuti, mengatur jadwal, menyusun anggaran, dan menyiapkan segala sesuatunya untuk pergi berlibur.

Tentu saja, alangkah bersyukurnya, dan sungguh menyenangkan adanya, jika kita memang bisa melakukannya. Cuti, memesan tiket pesawat, kamar hotel, dan lari dari segala rutinitas yang menjerat, untuk beberapa saat. Atau, seperti gaya para penulis terkenal, selebgram, dan kaum profesional mapan ibu kota, yang hampir setiap weekend bisa wara-wiri berlibur ke pantai-pantai yang mereka suka dan inginkan. Weekend gateway. Atau, holiday in the middle of work days.

Tapi, percayalah, liburan bukanlah momen yang bisa dimiliki oleh semua orang. Pada era ketika kita bisa memesan tiket pesawat dan kamar hotel serta merencanakan perjalanan sambil duduk di sela-sela kesibukan kerja dan makan siang yang terlambat karena jadwal meeting dengan klien, liburan memang sudah bukan lagi "barang" mewah.

Namun, sebagai mitos modern, kalau kita mengikuti Barthes, liburan adalah fenomena sosial baru, yang perkembangan mitologisnya, secara insidental, sangat menarik untuk dilacak lebih jauh. Mula-mula bagian dari dunia sekolah, sejak diperkenalkannya "cuti berbayar", liburan telah menjadi bagian dari dunia proletar, atau paling tidak kelas pekerja.

Barthes memberi contoh fenomena seorang penulis yang berlibur: Gide membaca Bossuet ketika berlibur ke Kongo, dan potretnya ditampilkan oleh Majalah Le Figaro. Ini memberikan gambaran singkat tentang kondisi ideal para penulis 'yang sedang berlibur' dalam rangka menambah kesenangan akan prestise yang didapatkan dari pekerjaan yang tak dapat dihentikan atau ditundukkan oleh apapun.

Berbeda dengan orang-orang yang tengah berlibur bersamanya, misalnya pekerja pabrik atau asisten toko, seorang penulis dalam liburannya tidak berhenti --jika tidak benar-benar bekerja, sekurang-kurangnya-- memproduksi. Kalau Anda punya teman seorang penulis novel misalnya, atau bahkan seandainya Anda sendiri adalah seorang penulis, maka bukan sesuatu yang mengherankan bahwa dia, mereka, Anda kadang justru "berlibur" dengan tujuan untuk bekerja, yaitu menulis.

Bahkan, tidak perlu jauh-jauh. Lihat saja di sekitar kita: para penulis yang duduk di Starbucks atau kafe-kafe kopi yang menjamur di jalan-jalan sepi perkotaan, biasanya justru datang ke situ untuk sengaja mencari suasana yang mendukung untuk "bekerja" --bukan benar-benar menikmati suasana santai, bergosip, dan minum kopi seperti pengunjung lain pada umumnya.

Seorang novelis kadang perlu "berlibur" dalam waktu lama untuk menyiapkan karya terbarunya, yang sudah diburu-buru oleh editor dan penerbit. Dalam istilah Barthes, dia adalah seorang "pekerja palsu", dan sekaligus seorang "pencipta libur-palsu". Seolah menjadi hal yang cukup "alamiah" bahwa menjadi seorang penulis berarti harus menulis (baca: bekerja) pada waktu apapun dan dalam situasi apapun.

Minimal, para penulis yang sedang menikmati liburannya, kalau pun tidak melakukan apa-apa, mereka akan terus-menerus "bekerja" membangkitkan semangat, mencari inspirasi --seorang "tiran" bagi dirinya sendiri, dengan liburan sebagai medianya.

Kita semua, siapapun kita, yang hidup pada masa kini, bisa bercermin dari mitologi Barthes tentang "penulis yang sedang berlibur". Dengan gadget di tangan, dan dengan keterhubungan digital yang tak pernah terputus sedetik pun, apa bedanya kita dengan mereka? Siapapun kita --pegawai negeri, manajer pabrik, pekerja kreatif, "anak agensi", kepala bagian sebuah BUMN....

Dengan laptop dan secangkir kopi, kita duduk di sudut kafe dan "menikmati" bekerja di akhir pekan. Ketika seorang teman, atau kita sendiri, nge-tweet pernyataan semacam baru nyampai rumah langsung buka laptop lagi, kita mungkin benar-benar tidak tahu lagi apakah itu sebuah keluhan atau pamer, betapa pentingnya kita dalam mata rantai pekerjaan kita. Kita bahkan diam-diam dan tanpa sadar, atau sebenarnya sadar dan bahkan sengaja, sering meromantisasi kerja lembur.

Kantor dan jam kerja seperti bayang-bayang yang mengikuti langkah kita, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi dari kehidupan. Ironisnya, kita berlibur, menciptakan budaya liburan, melahirkan jargon-jargon gagah seperti "my trip my advanture" dalam rangka mengantisipasi bayang-bayang yang menghantui itu: kita berlibur untuk men-charge semangat kita, agar kembali siap untuk menghadapi hari-hari kerja berikutnya!

Kita pergi ke pantai untuk menikmati udara segarnya yang bersih, angin basahnya yang dingin, debur ombaknya yang membangkitkan sesuatu dalam diri, dan secara umum, pemandangannya yang indah tak pernah membosankan untuk dinikmati walau hanya dengan duduk diam di atas pasir berjam-jam.

Kita berlibur untuk menekan tombol "kembali ke awal", agar siap menjalani hari-hari yang terbentang panjang di depan dengan lebih segar, lebih bergairah, lebih bersemangat, dan mampu melahirkan ide-ide baru, inovasi dahsyat, dan hasil kerja yang memuaskan. Namun, ketika kembali ke dunia nyata, menghadapi pekerjaan yang menumpuk, persoalan hidup, masalah keluarga, pikiran kita kembali kacau, kelelahan fisik dan batin mendera, dan kita kembali memikirkan rencana untuk liburan.

Inilah siklus tak berujung yang harus kita hadapi. Seperti hamster yang terjebak dalam roda berputar. Seperti Sisipus yang dihukum oleh para dewa untuk mendorong sebuah batu besar sampai ke puncak gunung; dari puncak gunung batu itu akan menggelinding ke bawah karena beratnya sendiri, dan Sisipus harus mengulanginya lagi mendorongnya ke puncak, begitu seterusnya --seperti diceritakan kembali oleh Albert Camus untuk menggambarkan pergulatan manusia dengan absurditas kehidupan.

Gaya pantai yang diusung ke kota oleh gerai-gerai fashion di mall itu sepintas hanyalah tawaran biasa, namun sebenarnya cukup "subversif" untuk membangun kesadaran bahwa dalam keterbatasan, kita masih punya pilihan. Bahwa kadang kita memang hanya perlu hal yang biasa-biasa saja untuk hasil yang luar biasa. Tekanan pergaulan sosial era Instagram, dalam wujud kata-kata ledekan "kurang piknik", betapapun tidak seriusnya, betapapun bercandanya, lambat-laun membuat kita merasa alangkah tidak menariknya hidup kita, alangkah tertinggalnya kita dengan yang lain, kalau kita tidak pernah bepergian ke mana-mana --sementara, bagaimana pun juga, piknik itu mahal, dan tidak semua orang punya prestise dan privilege, misalnya dalam soal waktu, untuk merasakan pengalaman itu.

Tren industri busana hari ini memberi kita jalan keluar yang sederhana namun brilian, membantu kita keluar dari kemelut itu: jika dunia tidak berjalan sesuai yang kita inginkan, mungkin lebih baik kitalah yang mengubah diri kita. Baju kembang-kembang, celana pendek, dan sendal jepit mengajari kita bahwa hanya dengan mengubah gaya, penampilan, kita bisa menghadirkan kehidupan yang lebih riang, lebih ringan, dan lebih santai untuk dijalani.

Kita tidak perlu pergi ke pantai, kalau memang tidak ada waktu dan biaya untuk itu. Kita bahkan tidak perlu tinggal di dekat laut, dan membangun rumah kecil menghadap ke arah matahari terbenam, seperti di film-film atau novel-novel. Kita hanya perlu bergaya, membebaskan diri, seolah-olah kita sedang berada di sana, dan menikmati suasananya, kapan saja kita mau. Jangan lupa, tambahkan topi dan kaca mata hitam, dan mari kita tawar dunia dengan apa yang bisa kita beli, dan kita punya.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com