detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 17 Juni 2019, 11:08 WIB

Kolom Kang Hasan

Syariah Instan

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Syariah Instan Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - RSUD Tangerang menjadi sorotan karena memasang papan pengumuman yang menyatakan bahwa rumah sakit itu dikelola berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Menurut keterangan pengeloka, konsep rumah sakit syariah itu dirumuskan oleh Dewan Syariah Nasional. Apa saja prinsipnya? Yang diatur antara lain adalah soal pemisahan antara laki-laki dan perempuan, baik dalam hal interaksi antarpasien, maupun antarapasien dengan pemberi layanan.

Praktiknya, pasien dilayani oleh petugas berdasarkan jenis kelamin. Demikian pula, yang menunggu pasien adalah orang sama jenis kelaminnya dengan pasien. Ada pula aturan lain, seperti kewajiban membaca basmalah saat memberikan doa, membacakan talkin untuk pasien yang sedang sakaratul maut, dan beberapa ketentuan lain.

Apa makna syariah bagi penyusun konsep rumah sakit syariah itu? Kenapa yang lebih dulu diatur adalah soal-soal jenis kelamin? Apakah itu soal yang paling penting dalam manajemen rumah sakit? Bila soalnya adalah interaksi antara pasien dan tenaga kesehatan, Islam mengatur bahwa itu interaksi yang dibolehkan, karena ada alasannya. Jadi misalnya, kalau perawat laki-laki harus melihat pasien dalam keadaan tidak berbaju, misalnya saat pemeriksaan EKG, secara syariat itu dibolehkan.

Demikian pula, dokter kandungan melihat kemaluan pasien perempuan, dibolehkan oleh syariat. Kenapa hal-hal ini yang justru diutak-atik? Jadi, apa dong yang seharusnya diatur? Ada banyak nilai Islam yang bisa dihidupkan di rumah sakit. Misalnya, kebersihan. Saya tidak perlu menjelaskan lagi betapa pentingnya kebersihan dalam syariat Islam. Bagi saya, kalau suatu lembaga mengklaim dirinya menjalankan prinsip syariah, sudah sepatutnya lembaga itu menonjolkan kebersihannya.

Praktisnya, mereka bisa menyatakan kepada khalayak, "Kami menjalankan sistem syariat, karena itu kami menerapkan standar kebersihan yang tinggi dan ketat." Hal lain, soal mubazir. Tidak perlu saya ulang sebenarnya, Islam sangat anti pada kemubaziran. Mubazir adalah perilaku saudara setan. Narasi itu menunjukkan betapa kuatnya keinginan Islam untuk memerangi kemubaziran.

Mubazir adalah persoalan besar yang membelit banyak lembaga, termasuk industri-industri besar, baik industri produsen barang maupun industri jasa. Banyak usaha dilakukan untuk memangkas berbagai kemubaziran, baik yang berupa kemubaziran benda, energi, maupun kemubaziran yang sifatnya bukan benda, seperti kemubaziran gerakan dan pergerakan, proses, stok barang, jumlah orang, dan sebagainya.

Wujud nyatanya apa? Dalam hal energi misalnya, ada begitu banyak kemubaziran energi dalam berbagai lembaga, termasuk di rumah sakit. Sumber kemubazirannya ada yang dari sistem yang dipakai, ada pula yang bersumber dari perilaku manusia. Misalnya, soal pendingin ruangan (AC). AC bisa jadi sumber pemboros energi yang sangat besar kalau tidak dirancang dengan sistem yang baik. Sementara itu perilaku pengguna juga berperan sangat besar.

Masih banyak orang yang tidak sadar untuk mematikan AC di ruangan yang tidak dipakai, atau menyetelnya dengan temperatur yang sangat rendah, lebih rendah dari yang dibutuhkan. Sepele? Tidak. Soal kemubaziran ini betul-betul merupakan agenda besar bagi banyak perusahaan dan lembaga. Raksasa otomotif Toyota justru menjadikannya sebagai tagline dalam sistem manajemennya.

Orang yang mempelajari sistem manajemen Toyota pasti tahu konsep "Nanatsu no Muda" (7 Kemubaziran) yang merupakan konsep fondasi dalam sistem manajemen Toyota. Bagi lembaga bisnis atau lembaga lain, usaha mengurangi kemubaziran hanya akan berefek finansial, yaitu berkurangnya biaya-biaya operasional. Tapi bagi lembaga yang ingin menjalankan syariat, ini adalah ikhtiar untuk menjalankan perintah agama.

Lagi-lagi, kenapa rumah sakit tadi menganggap urusan laki-laki dan perempuan lebih penting daripada anti kemubaziran? Bukankah lebih hebat kalau rumah sakit itu memasang pengumuman, "Kami menjalankan prinsip anti kemubaziran secara ketat. Mohon agar pasien mematikan AC dan lampu di ruangan bila tidak diperlukan."

Masih banyak lagi prinsip-prinsip Islam yang lebih relevan untuk diterapkan dalam sistem manajemen rumah sakit, seperti tepat waktu, keberpihakan kepada kaum dhuafa, dan sebagainya. Sudahkah hal-hal itu dimasukkan ke konsep manajemen rumah sakit berbasis syariah tadi? Saya tidak yakin soal itu.

Syariah sering kali dimulai dari hal-hal yang, maaf, sifatnya di seputar kelamin. Bahkan sering pula hanya berhenti pada hal-hal itu. Seakan persoalan baik-buruk itu hanya terbatas soal perilaku dalam menggunakan alat kelamin. Padahal ada banyak hal fundamental yang seharusnya jadi pusat perhatian dan diprioritaskan.

Kenapa bisa begitu? Itu produk berpikir instan. Islam dikaji dan dipahami dalam soal-soal seperti itu saja. Untuk memahami konsep anti mubazir, tepat waktu, dan sebagainya memang diperlukan pemikiran yang lebih mendalam, mengkaji tidak hanya teks-teks yang secara verbal membahas agama, tapi meliputi pula sumber lain seperti manajemen, keuangan, dan sebagainya.

Lagi pula, di tengah keberagaman kita sebagai bangsa, rasanya tak penting benar menonjolkan hal-hal yang menajamkan perbedaan kita dengan umat lain. Lebih baik fokus memperhatikan hal-hal yang merupakan kemaslahatan bersama. Apapun maslahat yang kita ikhtiarkan, itulah syariat Islam.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed