detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 19 Juli 2019, 13:10 WIB

Kolom

Kasus Kematian Anak di Tangan Ibunya

Anik Sitatur Rohmah - detikNews
Kasus Kematian Anak di Tangan Ibunya Ibu yang diduga aniaya anaknya hingga tewas di Boyolali (Foto: Ragil Ajiyanto)
Jakarta -
Hati siapa yang tidak teriris membaca berita kematian seorang anak berusia 6 tahun di Boyolali, Jawa Tengah yang tewas di tangan ibu kandungnya? Si ibu kemudian dijerat dengan Pasal 80 ayat 4 UU Nomor 35/2014 Tentang perubahan atas UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak, atau Pasal 44 ayat 3 UU Nomor 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam keras tindakan tersebut karena ibu seharusnya menjadi figur pelindung anak. Ketua KPAI Susanto menyayangkan kejadian ini dan menyatakan bahwa apapun alasannya, melakukan kekerasan terhadap anak itu tidak dibenarkan baik ditinjau dari aspek pengasuhan maupun hukum.

Lalu, sebagai seorang perempuan dan seorang ibu saya berpikir tentang asas praduga tak bersalah yang berlaku dalam hukum pidana di Indonesia. Sebelum menyatakan kecaman, apa tidak sebaiknya KPAI juga mendasarinya dengan asas ini? Perlu penyelidikan lebih mendalam mengapa seorang ibu (yang jika dinalar tidak mungkin melukai apalagi membunuh anak kandungnya sendiri) sampai hati menganiaya buah hati secara bertubi-tubi hingga si anak meninggal dunia.

Disebutkan pada berbagai pemberitaan bahwa dalam kesehariannya perempuan berusia 30 tahun tersebut tidak bekerja, jarang bergaul, dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Menilik profil dari perempuan yang tinggal di desa ini, saya membayangkan bahwa dia sendiri adalah pribadi yang bermasalah. Jika kondisi ini ternyata berat, si ibu bahkan membutuhkan pendampingan dan bantuan mental. Lalu, siapakah yang seharusnya bertanggung jawab atas kondisi ibu malang ini?

Mungkin jawabannya adalah suami atau kepala rumah tangga dari keluarga tersebut. Tetapi jika kondisi suami juga tidak dapat memberikan perlindungan fisik dan psikis yang layak disebabkan ketidakmampuannya, ke mana si "ibu pembunuh" mendapat perlindungan?

Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebenarnya sudah memiliki program-program perlindungan dan pemberdayaan sebagaimana dimuat dalam laman resmi kementerian tersebut. Di antaranya adalah Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Ini merupakan pusat pelayanan yang terintegrasi dalam upaya pemberdayaan perempuan di berbagai bidang pembangunan, serta perlindungan perempuan dan anak dari berbagai jenis diskriminasi dan tindak kekerasan. Bentuk nyata dari program ini adalah berupa pusat rujukan, pusat konsultasi usaha, pusat konsultasi kesehatan reproduksi, pusat konsultasi hukum, pusat krisis terpadu, pusat pelayanan terpadu, pusat pemulihan trauma, pusat penanganan krisis perempuan, pusat pelatihan, pusat informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, rumah aman (shelter), rumah singgah, atau bentuk lainnya

Yang menjadi masalah adalah ketika tidak setiap perempuan di Indonesia mendapatkan kemudahan akses memanfaatkan program pemerintah ini. Kurangnya pengetahuan si ibu, tidak terjangkaunya oleh petugas pemerintahan terdekat, dan lain-lain bisa menjadi penyebab memburuknya kondisi rohani hingga terjadi penganiayaan berat terhadap anaknya sendiri.

Kesiapan Menjadi Ibu

Terlepas dari peran dan tanggung jawab siapa, mari kita telaah bagaimana perilaku masyarakat kita pada dekade terakhir ini. Pada dekade sebelumnya pendidikan pra nikah wajib diikuti oleh pasangan yang akan menikah. Dalam pendidikan pra nikah, setiap perempuan dan laki-laki yang akan memasuki mahligai rumah tangga akan mendapat bekal pengetahuan, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, psikologi dan tentu saja juga dari sisi pengetahuan agama.

Pembekalan pengetahuan pra nikah ini diharapkan menjadikan pasangan yang hendak menikah akan siap menghadapi berbagai problematika dalam hidup berumah tangga. Pendidikan pra nikah akan membekali seorang perempuan untuk siap menjadi seorang ibu. Siap menghadapi persoalan ekonomi, kesehatan keluarga, dan permasalahan lain dalam rumah tangga serta mampu mencari jalan keluar secara logis. Kurangnya pengetahuan perempuan atau ibu ditambah himpitan masalah yang datang silih berganti bisa menyebabkan terganggunya kondisi kejiwaan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan seorang ibu melakukan tindakan di luar nalar sehatnya.

Pendidikan Keluarga

Kasus kematian anak di tangan ibunya memang bukan kali ini saja terjadi, dan melihat dari penyebab yang --bisa dikatakan-- sepele, maka perlu digalakkan lagi penguatan pendidikan keluarga pada seluruh masyarakat di Indonesia. Keluarga hendaknya menjadi bagian terkecil dari dunia pendidikan yang akan membentuk karakter manusia yang berkualitas. Pemahaman baik tentang kehidupan beragama, melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari akan mempengaruhi pola pikir seseorang menjadi lebih positif. Selanjutnya pola pikir positif ini akan melahirkan sikap-sikap positif dalam hidup bermasyarakat.

Pendidikan keluarga yang baik, akan mampu menciptakan keluarga bahagia dan sejahtera. Jika terjadi masalah, maka sikap positif seseorang akan mengarahkannya untuk mencari jalan keluar yang positif pula. Bertumpuknya masalah tanpa penanganan yang baik, akan menyebabkan beban mental yang makin lama makin berat, hingga satu saat akan "meledak" dalam bentuk tindakan yang di luar nalar sehat.

Pendidikan keluarga kemudian akan berkembang dan berkaitan dengan masyarakat di sekelilingnya. Dari lingkungan yang paling dekat, yaitu tetangga hingga paling luas yaitu kehidupan bernegara. Jika masing-masing keluarga menguatkan pendidikan keluarganya, maka akan tercipta kehidupan yang damai, saling menolong, saling memerhatikan, dan bersama-sama menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai.

Jika terjadi sesuatu yang tidak biasa dalam sebuah keluarga, tetangga dapat mengambil peran sebagai "keluarga" dalam masyarakat dengan memberikan perhatian dan bantuan sesuai yang dibutuhkan. Peran aktif ini diharapkan dapat mengurai masalah yang mungkin membelit si ibu, sehingga tindakan berlebihan yang menyebabkan hilangnya nyawa bisa dicegah dan dihindari.



Simak Video "Tapir Nyasar ke Permukiman di Asahan"
[Gambas:Video 20detik]

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed