detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 14 Juni 2019, 10:46 WIB

Kolom

Spiritualitas, Ilmu, dan Emosi

Musa Maliki - detikNews
Spiritualitas, Ilmu, dan Emosi Foto: ABC Australia
Jakarta - Pada setiap zaman, keberagamaan umat manusia selalu berubah, dinamis, dan bertransformasi. Ramadhan ini, umat Islam di Indonesia memiliki cara beragama yang cukup berbeda dengan sebelumnya.

Sebelumnya, beragama seseorang tidak terkait dengan pilihan politik tertentu, tapi kini cara beragama seseorang ditentukan oleh kiblat politik. Sebelumnya beragama umat Islam fokus pada ritual dan fikih (halam-haram), sekarang cara beragama kita sangat ditentukan tidak hanya ritual dan fikih serta pilihan politik, tapi juga pasar. Misalnya, cara berpakaian kita ditentukan oleh produk syar'i dan bukan syar'i.

Sebelumnya, Islam adalah status religius personal dengan Tuhannya. Status ini direfleksikan ke ruang sosial dan kebudayaan dengan cara artikulasi nilai-nilai kemanusiaan demi kebaikan seluruh umat manusia (rahmatul lil 'alamin). Kita adalah seorang yang muslim atau bukan, hal itu merupakan urusan dapur. Namun sekarang urusan dapur masuk ke beranda depan rumah demi menampilkan keislamanannya.

Di mana pun kita seolah-olah harus mendalil dan menilai halal dan haram, syariat dan bukan syariat di ruang publik (sosial) dengan dalih syiar.

Fondasi Ilmu Pengetahuan

Spiritualitas seseorang bukan diukur sejauh mana orang tersebut menangis paling keras dengan air mata paling banyak. Untuk menempuh jalan spiritualisme, rata-rata ulama besar dan para ilmuwan selalu bermula dari fondasi ilmu pengetahuan terlebih dahulu. Di dunia Islam, para sufi cenderung mempunyai tingkatan ilmu pengetahuan yang cukup tinggi dan mumpuni dengan jam terbang tinggi beserta penghayatan yang mendalam.

Sebut saja Al Ghazali dan Ibn Arabi yang sudah dikenal wawasan keilmuannya di dunia. Mereka adalah para pencari cahaya ilahi (spiritualis). Mereka adalah beberapa model beragama dengan spiritualitas. Singkat kata, semakin tinggi spiritualitas seseorang, maka semakin tinggi dan lama juga dialektika keilmuannya disertai penghayatan internalnya.

Tuhan memberi instrumen akal, indra, dan rasa untuk memahami semesta. Dialektika antara manusia dan semesta adalah proses memahami diri, bukan mengobservasi manusia lain seolah-olah dirinya sudah selesai. Memahami diri sendiri adalah proses refleksi diri terus-menerus ke dalam demi mengalahkan ego dan emosi sehingga mencapai level menuju/balik ke asal (fitrah/sangkan paraning dumadi).

Manusia tidak akan pernah selesai dalam berislam. Islam adalah kata kerja yang setiap saat berubah. Baik ulama hebat atau orang awam bisa saja terjatuh berbuat nista. Namun perbuatan ini bagian dari proses beragama seseorang. Ukuran Islam atau tidak ditentukan serta merta hanya pada saat seseorang berbuat nista atau tidak. Namun sejauh mana penghayatan spiritualnya digumuli dengan bantuan instrumen akal dan rasa sebagai proses refleksi diri.

Sebaliknya, berislam dengan emosi justru dipenuhi dengan nafsu benar akan keislaman sendiri. Emosi mendukung seseorang untuk mengkafirkan atau menyalahkan orang lain baik dalam hati maupun secara langsung atau dengan sindiran. Perilaku ini adalah sikap "rasis agama".

Islam emosional adalah tipikal seseorang yang keberagamaannya merasa di atas dari orang lain, terutama betikan dalam hatinya. Kepercayaan dirinya bersumber dari emosinya atas orang lain yang berbeda dengan ajarannya.

Selain perasaan di atas yang lain, emosi mendorong perasaan terancam muncul, sehingga hati dan sikapnya menjadi semakin eksklusif. Bersama dengan orang-orang yang bukan kalangannya, Islam garis emosional menjadi risih, gagap, dan asing. Akibatnya, mereka hanya bergerombol bersama kalangan sejenisnya bahkan tinggal di perumahan yang sepaham. Ini fenomena homogenisasi agama.

Semakin tinggi level emosi seseorang dalam beragama, maka semakin lemah pula level spiritual dan ilmu pengetahuannya. Emosi memberi peluang bagi seseorang mengalami keresahan eksistensial, yakni keresahan yang tidak tampak dan tidak bersumber atau tidak ada sebabnya. Analoginya, anak kecil yang takut terhadap sesuatu, akan merasa takut saja walaupun dijelaskan secara amat sangat rasional.

Jika semua ayat, surat, dan hadis dalam Islam dikumpulkan dengan fokus tema ancaman dan menakut-nakuti, maka seseorang yang beragama secara emosional dengan mudah menyerapnya lalu dengan mudah pula menyampaikannya ke pihak lain. Cara ini efektif seperti pendidikan anak dengan cara ancaman, hukuman, dan penghargaan. Padahal masih banyak tema lain yang lebih lembut, mendamaikan, dan rasional.

Dalam ajaran Islam ada hal prinsipil yang secara komprehensif menjadi fondasi beragama. Garis besar atau gambaran besar beragama inilah yang seringkali diabaikan atau direndahkan. Lalu terobsesi dengan kerangka beragama emosional yang "simple", terlihat jelas, dan tidak membutuhkan proses perenungan spiritual dan refleksi pemikiran mendalam. Jika kemudian diajak, maka mereka berkata, "Ah, hal itu begitu sulit dan rumit."

Mengabdi pada Emosi

Islam emosional memberi wajah Islam yang dipenuhi kekerasan dan kata-kata kasar. Namun semua itu dilabeli, didalihkan, dirujukkan pada teks-teks yang dianggap suci dengan metode clear-cut (asal cocok, disesuaikan dengan kemauannya). Jadi, tindak kekerasan seolah-olah diperbolehkan. Dalam hal ini, Islam emosional memberi potensi besar dalam tindak terorisme sebagai jalan pintas ke surga.

Emosi dalam beragama begitu sangat subjektif. Dampaknya akan berbahaya bagi kerukunan antara umat beragama dan antara umat Islam di Indonesia. Keberagaman di Indonesia bisa jadi semakin terancam dan minoritas semakin terintimidasi serta terpinggirkan dalam proses homogenisasi.

Jika urusan subjektif-emosional dijadikan unsur objektif, diangkat di level publik, dan dirumuskan menjadi alat negara untuk menghukum seseorang apalagi menjadi peraturan daerah (perda), maka negara ini akan tergerogoti oleh emosi kolektif mayoritas. Emosi kolektif berbahaya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara yang heterogen.

Singkat kata, Islam emosional adalah perilaku seseorang yang mengakui Islam dan ber-KTP Islam, tapi proses keislamannya justru jauh dari sari pati Islam. Mengabdi kepada emosi dengan dalih agama menjadi amat sangat berbahaya bagi spiritualitas setiap umat Islam dan proses reproduksi ilmu pengetahuan yang rasional demi Islam berkemajuan untuk bangsa.

Musa Maliki dosen FISIP UPN Veteran Jakarta, kandidat Doktoral Charles Darwin University Australia, anggota kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed