detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 24 Juli 2019, 11:09 WIB

Kolom

Lepas dari Jeratan Harga Cabai

Agus Dwi Nugroho - detikNews
Lepas dari Jeratan Harga Cabai Foto: Adhar Muttaqin
Jakarta -

Beberapa hari ini kenaikan harga cabai ramai menghiasi media massa nasional. Harga cabai di beberapa wilayah, misal di Banyuwangi, bahkan sudah mencapai harga Rp 70 ribu per kg (detikcom, 14/7). Serangan jamur Colletotrichum capsici, penyebab penyakit antraknose ("patek") dituding menyebabkan gagal panen pada tanaman cabai secara massal. Akibatnya jumlah pasokan cabai di pasaran turun drastis, sementara permintaan masih tetap tinggi. Hal inilah yang membuat harga cabai melambung tinggi.

Pola harga seperti ini telah terjadi sejak lama dan seharusnya dapat menjadi deteksi dini untuk mengambil langkah pengendalian. Namun, belum ada penyelesaian nyata dari seluruh stakeholders. Kalaupun ada solusi, langkah paling sering dilakukan adalah impor.

Stabilisasi Stok

Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mengatasi kenaikan harga cabai adalah stabilisasi stok dalam negeri dengan mengutamakan peningkatan produksi domestik. Langkah ini dapat dilakukan dengan strategi perbaikan pada subsistem budidaya (on farm). Pemerintah sebenarnya telah menyusun standar budidaya cabai yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP).

Namun, implementasi GAP ini tidak secara kontinu dilakukan oleh petani karena tidak adanya pendampingan yang berkelanjutan dari stakeholders. Untuk itu, diperlukan desain kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan peneliti, serta masyarakat atau swasta dalam melakukan pendampingan kepada petani. Pemerintah melalui petugas penyuluh lapangan merupakan aktor utama melalui kegiatan pendampingan rutin kepada petani, sedangkan stakeholders lainnya sebagai pendukung yang dapat pula turut aktif memberikan pendampingan kepada petani.

Beberapa Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian pertanian memiliki aktivitas pengabdian masyarakat yang nantinya perlu disinergikan untuk mendampingi petani dalam budidaya cabai. Dengan adanya pendampingan ini petani dapat meningkatkan kuantitas efisiensi produksinya sehingga petani juga memperoleh keuntungan yang wajar.

Selain GAP, aspek budidaya cabai saat ini perlu diarahkan untuk penggunaan varietas unggul tahan OPT. Berbagai hasil penelitian dari Badan Penelitian dan Pengembangan (litbang) dan Perguruan Tinggi menunjukkan ada beberapa varietas cabai yang tahan OPT. Namun, aktivitas tersebut membutuhkan sumber daya sangat besar, terutama dalam pendanaan. Pendanaan awal diperlukan pada saat awal institusi litbang menghasilkan varietas.

Pada prinsipnya, untuk melepas suatu varietas, maka institusi litbang membutuhkan uji hasil pada berbagai lokasi dengan pendanaan besar. Pendanaan selanjutnya dibutuhkan dalam rangka penyebaran informasi (diseminasi) teknologi kepada masyarakat. Pendanaan juga dibutuhkan untuk memproduksi varietas secara massal sehingga nantinya bibit cabai mampu memenuhi kebutuhan petani.

Keterbatasan pendanaan inilah yang menjadi penyebab utama sehingga varietas cabai tahan OPT belum sepenuhnya digunakan petani. Untuk mengatasi keterbatasan pendanaan diperlukan peran aktif dari pemerintah dan masyarakat. Pendanaan utama tentu saja dari pemerintah yang bersumber dari APBN.

Optimalisasi pendanaan juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan dana CSR BUMN atau perusahaan lainnya mengingat keterbatasan dana APBN. Pendanaan juga dapat diperoleh dengan mendorong kerja sama antar stakeholders, terutama dengan lembaga swasta yang berpotensi untuk memberikan pendanaan namun dengan orientasi pemberdayaan masyarakat.

Perbaikan Tata Niaga

Tingginya harga cabai pada waktu tertentu selain karena rendahnya produksi, juga karena munculnya spekulan yang memanipulasi stok di pasaran. Aktivitas perbaikan tata niaga perlu dilakukan baik melalui penegakan hukum maupun pembenahan kelembagaan pemasaran. Penegakan hukum yang dilakukan aparat perlu terus dilakukan untuk memberikan efek jera bagi para pelaku pasar yang curang.

Pengawasan oleh satgas mafia pangan telah berkontribusi pada tata niaga pangan nasional yang terbukti dengan stabilnya harga beberapa komoditas kebutuhan masyarakat. Namun, strategi nyata juga harus dilakukan pula oleh petani dan pemerintah semisal membentuk pasar lelang. Strategi ini telah terbukti sukses di Kulon Progo dan mampu menyajikan harga yang layak bagi petani dan konsumen.

Bahkan, pasar lelang mampu merestruktur pasar di mana tata niaga cabai di Kulon Progo yang pada awalnya memilki struktur pasar oligopoli atau hanya dikuasai oleh beberapa pedagang besar, saat ini telah banyak pedagang yang mengikuti pasar lelang atau menuju pasar persaingan sempurna sehingga mampu menciptakan harga yang adil.

Edukasi Konsumsi

Langkah selanjutnya yang perlu ditempuh adalah edukasi mengenai diversifikasi pola konsumsi cabai di masyarakat. Langkah ini sangat penting karena budaya masyarakat selama ini adalah mengkonsumsi cabai mentah karena kepuasan konsumen akan terpenuhi saat menggigit cabai (klethus). Padahal teknologi pangan di Indonesia sudah sangat maju dan memungkinkan tersedianya berbagai cabai olahan seperti sambal, bubuk, abon, dan lainnya. Bahkan, negara tetangga seperti Thailand telah terbiasa mengkonsumsi cabai olahan.

Langkah ini memang membutuhkan waktu yang panjang, namun bermanfaat baik bagi produsen maupun konsumen. Bagi produsen, cabai olahan akan meningkatkan harga jual sehingga pendapatan petani akan meningkat. Sedangkan bagi konsumen, cabai olahan akan memungkinkan konsumsi sepanjang tahun (kontinu) dengan harga yang stabil. Langkah ini dapat diinisiasi oleh seluruh instansi pemerintah kemudian aktif disosialisasikan kepada masyarakat. Bahkan apabila diperlukan menjadi peraturan daerah yang mendorong seluruh rumah makan atau masyarakat menggunakan cabai olahan.

Semoga perbaikan dari aspek hulu, hilir, dan budaya dapat melindungi produsen dan konsumen dari fluktuasi produksi dan harga cabai.

Agus Dwi Nugroho, SP, M.Sc peneliti di Pusat Kajian Kedaulatan Pertanian (PAKTA) Fakultas Pertanian UGM


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com