detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 21 Juli 2019, 14:00 WIB

Jeda

Kota, Kucing, Kita

Mumu Aloha - detikNews
Kota, Kucing, Kita Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Ribut-ribut soal pembongkaran karya seni instalasi bambu senilai Rp 550 juta yang belum genap setahun menjadi "hiasan" di dekat Bundaran HI di ujung Jalan Thamrin Jakarta, dengan perdebatan yang makin melebar-meluas-meluber keluar dari konteksnya, membuatku justru lebih tertarik memikirkan kembali banyak hal tentang kota, hingga ke soal makna hidup di dalamnya.

Di kampung yang padat di Karang Tengah dekat daerah "elit" Pondok Labu, Jakarta Selatan kami para pendatang hidup berdampingan, dalam rumah-rumah yang berderet di gang-gang kecil, dengan pintu-pintu rumah kami saling berhadapan. Kalau kau sedikit beruntung, di antara pintu-pintu itu tak hanya tersisa gang yang sempit melainkan tanah kosong yang agak sedikit longgar sehingga bisa menjadi semacam tempat berinteraksi sosial dengan tetangga kanan-kiri.

Begitulah, rumahku terletak di lokasi yang agak sedikit beruntung itu, sehingga pintu-pintu rumah kami tidak berhadapan terlalu dekat. Ada area kosong di bagian tengah tempat anak-anak bisa bermain, tempat kami menjemur pakaian, tempat kami menyusun tanaman dalam pot-pot untuk mengisi waktu senggang, dan...tempat kucing-kucing kampung datang dan pergi, singgah, mencari makan, atau numpang tidur.

Alkisah, ada satu kucing yang sepertinya cukup kerasan di antara kami, di antara kucing-kucing lain yang datang dan pergi. Kucing betina berbulu putih itu sehari-hari hidup berkeliaran di area kosong di antara pintu-pintu rumah kami, menerjang masuk pintu dari satu rumah ke rumah yang lain, menjadi peliharaan kolektif kami. Kalau malam kadang ia menghilang, ngelayap entah ke mana, mungkin mencari pejantan, tapi setiap pagi ia akan selalu muncul lagi, tidur di atas bangku panjang tempat kami biasa reriungan, atau bermalas-malasan menggaruk-nggaruk tubuh dengan kakinya di depan pintu salah satu rumah di antara kami.

Begitulah, kucing putih itu menjadi bagian dari kehidupan kami, hamil dan beranak, makan dan tidur bersama kami, di rumah mana pun yang mereka mau. Tak urung, sebagai salah satu rumah yang kerap dia sambangi, aku pun selalu menyediakan makanan bagi kucing-kucing dewasa baik yang datang dan pergi maupun "keluarga kucing" yang "menetap" itu. Bahkan belakangan aku juga menyediakan susu untuk si kucing kecil yang mulai disapih oleh induknya. Awalnya semua berjalan sebagaimana adanya, sewajarnya, sambil lalu.

Lama-kelamaan, setiap bangun tidur, atau pulang kerja, aku selalu mencari-cari kucing kecil itu. Jika lama ia tak kelihatan batang ekornya, aku pun merasa cemas. Sampai kemudian, ia muncul, berjalan terseok-seok dari salah satu rumah di antara kami. Melihat rumahku sudah terbuka dan menyala lampunya, ia pun berlari kecil melintasi tanah kosong yang memisahkan pintu-pintu rumah kami, merangsek masuk ke pintu rumahku. Dia sudah tahu, di mana wadah susu diletakkan, lalu minum dengan menjilat-njilat lucu, kemudian berjalan ke sudut ruang, atau kadang keluar lagi, pergi lagi entah ke rumah yang mana lagi.

***

Hidup berdampingan tak hanya dengan sesama manusia dalam keluarga-keluarga yang tinggal di rumah-rumah sempit dengan jumlah anggota yang relatif banyak, tapi juga dengan "keluarga kucing", membuatku jadi memiliki pengamatan baru pada satu sisi realitas yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Bagaimana kucing-kucing itu menjadi bagian dari sebuah kehidupan kampung, di kota megapolitan urban serupa Jakarta, yang identik dengan kehidupan yang keras, penuh persaingan, tak peduli, dan sederet citra negatif lainnya.

Sejak kehadiran si kucing kecil yang menjadi "tanggungan" hidupku itu, aku jadi mulai lebih memperhatikan kucing-kucing yang hidup di ruang yang luas di luar sana. Hasilnya cukup mencengangkan: di mana pun aku melintas, di mana pun aku berdiri, di mana pun aku berada, sejauh mata memandang selalu tertangkap bayangan kucing-kucing yang tengah bergerak di dalam ruang hidup kota di antara sesaknya manusia-manusia yang tengah sibuk mengejar waktu untuk urusannya masing-masing.

Ketika makan siang di kantin atau warung-warung dekat kantor, ketika menunggu angkutan umum di halte, ketika berada di pusat-pusat keramaian pada hari libur, selalu ada kucing. Mereka menyusuri lorong-lorong di antara kaki-kaki meja mencari sisa makanan, tidur di lantai trotoar dan di emperan toko, atau mengorek-ngorek sampah di depan supermarket. Bahkan belakangan aku mendapati sebuah pemandangan yang cukup unik. Saat menunggu bus Transjakarta di halte, di seberang jalan terdapat sebuah toko kasur, dan seekor kucing betina dengan tiga anaknya yang kecil-kecil tengah bermain-main di atas kasur yang dipajang sebagai dagangan!

Pendek kata, dari pengamatan sehari-hari secara selintas itu, kucing adalah bagian tak terpisahkan, dan mungkin juga penting untuk diperhatikan, dari kehidupan kota yang makmur, yang melimpah fasilitas, yang mulai punya MRT yang dibanggakan, yang orang-orangnya fashionable, yang trotoarnya mulai agak lebih sedikit manusiawi, yang gubernurnya sudah tidak terlalu dibuat pusing oleh urusan banjir (tapi digugat warga soal buruknya kualitas udara hehehe); kota yang konon sedang menuju kesempurnaannya setara dengan peradaban kota-kota paling glamor di dunia; Jakarta yang kita cintai dengan penuh rasa benci ini.

***

Aku telah membaca sejumlah kajian antropologis tentang kota (Jakarta) dan penghuninya. Misalnya, Seperti Roda Berputar: Perubahan Sosial Sebuah Kampung di Jakarta karya Lea Jellinek dan No Money No Honey: Pedagang Jalanan dan Pelacur Jakarta karya Allison J Murray. Atau, yang lebih baru dan menekankan pendekatan historis dan politik seperti Ruang Publik, Identitas, dan Memori Kolektif Jakarta Pasca Soeharto karya Abidin Kusno.

Pembicaraan tentang kota selalu menakjubkanku. Ini adalah temuan "baru" manusia di muka bumi. Dulu, dulu sekali, leluhur kita hidup dalam populasi rendah, berpindah-pindah, tersebar di bentang alam, dalam bentuk keluarga dan kelompok kecil. Itu berlangsung (bayangkan!) selama enam juta tahun. Baru dalam 6000 tahun terakhir ini saja, leluhur kita hidup bersatu di tempat yang dinamakan kota. Dan, hari ini, seperti dicatat dengan cermat oleh Jared Diamond, penulis buku The World Until Yesterday, separuh orang di dunia hidup dalam "pengaturan baru" itu, yakni kota yang diisi oleh puluhan juta penduduk.

Kita, yang setiap bangun tidur mengecek Instagram dan Tinder, hidup berdampingan dengan kucing-kucing yang kita sayangi melebihi mantan-mantan pacar dan selingkuhan kita, termasuk dalam "separuh orang di dunia" yang berjejal-jejal di dalam kota di antara "puluhan juta penduduk" itu. Tidak seperti leluhur kita dulu yang berburu di tengah alam ganas, kita di kota "mencari makan" dengan bekerja di perusahaan-perusahaan yang berkantor-kantor di gedung-gedung kaca yang menjulang. Kita tidak lagi berpindah-pindah, melainkan pulang ke tempat tinggal tetap di kampung-kampung padat, sebagian lagi di perumahan modern yang berkembang di wilayah pinggiran yang dulunya rawa-rawa, sebagian lainnya di apartemen yang berjendela sejajar dengan langit.

Hidup di dalam kota dengan "harmoni" dan "penataan" seperti itu, kita memperoleh manfaat besar, sebagian mungkin lebih bahagia, tapi yang jelas bersamaan dengan itu kita juga memperoleh "imbalan" berupa penderitaan. Kita telah pergi meninggalkan desa atau kampung kelahiran kita, berpisah dengan ibu dan bapak kita, saudara-saudara dekat kita, teman-teman masa kecil kita yang banyak, untuk hidup bersama orang "asing", teman-teman baru yang sedikit, "keluarga" baru yang di antaranya terdapat kucing-kucing yang kita pelihara dengan sengaja maupun tidak, kadang tanpa ikatan sosial yang benar-benar melibatkan emosi kita secara tulus.

Mereka semua, orang-orang baru dan asing, juga kucing-kucing, yang kita temui di kota adalah bayangan dari diri kita. Mereka bisa menjadi "saudara" baru kita sekaligus "neraka" bagi kita. Kita menyukai mereka, membutuhkan mereka, merindukan kehadiran mereka untuk mengisi kekosongan dan kesepian kita, sekaligus juga membenci mereka karena tidak semua yang "baru" dan "asing" itu bisa mendatangkan harapan, tapi ada juga yang justru menimbulkan ketakutan. Toh, semua itu tak lantas membuat kita menyerah, dan kembali ke desa. Kita mengatasinya dengan penyesuaian dan kompromi.

Kita menciptakan tradisi "mudik" untuk menjaga ikatan kita dengan masa lalu dan kehidupan "tradisional" kita. Di antara kita bahkan mulai sering mengisi waktu libur long weekend atau sengaja cuti dengan pulang ke desa atau kampung halaman, untuk menyambung kembali emosi kita dengan teman-teman lama, makanan-makanan, dan tempat-tempat yang pernah menjadi bagian penting dan telah membentuk diri kita sekarang ini. Pada saat yang sama, kita mulai membiasakan duduk menyendiri di kafe di pusat perbelanjaan yang sibuk dan acuh tak acuh sambil bermain media sosial untuk mereguk kebebasan kita, terus menerus belajar mencintai kehidupan kota dalam anonimitas dan keterasingan yang diam-diam membuat kita damai, tanpa diganggu oleh remeh temeh pertanyaan tentang "kapan nikah" atau "kapan nambah momongan lagi" dari sepupu-sepupu dan saudara-saudara jauh yang sudah lama tak bersua.

Sebagian dari kita membuat "gerakan" dengan membawa dry food ke mana-mana dalam botol plastik untuk diberikan kepada kucing-kucing yang berkeliaran di jalanan, berpapasan dengan kita saat berjalan di trotoar menuju tempat yoga, atau mengeong-ngeong di ujung kaki kita saat berdiri di pinggir jalan menunggu ojek online yang akan mengantar kita pulang dari meeting dengan klien baru. Kita berjongkok, kita ulurkan segenggam makanan kepada mereka, kita elus kepalanya dengan lembut, sembari teringat dengan si kucing kecil di rumah yang mungkin sudah menunggu kepulangan kita, untuk diberi susu.

Dengan menempuh jalan tengah seperti itu, berusaha memberi makna pada kehampaan (dan membuatnya menjadi tidak relevan), kita menyadari bahwa tak ada yang perlu dibesar-besarkan dari kehidupan desa tradisional yang telah kita tinggalkan, tapi tak perlu juga memuja dengan berlebihan kehidupan kota yang telah memberi kita segalanya ini. Kita mengakui keuntungan dan kerugian, manfaat dan kekurangan, kesenangan dan rasa sakit dari kehidupan desa yang mengharukan dan kehidupan kota yang menyilaukan.

Di antara keduanya, kita bersyukur selalu ada kucing-kucing yang berkelebat di antara kaki-kaki kita, menyeberang di antara dua pintu. Suara eongannya sayup-sayup sampai ke telinga kita yang tengah berbaring lelah di kamar sepulang kerja, lirih, tapi cukup untuk menegaskan kehadirannya, cukup untuk menenangkan jiwa kita melewati malam yang sunyi, cukup membuat kita merasa menjadi warga kota yang lumayan bahagia.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com