ADVERTISEMENT
detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 13 Agustus 2019, 16:15 WIB

Kolom

Inovasi Bukan Sekadar Kemampuan Teknologi

Ikbal Maulana - detikNews
Inovasi Bukan Sekadar Kemampuan Teknologi Sebuah inovasi unik dari Jepang (Foto: Boredpanda)
Jakarta - Kata inovasi tidak lagi asing bagi kita. Kata ini berseliweran dalam berita tentang bisnis, kemajuan ekonomi, ataupun perkembangan teknologi. Kata ini kerap muncul berbarengan dengan kata teknologi, entrepreneur, ataupun daya saing. Inovasi sudah lama dipahami sebagai penggerak utama evolusi ekonomi. Namun, saat ini inovasi lebih menjadi perhatian lagi karena dampaknya bisa radikal. Dan, ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju.

Di Indonesia, masyarakat juga menyaksikan bagaimana Gojek dan Grab mengubah bisnis angkutan dan pengiriman jarak pendek dalam kurun yang relatif singkat. Banyak perusahaan taksi kecil harus gulung tikar, dan yang besar dengan susah payah harus menyesuaikan diri dengan mereka. Inovasi radikal ini juga membuka peluang-peluang baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Melalui layanan Go-Food dan Grab-Food, bisnis makanan bisa meluaskan jangkauan layanannya tanpa harus memiliki armada pengiriman sendiri. Bahkan orang-orang yang tidak memiliki warung atau restoran juga bisa memanfaatkannya untuk menjual makanan mereka secara daring.

Inovasi yang ada pada Gojek dan Grab merupakan kombinasi pemanfaatan teknologi dan model bisnis. Model bisnis mereka dimungkinkan oleh perkembangan teknologi terkini. Inovasi, meskipun secara keseluruhan tampak sebagai sesuatu yang baru, lebih merupakan kombinasi dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Ada unsur-unsur lama yang dimodifikasi, dan lebih sedikit lagi unsur yang benar-benar baru.

Gojek dan Grab tidak akan muncul jika tidak ada internet dan ponsel yang bisa menjalankan aplikasi dan memiliki fungsi GPS. Peran regulator juga menentukan. Layanan yang mengawali bisnis mereka, yakni Go-Ride dan Grab-Bike, tidak akan bisa berjalan jika pemerintah bersikukuh bahwa kendaraan roda dua tidak bisa dijadikan angkutan umum.

Setiap bisnis membutuhkan ekosistem tertentu. Jika unsur dari ekosistem tersebut tidak lengkap, seorang wirausahawan harus melengkapinya, apakah dengan menciptakannya ataupun dengan memasukkan unsur yang ada di luar. Gojek, Grab, Tokopedia, dan perusahaan-perusahaan penyedia platform bagi bisnis-bisnis lain tersebut tidak akan mampu bertahan hanya dengan inovasi teknologi dan bisnis model belaka. Yang mereka lakukan sangat radikal (meskipun sudah ada contohnya di luar negeri), dan karena itu membutuhkan biaya mahal.

Mereka mentransformasi industri, membangun interaksi dan transaksi baru dengan bisnis atau perorangan yang menjadi mitranya maupun dengan masyarakat pelanggan. Ini membutuhkan proses edukasi, serta adaptasi semua pihak, termasuk pengambil kebijakan. Ini membutuhkan proses panjang sebelum sistem platform tersebut stabil dan digunakan secara luas. Upaya membujuk bisnis atau perorangan yang berbisnis dan masyarakat pelanggan menggunakan platform tersebut membutuhkan biaya besar.

Mitra mereka hanya akan bersedia berpartisipasi jika mereka mendapatkan keuntungan dari keikutsertaan tersebut. Sementara pelanggan menuntut adanya pilihan yang luas, kemudahan transaksi, serta harga yang bersaing. Sementara bagi industri keuangan lokal, apa yang dilakukan Gojek dan lain-lainnya ini berada di luar nalar bisnis mereka. Ini mengakibatkan para operator platform ini harus mengandalkan investor global yang sudah akrab dengan model bisnis mereka.

Hal di atas menunjukkan inovasi tidak hanya memiliki dimensi teknologi, tetapi juga bisnis, regulasi, dan lainnya. Bahkan teknologi yang mereka gunakan juga tergantung pada teknologi-teknologi lain yang dipasok dari mana-mana. Suatu perusahaan, atau satu negara sekalipun, perlu membangun kemampuan inovasinya, tetapi tidak berarti mereka harus atau perlu lepas dari ketergantungan terhadap pihak lain. Perusahaan yang dikenal sangat inovatif seperti Apple tetap harus mengandalkan teknologi dari perusahaan-perusahaan lain juga. Misalnya, layar iPhone dipasok oleh Samsung dari Korsel, sementara proses produksinya dilakukan oleh Foxconn di Tiongkok.

