Arswendo, Bu Bei, dan Pasar Klewer

Kolom

Arswendo, Bu Bei, dan Pasar Klewer

Heri Priyatmoko - detikNews
Sabtu, 20 Jul 2019 15:00 WIB
Arswendo Atmowiloto (Foto: Detikcom)
Arswendo Atmowiloto (Foto: Detikcom)
Jakarta - Hatinya dilanda gelisah. Ia harus lekas memilih antara jam tangan dan celana jins. Salah satu dari dua barang kesayangannya tersebut kudu dilego ke pasar loak supaya dapat mencukupi kebutuhan keluarga detik itu jua. Sebagai kepala rumah tangga yang hidupnya pas-pasan, dirinya tak tega membiarkan keluarganya harus mengutang. Memang, honor mengarang di media massa tidak bisa langsung dicairkan, sedangkan kebutuhan keluarga tidak bisa ditunda lagi.

Lelaki itu adalah Arswendo Atmowiloto. Cerita perih tahun 1970-an tersebut hanya dibagikan kepada sahabat karibnya, Daniel Tito, sastrawan cum jurnalis dari tlatah Sragen. Terakhir kali kami bertiga bersemuka dalam acara pembukaan galeri pribadi Toko Orion di Solo, setahun silam. Arswendo ditugasi membedah novel Karma Cinta anggitan Bre Redana yang meronce kisah kehidupan asmara pemilik toko roti itu. Gampang ditebak, Arswendo dalam forum tersebut ndhagel, tanpa lupa menyoroti mutu karya juniornya di Kompas itu.

Tibalah sesi tanya-jawab, saya angkat jari guna menjelaskan setting sejarah Solo yang mempengaruhi keberhasilan bisnis Toko Orion yang berdiri sejak 1932 itu. Dari obrolan ringan dan sorot mata pria yang bernama asli Sarwendo itu, terlihat sekali memorinya tentang kahanan Solo lawas sukar dihapus, meski kakinya meninggalkan Solo empat dasawarsa lalu. Yang kiranya paling membekas ialah Pasar Klewer. Sering kluyuran ke ndalem Sananamulya untuk urusan pengembangan sastra di bawah asuhan Gendon S Humardani, lelaki yang lair ceprot pada Jumat Pon, 28 November 1948 itu tidak jarang bersitatap dengan bakul batik Pasar Klewer. Jarak antara pasar sandang dengan ndalem bangsawan yang dijadikan pusat kegiatan kebudayaan itu hanya seperminuman teh.

Kejelian mengamati kehidupan juragan batik Pasar Klewer akhirnya dituangkan menjadi novel Canting (1986). Periode kerajaan, ruang dagang ini bernama Pasar Slompretan. Mantan asisten wedana Tiknopranoto (1973) mengungkapkan, dagangane pada disampirne ing pundak utawa dicangking. Mereka menawarkan dagangannya pating klewer (terumbai). Model berdagang inilah yang memicu lahirnya terminologi "klewer", kemudian disematkan menjadi nama pasar.

Permulaan tahun 1971, Presiden Soeharto menganakemaskan Kota Bengawan dan memiliki kepedulian menyulap Pasar Klewer menjadi arena ekonomi yang bersih dan bagus. Ratusan bakul lawas menyakini ucapan penguasa Orde Baru tersebut kala itu bahwa pasar yang merupakan "pategalan" mereka itu akan mampu bertahan hingga usia seabad. Ternyata, jalan sejarah sulit diprediksi, pasar tekstil terbesar di Indonesia itu dilalap si jago merah di pengujung tahun 2014.

Sumbangan Arswendo melalui novel Canting adalah menyuguhkan kelir lain dalam memotret keberadaan Pasar Klewer. Sebetulnya, memahami suatu kehidupan masyarakat secara lebih dalam lewat sebuah karya sastra, jauh lebih memberi kedalaman ketimbang setumpuk kepustakaan ilmiah yang disusun orang-orang kampus dengan segala konsep dan bahasa yang amat ruwet serta kaku. Ceritanya boleh saja fiksi, tetapi setting lokasi dan budaya yang digarap merupakan realitas yang diakrabi pengarangnya. Lewat Canting, Arswendo mengusung tokoh Bu Bei yang seorang juragan batik terhormat.

Tanpa bahasa yang meledak-ledak, Arswendo menjelaskan pasar tidak ubahnya suatu asrama bagi atlet-atlet wanita sekaligus stadion tempat perlombaan diadakan. Pesaing diamati secara teliti, persaingan tajam terjadi saban detik. Rekor demi rekor terlampaui. Bedanya hanyalah olahragawati lama tetap mendominasi sampai akhirnya digusur lantaran umur. Terkupas secuil fakta unik perihal peran dobel perempuan. Ketika mentari menyapa, mereka di rumah menjalankan peran sebagai pembantu. Lantas, siang harinya di pasar, wanita menjelma bak pria, penentu keputusan jual-beli.

Dari fenomena tersebut, tesis Simone de Beauvoir bahwa perempuan sebagai the second sex, mengalami posisi termajinalkan dalam berbagai ruang, tak berlaku lagi selepas sekujur tubuh kita memergoki kedigdayaan perempuan di ruang transaksi ekonomi itu.

Saat novel disusun, masih banyak dijumpai bakul Klewer mengenakan busana Jawa dan jarikan. Mereka tampak anggun, kenes, njawani, tapi bersamaan itu sanggup melumpuhkan kekakuan konsumen untuk memborong dagangannya. "Mangga pinarak, den. Mirsani batik Sala," sapanya renyah kepada calon pembeli. Den kependekan dari kata raden, sebutan untuk menghormati orang di lingkungan feodal.

Seperti tokoh Bu Bei, para wanita penjaja batik itu berangkat dan pulang diantar becak yang sudah menjadi langganan. Dalam ingatan Arswendo, pedagang batik perempuan yang sering disebut mbok mase menggumuli bisnis batik di Surakarta menorehkan tinta emas di pasar ini. Ketangguhan mereka menahkodai industri batik rumah tangga pararel dengan lahirnya identitas yang melekat pada tubuh Pasar Klewer sebagai pasar sandang yang moncer di penjuru negeri ini.

Bu Bei yang diperkenalkan Arswendo adalah fondasi Pasar Klewer yang tak tampak dan emoh koar-koar seperti politikus. Spirit Bu Bei tidak sebatas menyelimuti lingkungan kampung batik di Solo (Laweyan, Kauman, dan Kratonan), namun juga tertanam di pasar dan sukses menyulap situasi pasar menjadi gumrenggeng gedhe kumandhange. Sekarang, banyak Bu Bei generasi awal Pasar Klewer telah tutup buku kehidupan. Kemarin (19/7), Arswendo menyusulnya ke Kayangan. Gusti Allah paring, Gusti Allah pundhut....

Heri Priyatmoko dosen Prodi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, founder Solo Societeit

(mmu/mmu)