detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 17 Agustus 2019, 14:10 WIB

Kolom

Menggapai Indonesia Raya

Novance Silitonga - detikNews
Menggapai Indonesia Raya Bendera Merah-Putih berkibar di Tebing Citatah (Foto: Yudha Maulana)
Jakarta -
Kebanyakan kita lebih menganggap pemilu sebagai pesta rakyat. Tentu tidak salah beranggapan demikian, namun sebaiknya kita juga mau menempatkan dan beranggapan hari kemerdekaan bangsa Indonesia adalah pesta rakyat menyambut kemenangan. Pesta yang tidak diwarnai kompetisi, pembelahan masyarakat secara diametral, melainkan memperingati kemenangan sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

Menang sebuah kontestasi pemilu belum tentu berdarah-darah, namun merebut sebuah kemerdekaan dari tangan penjajah sudah pasti berdarah-darah dalam artian sebenarnya. Taman Makam Pahlawan bukti bisu darah anak bangsa meraih kemerdekaan. Inilah sebabnya mengapa memperingati hari kemerdekaan seharusnya disambut dengan rasa syukur melalui kontemplasi mendalam atas semua yang telah diraih.

Kita memiliki keyakinan bersama bahwa hanya dengan kemerdekaan dan kebebasan, sebuah bangsa mampu meraih kehidupan yang lebih baik dan maju, mampu bersaing dan bersanding dengan negara-negara maju lainnya bahkan negara yang dulu pernah menjajahnya. Kemandirian dan tidak tergantung dengan bangsa lain menjadi syarat menjadi sebuah bangsa besar dan disegani.

Jejak Hidup

Tahun ini Indonesia sudah lebih 7 dekade menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan mandiri, tepatnya 74 tahun. Sepanjang itulah Indonesia terus menapaki kehidupan dalam menjaga kemerdekaan di tengah-tengah anak bangsanya yang sangat plural baik dari suku, agama, golongan, dan identitas lainnya. Potret pluralisme itu menjadikan Indonesia rawan perpecahan dan disintegrasi.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, lebih dari 17 ribu pulau dan luas geografis hampir 2 juta kilometer persegi dan 2/3 merupakan lautan serta dikelilingi banyak negara, Indonesia juga harus mengamankan wilayahnya dari segala macam bentuk serangan dari negara luar yang berusaha menjajah kembali.

Sejak kemerdekaannya, ada jejak yang dapat dilihat dan senantiasa hidup. Beberapa di antaranya; pertama, demokrasi tetap menjadi pilihan dalam praktek sistem pemerintahan. Walaupun sejarah mencatat demokrasi Indonesia memiliki catatan kelam dimana Orde Lama (Sukarno) dan Orde Baru (Suharto) memberikan tafsir demokrasi berdasarkan kekuasaan yang dimilikinya.

Ada pula masa ketika demokrasi Indonesia dirongrong oleh anak bangsa sendiri dan ingin menggantikannya dengan komunis. Bahkan sampai saat ini masih ditemukan kekuatan (dalam bentuk pemikiran/gagasan/ide) yang menganggap demokrasi sebagai produk barat dan tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa demokrasi adalah sebuah keniscayaan yang senantiasa hidup di negeri ini.

Indonesia memilih demokrasi sebagai sebuah sistem pemerintahan karena dipercaya demokrasi mendatangkan perdamaian, menjadi the only game in town. Lebih jauh, perkembangan demokrasi di Indonesia sudah lebih mapan dan lebih terkonsolidasi. Pemilihan presiden secara langsung, pemilukada serentak, pemilihan presiden dan legislatif serentak, yang awalnya dikhawatirkan memecah belah kerukunan sosial karena friksi yang tajam, ternyata dapat diselesaikan melalui prinsip dasar demokrasi, yaitu supremasi hukum yang mampu menjaga stabilitas. Kita menyaksikan secara terbuka, bagaimana kesatuan sosial terajut kembali pasca kontestasi pemilu dan pemilukada.

Kedua, munculnya para pemimpin altruis. Kemunculan para pemimpin yang lebih mementingkan hajat orang banyak (rakyat) daripada diri sendiri dan golongannya (partai politik) sudah mulai dirasakan negeri ini. Pemimpin yang berani berucap my loyality to my party ends where my loyality to my country begins.

Dalam konteks global, pemimpin seperti Dalai Lama, Bunda Teresa, Mahatma Gandhi adalah figur yang berperilaku altruistik. Risma (Walikota Surabaya), Basuki Tjahaja Purnama (mantan Gubernur Jakarta), Rahmat Effendi (mantan Walikota Bekasi), Joko Widodo (Presiden) untuk sebagian orang dianggap mewakili pemimpin yang berperilaku altruistik. Kita sering menyaksikan para pemimpin yang harus berurusan dengan KPK karena kasus korupsi. Mereka adalah pemimpin korup yang tidak melayani rakyat, khianat atas amanah yang diberikan.

Ketiga, toleransi di masyarakat akar rumput. Indonesia telah mempromosikan dialog lintas-agama di kancah regional dan internasional sejak 2004. Hal ini dilakukan dalam forum Asia Pasific Economic Forum (APEC) dan United Nations Alliance of Civilization (UNAOC). Bahkan negara tetangga seperti Australia, belajar praktik-praktik kehidupan toleransi di Indonesia. Mereka menganggap Indonesia sebagai pemimpin dunia dalam dialog lintas-iman secara global.

Toleransi benar-benar hadir dan dapat dirasakan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Berdirinya secara berdampingan 3 rumah ibadah (gereja, mesjid, dan pura) di Karanganyar (Jawa Tengah), pecalang (umat Hindu) menjaga ibadah Idul Fitri di Denpasar (Bali), halaman Gereja Kathedral Jakarta menjadi tempat parkir untuk umat muslim yang salat di Mesjid Istiqlal dan umat Muslim menjadi panita pada perayaan hari besar umat Nasrani di Tambraw (Papua) merupakan bukti hadirnya toleransi di Indonesia. Toleransi yang demikian besar itu bukan karena desakan dan tuntutan pemerintah, melainkan tumbuh atas kesadaran sendiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

Berbagai interupsi memang masih ditemukan, misalnya perkembangan paham radikal yang semakin masif akhir-akhir ini, berbagai aksi penutupan tempat ibadah dan penganiayaan terhadap kelompok minoritas. Tentu ini menjadi perhatian serius dari pemerintah dan negara.

Keempat, Pancasila dan NKRI. Pilihan para pendiri bangsa menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup bersama dan negara kesatuan sebagai bentuk negara adalah final dan tak dapat ditawar. Kekuatan apapun yang berupaya untuk menggantikannya dipastikan akan gagal. Pancasila adalah "pijakan" bersama bagi bangsa yang sangat majemuk. Jejak Pancasila sebagai pemersatu bangsa sudah teruji dan tidak tergantikan oleh apapun.

Perekat Persatuan

Menyambut 74 tahun Indonesia merdeka, sebagai anak-anak bangsa kita perlu menyadari tantangan ke depan yang semakin berat dan sulit. Kita harus menerima bahwa perbedaan identitas bukan sebuah laknat melainkan berkat yang mesti dikelola sehingga menjadi kekuatan yang dapat digunakan mengisi kemerdekaan.

Sejarah telah membuktikan sejak peristiwa Kebangkitan Nasional 1908 kemudian disusul Sumpah Pemuda 1928 dan selanjutnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945 hingga saat ini, eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara bangsa masih tetap kokoh berdiri karena semua anak bangsa menempatkan persatuan Indonesia di atas berbagai perbedaan yang ada.

Perbedaan yang kita miliki harus menjadi perekat bagi persatuan dan kesatuan nasional. Loyalitas primordial harus tunduk pada loyalitas nasional, sehingga dengan demikian persatuan akan semakin kokoh dan melaluinya Indonesia dapat membangun dirinya menjadi Indonesia Raya. Dirgahayu Indonesia!

Novance Silitonga Direktur Populus Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com