detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 24 Juli 2019, 15:40 WIB

Mimbar Mahasiswa

Meredupnya Gerakan Intelektual

Robbyan Abel R - detikNews
Meredupnya Gerakan Intelektual Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Iklim intelektual menjadi tolok ukur tersendiri dalam melihat terbentuk atau tidaknya suatu wacana pada sebuah wilayah kekuasaan tertentu. Wacana dapat berfungsi dengan baik apabila posisinya dimanfaatkan sebagai poros perubahan, atau katakanlah, pertimbangan politik dalam menentukan kebijakan oleh pemerintah. Dalam proses kerja seperti inilah, para sosok intelektual wajib muncul di barisan terdepan.

Sebab, akan mengkhawatirkan saat seorang intelektual bersembunyi di balik meja-meja kampus, atau hanya berkandang di perpustakaan semata-mata untuk menertawakan peristiwa getir yang disebabkan oleh ketidakbecusan penguasa, tanpa ikut andil dalam mencari jalan tengah. Realitas ini rasanya perlu diluruskan, melihat pantulan kondisi masyarakat yang semakin terdesak menuju kesesatan berpikir (logical fallacy) pada masa-masa politis beberapa tahun terakhir.

Polarisasi yang terjadi pada masyarakat misalkan, membuat kerukunan dan multikulturalitas semakin kehilangan tempat. Belum lagi konflik horizontal antarkelompok yang disebabkan perbedaan sikap politik, kerap kali berujung pada kekerasan secara langsung. Selama itu terjadi, rasanya jarang kita saksikan upaya untuk memediasi atau mengantisipasi berbagai bentuk perpecahan. Seakan-akan kenyataan itu telah diwajarkan oleh keruhnya situasi politik.

Tentu saja hal ini bisa terus berlanjut hingga konteks pilkada serentak mendatang. Tingkah laku di luar rasionalitas dibenarkan demi menggaet simpati. Mulai dari sentimen agama hingga stigmatisasi terhadap suatu ras atau etnis yang menyebabkan mereka teralienasi sebagai peserta demokrasi.

Orientasi Intelektual

Orientasi intelektual pada hakikatnya harus berpihak pada yang tidak bermodal (tertindas). Kelompok intelektual mau tidak mau harus memfasilitasi segala jenis kekurangan melalui pemberdayaan sosial. Tanggung jawab seorang intelektual untuk mengaplikasikan kapasitasnya amatlah penting. Kaum terdidik yang mengemban identitas sebagai seorang sarjana atau profesor adalah suatu perkara serius yang perlu ditindaklanjuti. Merekalah yang perlu dicari apabila masyarakat terjebak pada kondisi stagnan atau yang paling kacau sekalipun

Orientasi kelompok intelektual harus diputar kembali. Dari orientasi yang berpihak pada suasana kapitalistik menuju suasana yang merakyat. Meski (barangkali) tidak mudah untuk terlepas dari jeratan tersebut, yang senantiasa memaksa untuk adaptif dengan gerbong modernitas, serta terlepas dari kecenderungan pada nilai-nilai ekonomi dan material. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa peran intelektual untuk membuka jalan baru yang berada di luar arus besar penuh dikte itu dapat terlaksana.

Meski saat ini masyarakat pelan-pelan sudah terbentuk sebagai individu kompetitif. Anak-anak yang masih mengemban pendidikan dasar, remaja, atau pemuda yang berangkat dari desa untuk mempertaruhkan hidupnya di kota, nyaris kesemuanya memiliki cita-cita yang cenderung individualis. Ketimbang melakukan suatu perubahan besar secara kolektif.

Desa menjadi sepi, dan pemudanya berkarier di tempat-tempat jauh. Anak-anak yang masih berseragam mengganti tujuan hidupnya sebagai seorang influencer. Remaja menghabiskan waktu di pinggir jalan, memamerkan modifikasi motor atau mobil dengan polusi suara yang membikin telinga pekak.

Lantas, setelah fenomena itu hampir selalu mudah ditemui, dan bahkan sampai dianggap sebagai peristiwa wajar, ke manakah para kaum intelektual? Akankah kecurigaan lama yang menyebut mereka sebagai kelompok yang sibuk mengerjakan proyek besar para pemilik modal (penindas) masih berlaku hingga saat ini?

Mungkin asumsi tersebut memang tidak bisa menjadi acuan untuk menggeneralisasi kondisi kelompok intelektual --di luar struktur masyarakat yang terlanjur membuat keberadaan mereka terkesan asing-- tetapi perlukah para kelompok intelektual itu menunggu datangnya situasi gawat seperti masa-masa menjelang Reformasi 98 untuk turun menemui masyarakat sebagai wujud pertanggungjawaban moral?

Jalan Panjang Perubahan

Kali ini, masyarakat lebih sering mencari cara-cara praktis dalam mengepul pengetahuan. Daripada mengikuti acara-acara diskusi atau forum yang memungkinkan kita untuk bersilang pendapat, atau setidaknya melalui suatu pertemuan yang dapat melahirkan konsensus dalam menentukan arah baik kehidupan bersama.

Besar kemungkinan hal itu terjadi karena kurangnya pengawalan dari gerakan-gerakan intelektual. Ketika gerakan intelektual meredup, dan wacana menjadi tidak teratur dan sulit dibaca dengan terang, maka sudah barang pasti masyarakat akan merelakan dirinya pada jurang kesesatan berpikir sehingga membuat mereka enggan untuk diajak bekerja sama.

Alhasil, akan muncul sifat-sifat intoleransi, kriminalitas semakin tinggi, tindakan amoral dianggap normal, serta perhatian masyarakat terhadap rantai tradisi dan kebudayaan terputus.

Semestinya perlu diingat, bagaimana Sukarno pada masa-masa revolusioner berhasil membangun wacana perlawanan melalui istilah nasionalisme, sehingga membuat rakyat memiliki kesadaran kolektif untuk memusuhi kolonialisme. Atau tentang Gus Dur, yang dengan berani "memanggungkan" kelompok-kelompok minoritas dengan gerakan toleransi. Tan Malaka, tanpa diketahui oleh siapapun, mengorganisasi pemuda progresif dan memerangi barisan intelektual belanda dengan berbagai pewacanaan dari sayap kiri.

Mereka, para kaum intelektual itu, mengorbankan jalan panjang hidupnya demi keselamatan sejarah dan keberlangsungan hidup orang banyak. Siapa pun tahu, tidak semua perjuangan berjalan mudah. Musuh dan belantara konflik adalah keniscayaan yang wajib dihadapi. Namun pada titik itulah, tanggung jawab moral seorang intelektual dipertaruhkan.

Robbyan Abel R mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com