Saat ini adalah era ekonomi berjejaring, tidak mungkin pelaku ekonomi bisa membangun daya saingnya dengan memisahkan diri dari jejaring tersebut. Membangun jejaring teknologi, bisnis, dan modal sangat diperlukan dalam menjaga kelangsungan inovasi. Perkembangan ekonomi saat ini menuntut para pelaku ekonomi bersaing sekaligus berjejaring. Produk-produk dari berbagai negara bisa bersaing di pasar lokal yang sama. Sementara produk yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal sekalipun bisa menggunakan komponen-komponen dari berbagai negara.

Penciptaan nilai tambah dan daya saing satu perusahaan tergantung pada tingkat inovasinya, yang bertahan sampai inovasi tersebut ditiru ataupun disaingi oleh inovasi lain yang memenuhi fungsi yang sama. Inovasi tidak harus radikal seperti yang beberapa kali dilakukan Apple, tidak harus berdampak besar seperti yang dihasilkan Google, tidak harus mentransformasi industri, seperti inovasi platform bisnis dari Gojek atau Tokopedia. Inovasi bisa saja dilakukan UKM dengan dampak kenaikan produktivitas yang tidak istimewa, tetapi jika dilakukan oleh banyak UKM di negara kita, maka dampaknya secara keseluruhan menjadi kenaikan produktivitas di tingkat nasional.

Berbicara tentang inovasi, termasuk inovasi teknologi, adalah berbicara tentang bisnis dan industri. Pada akhirnya inovasi adalah bagian dari pertarungan bisnis. Kebijakan inovasi sudah semestinya merupakan bagian dari kebijakan industri. Pengembangan ilmu dan teknologi, yang bisa meningkatkan cadangan pengetahuan yang bisa dikombinasikan untuk keperluan inovasi, seharusnya menjadi pendukung bagi kebijakan industri. Tidak diperlakukan sebagai sektor sendiri yang sepenuhnya menjadi urusan Kemenristek Dikti.

Ketidakmampuan mengintegrasikan kebijakan penelitian dan pengembangan (litbang) teknologi dengan kebijakan industri merupakan gejala umum di negara-negara berkembang. Seolah kemajuan teknologi bisa dicapai hanya dengan mengalokasikan dana untuk kegiatan litbang teknologi semata. Kemampuan teknologi Taiwan, Korsel, maupun Tiongkok ditunjukkan oleh produk-produk teknologi mereka yang membanjiri pasar dunia. Kemampuan teknologi ini telah menaikkan tingkat kemakmuran mereka dari negara berpendapatan rendah menjadi negara berpendapatan tinggi. Sementara negara-negara seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand, karena tidak bisa terus meningkatkan kemampuan inovasinya, berada dalam perangkap pendapatan menengah (Middle Income Trap).

Hal di atas membuat banyak orang beranggapan bahwa aktivitas litbang teknologi adalah hal yang utama dalam mengejar kemajuan teknologi. Fokus mereka hanya mendorong pengembangan ilmu dan teknologi, tanpa membenahi kondisi-kondisi yang mendorong pengembangan tersebut, dan mengabaikan faktor-faktor yang membatasi ataupun mengurangi motivasi pengembangan ilmu dan teknologi.

Jika hanya fokus pada kegiatan pengembangan teknologi, negara kita sudah pernah melakukannya di era B.J. Habibie menjadi menteri riset dan teknologi. Negara kita sudah mengalokasi anggaran yang besar untuk mengembangkan industri dirgantara dan beberapa industri strategis lainnya. Banyak mahasiswa juga sudah dikirim untuk belajar ilmu-ilmu teknik atau rekayasa ke negara-negara maju, seperti Belanda, Jepang, Jerman, dan lain-lainnya. Perhatian B.J. Habibie saat itu sangat baik karena mencoba menguatkan industri-industri tertentu serta kegiatan litbang pendukungnya. Saat ini kebijakan pengembangan ilmu dan teknologi justru terpisah dari kebijakan industri. Upaya mensinergikannya aktivitas industri dan litbang secara intensif dan mendalam masih belum tampak.

Mengharapkan kemampuan teknologi bangsa akan maju hanya dengan mendorong kegiatan litbang di perguruan tinggi dan lembaga litbang bisa dianalogikan dengan kesebelasan sepak bola yang ingin menjadi juara hanya dengan mengandalkan pemain penyerangnya (striker) saja, tetapi mengabaikan pemain-pemain pada posisi lainnya. Jika penyerangnya bagus otomatis prestasi kesebelasan akan dianggap bagus juga. Padahal tim sepak bola juga membutuhkan pemain-pemain lain, mulai dari penjaga gawang, pemain bertahan sampai gelandang. Dan, yang tak kalah pentingnya, sehebat apapun masing-masing pemain ini, mereka perlu berlatih untuk menemukan kerja sama yang tepat yang bisa menghasilkan keunggulan tim.

Dalam pengembangan teknologi nasional berbagai pihak memiliki peran yang berbeda-beda. Dan, yang perlu disadari, penyerangnya bukanlah lembaga litbang atau perguruan tinggi teknologi, tetapi industri itu sendiri. Karena ujung daya saing suatu bangsa adalah daya saing industri. Pada akhirnya buah dari inovasi harus dipertarungkan di pasar, atau di bidang pemanfaatan lain yang non-komersial. Karena itulah, untuk inovasi komersial, sektor bisnis harus jadi sasaran utama kebijakan inovasi. Sedangkan lembaga litbang, perguruan tinggi, pendanaan riset pemerintah, dan lain-lain yang terkait adalah struktur pendukung yang diperlukan untuk mendukung sektor bisnis tersebut.

Kebijakan inovasi perlu menyelaraskan struktur pendukung dengan sektor bisnis. Lembaga litbang teknologi perlu merencanakan kegiatannya agar bisa memenuhi kebutuhan industri. Untuk itu, penelitian mereka harus bertolak dari kebutuhan industri. Selain itu sistem insentif mereka juga harus dirancang agar mereka bersedia bekerja melayani industri, dan bahkan mampu bekerja mengikuti ritme kalangan industri yang serba cepat, tidak mengikuti sistem penganggaran birokrasi.

Saat ini para pemegang jabatan fungsional peneliti dan perekayasa, ataupun akademisi, memiliki sistem insentif sendiri yang tidak sepenuhnya selaras dengan kepentingan industri. Karier mereka bisa terus naik walaupun lepas dari industri. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah fokus. Sebagai negara berkembang kita memiliki keterbatasan sumber daya modal, manusia, dan teknologi. Dengan keterbatasan ini, kita tidak mungkin mengejar terlalu banyak hal. Untuk lebih mendayagunakan modal yang ada perlu dibuat prioritas, menentukan sasaran tertentu. Taiwan pada awal perkembangannya,menyasar industri mikroelektronik, dan Korsel mendirikan industri baja yang bisa memasok pembangunan infrastruktur dan industri manufaktur yang dikembangkan belakangan.

Di masa Orde Baru, Indonesia lebih mirip Korsel daripada Taiwan dalam menentukan sasaran. Indonesia berfokus pada beberapa sektor industri dan masing-masing mengandalkan satu perusahaan negara. Ini mirip dengan Korsel yang memulai pembangunan teknologinya melalui perusahaan negara yang membuat baja, lalu melalui beberapa perusahaan raksasa lokal (chaebol). Sementara itu Taiwan memilih satu sektor, yakni mikroelektronika, dan melibatkan banyak aktor industri. Melalui lembaga pemerintah Industrial Technology Research Institute (ITRI), Taiwan secara aktif mendifusikan pengetahuan dan teknologi baru ke puluhan perusahaan lokal. Awalnya teknologi ini diperoleh dengan cara melisensi teknologi dari luar, dan secara bertahap mereka melakukan pengembangan sendiri.

Kebijakan inovasi yang mengandalkan banyak perusahaan ini lebih terbuka pada kemungkinan memunculkan perusahaan-perusahaan yang unggul dan inovatif. Sementara yang mengandalkan satu perusahaan lebih berisiko, karena jika gagal, tak ada lagi yang diandalkan. Dan mengandalkan perusahaan pemerintah lebih berisiko lagi karena pemerintah akan melakukan berbagai cara agar perusahaannya tidak tampak gagal. Korsel yang mengandalkan chaebol bisa mengatasi risiko ini. Ini antara lain karena kebijakan inovasi mereka tidak semata-mata pengembangan teknologi semata, tetapi menggunakan kebijakan-kebijakan lain yang saling menguatkan. Dan, yang jauh lebih penting adalah adanya proses pembelajaran kebijakan (policy learning), adanya kemampuan dan kemauan untuk mendeteksi kegagalan, dan dengan segera mengoreksi kebijakan yang tidak tepat tersebut.

Ikbal Maulana peneliti di bidang filsafat dan kajian sosial teknologi di Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Iptekin (P2KMI) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed