detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 14 Juni 2019, 14:30 WIB

Kolom

Kekalahan Ekologis pada Idulfitri 2019

Sukma Larastiti - detikNews
Kekalahan Ekologis pada Idulfitri 2019 Foto: Antara
Jakarta -

Program mudik dan arus balik pemerintah pada Idulfitri kali ini menuai banyak apresiasi. Mengelola pergerakan dalam jumlah sangat besar adalah upaya tidak mudah, membutuhkan perencanaan yang matang, dan menyerap energi dan anggaran yang besar.

Kendaraan bermotor terhitung melewati masa mudik dan arus balik dengan lancar, kendati mengalami kemacetan selama beberapa saat pada puncak arus mudik-yang mengakibatkan diperpanjangnya sistem satu arah dan lawan arus di jalan tol-serta kemacetan saat arus balik. Angka kecelakaan menurun drastis hingga 64 persen.

Data Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Transportasi Indonesia (SIASTI) Kementerian Perhubungan per Kamis 13 Juni pukul 14:20 WIB mencatat hingga H+7 Lebaran ada 3,90 juta penumpang yang menggunakan bus; 3,46 juta penumpang menggunakan angkutan penyeberangan; 4,97 juta penumpang menggunakan kereta api; 1,06 juta penumpang menggunakan angkutan laut; dan 3,39 juta penumpang menggunakan angkutan udara.

Berdasarkan data tersebut, ada 16,78 juta penumpang menggunakan angkutan umum. Tiga dari lima moda angkutan umum mengalami peningkatan dibandingkan pada 2018. Jumlah penumpang angkutan bus meningkat sebesar 10,79 persen dari 3,52 juta penumpang; angkutan penyeberangan menurun 14,86 persen dari 4,07 juta penumpang; kereta api yang mengalami kenaikan sebesar 4,25 persen dari 4,77 juta penumpang; angkutan laut naik 1,54 persen dari 1,04 juta penumpang; dan angkutan udara menurun sebesar 30,09 persen dari 4,85 juta penumpang.

Penurunan yang dialami oleh angkutan udara merupakan penurunan terbesar yang tak terlepas dari kenaikan harga tiket pesawat selama beberapa bulan terakhir.

Jumlah mobil yang digunakan untuk mudik sebanyak 2,52 juta unit dan arus balik sebanyak 1,74 juta unit. Jumlah sepeda motor untuk mudik sebanyak 0,79 juta unit dan arus balik sebanyak 0,44 juta unit. Penggunaan mobil mengalami peningkatan rata-rata 23,92 persen dibandingkan tahun 2018. Sedangkan sepeda motor mengalami penurunan rata-rata 8,93 persen.

Jasa Marga mencatat ada 1,21 juta kendaraan yang melintasi tol pada H-7 hingga H-1 Lebaran dan ada 0,72 juta kendaraan yang kembali ke Jakarta dari H+1 hingga H+3 Lebaran. Untuk mendukung pergerakan sebesar ini, selain menyiapkan infrastruktur jalan seperti jalan tol dan program jalan satu arah, pemerintah juga menyediakan program mudik gratis dengan menyediakan 1.200 bus dengan daya tampung sekitar 54 ribu penumpang untuk mudik dan arus balik dengan tujuan 40 kota; kereta api dengan kuota 2.500 tiket; dan kapal dengan kuota 15 ribu penumpang.

Selain untuk penumpang, pemerintah juga memfasilitasi pemindahan sepeda motor dengan 100 truk dengan daya tampung 3.500 sepeda motor yang ke Jawa Tengah dan Jawa Timur; pengangkutan motor dengan kereta api dengan kuota sekitar 15 ribu unit; dan kapal dengan kuota 7.500 unit.

Data statistik di atas tidak hanya menunjukkan betapa besarnya pergerakan manusia saat Idulfitri tahun ini, melainkan juga dinamika bertransportasi masyarakat Indonesia dan masalah ekologis yang tertutupi gegap gempita perayaan Lebaran.

Tren

Dengan memperhatikan data tersebut, kita bisa melihat bahwa tren untuk menggunakan mobil sebagai sarana transportasi semakin meningkat pesat. Peningkatan aktivitas mudik dengan kendaraan bermotor ini mendorong peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

CNBCIndonesia.com mencatat di jalan tol Trans Jawa, konsumsi Pertamax meningkat sebesar 179 ribu liter per hari (atau lebih dari 96 persen), Pertamax Turbo sebesar 71 persen, Pertamax Dex sebesar 63 persen, Pertalite 54 persen, dan Premium sebesar 39 persen dibandingkan rata-rata harian normal. Pada puncak arus mudik 4 Juni, konsumsi Pertamax mengalami peningkatan 256 persen atau sebesar 477 ribu liter. Pertamina juga menyalurkan 652 ribu liter BBM di layanan tambahan non-SPBU hingga 9 Juni.

Di sisi lain, penggunaan sepeda motor menurun. Kendati demikian, perlu dicatat pula, penggunaan sepeda motor kemungkinan besar meningkat di kota atau daerah tujuan karena telah dititipkan melalui angkutan pengiriman. Sepeda motor memang jauh lebih minim menimbulkan masalah di sepanjang arus mudik dan arus balik, tetapi menjadi beban lalu lintas tambahan di kota dan daerah tujuan. Sepeda motor ini semakin menjadi pilihan di kota atau daerah tujuan untuk mempermudah pergerakan warga selama mudik.

Sementara itu, walau tiga dari lima moda angkutan umum menunjukkan tren peningkatan penumpang, tidak berarti tingkat penggunaan angkutan umum cukup baik. Misalkan saja dengan melakukan perhitungan penggunaan bus untuk mudik dan arus balik. Dengan total penumpang sekitar 3,90 juta, angkutan bus yang digunakan hanya sekitar 78 ribuan (dengan asumsi bus tipe pariwisata rata-rata memiliki 50 kursi). Jumlah ini bisa naik dan turun sesuai jumlah riil kursi untuk tiap bus.

Dibandingkan dengan penggunaan kendaraan pribadi, tingkat penggunaan bus untuk mudik terhitung sangat rendah.

Masalah Ekologis

Penggunaan kendaraan pribadi yang masih sangat masif baik untuk mudik, arus balik, dan digunakan di kota atau daerah tujuan meninggalkan masalah ekologis yang tak kecil. Emisi gas rumah kaca (GRK) dan polusi udara mengalami peningkatan. Sayangnya, kedua hal terakhir ini tidak termasuk sebagai bagian indikator kesuksesan program mudik.

Sejauh ini, orientasi pemerintah dalam program mudik tiap tahun masih kelancaran jalan dan penurunan angka kecelakaan untuk mobil dan sepeda motor. Program pemerintah untuk menyediakan angkutan mudik gratis tahun ini memang turut mendorong peningkatan penggunaan angkutan umum, tetapi tidak mendorong banyak perubahan.

Angkutan umum juga tidak mendapatkan prioritas dalam manajemen lalu lintas mudik dan arus balik. Berbagai berita media massa menunjukkan bahwa bus mengalami keterlambatan hingga 12 jam untuk berangkat ke Jakarta akibat macet di tol Trans Jawa.

Di masa yang akan datang, pemerintah perlu membuat kebijakan untuk memprioritaskan angkutan umum yang sebenarnya berorientasi layanan publik di ruang publik, ketimbang kendaraan pribadi yang bersifat privat. Cara ini berfungsi untuk meningkatkan efektivitas bus, serta sekaligus meningkatkan daya tawar, dan daya tarik penggunaan angkutan umum berbasis jalan di kalangan pemudik.

Masalah transportasi dalam beberapa dekade terakhir ini bukan lagi sekadar masalah untuk mengelola pergerakan manusia dan barang. Transportasi masa kini merupakan salah satu sektor penyumbang emisi GRK yang besar yang mendorong krisis iklim.

Kita, Indonesia, termasuk negara yang rentan menghadapi krisis iklim. Kita juga tak punya banyak waktu untuk melakukan perubahan. Jangka waktu yang kita miliki hanya sekitar satu dekade.

Pada Idulfitri tahun ini kita mengalami kekalahan ekologis yang luar biasa. Apakah kita tahun depan masih akan merayakan kemenangan Idulfitri bersama keluarga yang terkasih dan pada saat yang sama kita sebetulnya mengancam kehidupan mereka dalam penuh kerentanan bencana iklim di masa depan?

Sukma Larastiti bergiat di Transportologi, tengah mengembangkan laman transportologi.org untuk menyebarkan pengetahuan tentang transportasi berkelanjutan dan isu-isu perubahan iklim


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed