detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 19 Juli 2019, 15:30 WIB

Kolom

FaceApp dan Data Wajah Kita

Wahyudi Akmaliah - detikNews
FaceApp dan Data Wajah Kita
Jakarta -
Betapa menyenangkan membayangkan diri menjadi tua, melihat perubahan lekuk dan guratan di kulit wajah kita pada saat kondisi kita masih segar bugar. Aplikasi FaceApp membantu kita membayangkan itu. Semua orang ingin mencobanya sambil membayangkan dirinya 20-30 tahun ke depan. Dengan kondisi kita saat ini, tentu saja dengan aplikasi seperti itu jadi terlihat gagah dan cantik saat menjadi tua dengan tidak membayangkan sejumlah penyakit berat yang dibawanya.

Melalui tantangan Agechallenge, aplikasi FaceApp ini kemudian menjadi viral di Indonesia, karena banyak orang berusaha untuk mencobanya dan memamerkan di aplikasi sosial media yang kita miliki untuk memberitahu seandainya kita menjadi tua dengan wajah seperti itu.

Namun, di balik kesenangan tersebut ada harga yang harus dibayar dengan teknologi yang dibuatnya, yaitu menyerahkan data nama dan wajah kita melalui foto tersebut sehingga pihak pemilik program bisa menggunakan apa saja dari data tersebut untuk kepentingannya. Ketika berusaha untuk menggugat atas privasi yang dimiliki, kita tidak bisa melakukannya, karena kita telah melakukan tanda setuju (agree), yang jarang sekali dibaca secara seksama. Padahal aturan dan ketentuannya tersebut sangat mengikat.

Sekilas, aturan tersebut melindungi pengguna, meskipun sebenarnya untuk pemilik perusahaan. Sebagaimana ditekankan dalam aturan tersebut: "Anda memberi FaceApp lisensi yang berlaku selamanya, tidak dapat dibatalkan, tidak eksklusif, bebas royalti, dibayar penuh, untuk mereproduksi, memodifikasi, mengadaptasi, memublikasikan, menerjemahkan, membuat karya turunan, mendistribusikan, memajang karya di hadapan publik, dan menampilkan konten milik Anda dengan nama, nama pengguna, atau bentuk apa pun yang diberikan dalam semua format dan saluran media, tanpa kompensasi kepada Anda."

Dengan menggunakan layanan ini, Anda setuju bahwa konten milik pengguna dapat digunakan untuk tujuan komersial. Anda selanjutnya mengakui bahwa penggunaan konten untuk tujuan komersial FaceApp tidak akan mencederai Anda atau orang yang Anda beri wewenang untuk bertindak atas namanya.

Namun, daya tarik dari aplikasi tersebut menawarkan semacam kesenangan imajinasi atas diri kita yang bisa ditawarkan kepada teman-teman kita di lini masa. Di sisi lain, teknologi artificial intellegence terus dikembangkan, salah satunya mempelajari secara cermat setiap pola dan guratan wajah seseorang. Dalam konteks media sosial, Facebook sudah melakukannya, meskipun belum tentu seratus persen memiliki nilai ketepatan untuk merekonstruksi wajah kita.

Jika Anda tidak percaya, perhatikan saja setiap foto yang Anda dan teman Anda unggah, tiba-tiba akan ada tautan orang lain di dalamnya, menunjukkan bahwasanya teknologi kecerdasan buatan Facebook sedang membaca wajah orang.

Memilih dan Memilah

Pesatnya sejumlah informasi yang diisi oleh banyak orang di seluruh dunia membuat kita harus memilih dan memilah. Bagi sejumlah perusahaan, informasi itu merupakan bahan penting sebagai Big Data yang bisa digunakan apa saja untuk kepentingannya. Dalam konteks Amerika Serikat, Cambridge Analytica mengambil data masyarakat Amerika melalui Facebook dengan mempelajari keseharian kehidupan mereka, melalui status yang diperbaharui, aktivitas yang dilakukan, tempat-tempat yang dikunjungi, hingga jenis kesukaan dan kecenderungan atas sesuatu.

Cerdiknya, data itu bukan diambil dari perusahaan Facebook, melainkan dari permainan kuis yang ditautkan dengan Facebook. Melalui permainan kuis inilah orang kemudian dengan sukarela menyetujui sejumlah aturan main, yang secara tidak sadar memungkinkan perusahaan itu masuk dalam mengambil data dari pemilik akun tersebut. Melalui data tersebutlah kemudian tim pemenangan Trump saat itu mengolahnya. Data ini setidaknya yang membantu proses kemenangan Trump.

Dalam internet, melalui kalkulasi matematika, sesuatu kini dengan mudah bisa dihitung. Di sini, semakin banyak orang yang menggunakan sejumlah aplikasi, dan itu menjadi pasar yang penting untuk sebuah perusahaan. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, pengguna internet di Indonesia saat ini melonjak hampir 10,2 % atau sekitar 27.916.716 orang. Pada 2017, pengguna internet berjumlah 143, 26 orang (54, 68%), dan pada 2018 naik menjadi 171,17 orang (64,8%) dari total penduduk yang berjumlah 264,16 juta orang (APJII, 2018). Jumlah ini tentu saja mempersempit penggunaan internet antara kota dan desa (urban-rural).

Saat ini, akses pengguna internet yang berada di wilayah urban mencapai 74,1% dan di wilayah rural juga cukup tinggi, yaitu 61, 6%. Kebanyakan dari pengguna tersebut (93,9%) menggunakan akses internet melalui telepon genggam. Kondisi ini membuat aktivitas internet tidak bisa lagi dibedakan antara offline dan online, tetapi menjadi satu kesatuan, yang menurut Merlyna Lim (2019) sebagai ruang cyber urban.

Dengan melihat jumlah pengguna internet di Indonesia sebesar itu, kita bisa membayangkan bagaimana keuntungan yang didapatkan pemilik media sosial. Karena itu, masing-masing mereka berlomba-lomba untuk membuat aplikasi canggih yang menyenangkan dan memudahkan kita. Tentu saja syaratnya adalah kita harus menyetujui atas aturan main yang ditetapkan, di mana mereka bisa masuk ke dalam ruang privasi data kita; foto, tanggal lahir, alamat rumah, dan pola aktivitas keseharian kita melalui posting-an yang kita buat.

Data tersebut kemudian menjadi semacam ruang pengawasan atas apa yang kita lakukan, karena diolah untuk menjadi tujuan komersil, ditawarkan kepada sejumlah pengiklan. Pada titik ini, bagi saya, media sosial tidak lagi menjadi gerakan sosial dan kesenangan untuk melampiaskan katarsis semata, melainkan menjadi semacam ruang pengawasan atas apa yang kita lakukan di tengah hasrat kapitalisme digital yang menjadikan kita objek dagangan data untuk dunia pengiklan. Lebih jauh, ini juga bisa menjadi semacam kondisi menuju otoritarianisme digital jika digunakan di tangan yang salah.

Wahyudi Akmaliah peneliti di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya (PMB) LIPI


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed