detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 12 Juni 2019, 15:32 WIB

Kolom

Mengoptimalkan Perjumpaan Kultural

Anggi Afriansyah - detikNews
Mengoptimalkan Perjumpaan Kultural Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta -
Beberapa tahun belakangan ini, membenci seolah semakin mudah dilakukan. Salah satu aspek yang begitu mengerikan adalah ketika bangunan kebencian ini dipijakkan oleh justifikasi keagamaan yang sempit. Agama yang seharusnya membawa damai tercemar karena laku umat yang kasar menggunakannya semata untuk kepentingan elektoral.

Hari-hari ini kita melihat betapa agama tidak menjadi panduan moral yang menuntun mereka yang berkontestasi di arena politik, tetapi sangat mudah diperalat demi kepentingan politik elektoral semata. Almarhum Gus Dur sudah mengingatkan bahwa agama merupakan pedoman moral, bukan justifikasi kelompok agama tertentu untuk memimpin dan mengatur mereka yang berbeda secara paksa dengan dalih tafsir keagamaan yang eksklusif. Inilah kritik dari Gus Dur dalam relasi agama dengan negara dalam beberapa tulisannya.

Almarhum Rendra dalam sajaknya yang berjudul Maskumambang mengkritik agama yang terlalu jauh dibawa ke ruang politik. "Apabila agama menjadi lencana politik, maka erosi agama pasti terjadi! Karena politik tak punya kepala, tidak punya hati, politik hanya mengenal kalah dan menang, kawan dan lawan, peradaban yang dangkal. Meskipun hidup berbangsa perlu politik, tetapi politik tidak boleh menjamah ruang iman dan akal di dalam daulat manusia!" (WS Rendra dalam Doa untuk Anak Cucu, 2014). Kritik Rendra masih relevan dalam membaca situasi politik yang gaduh hari-hari ini.

Tujuan politik sebagai alat perjuangan menciptakan masyarakat adil dan sejahtera kemudian menjadi sangat utopis, karena nyatanya praktik politik yang dilihat dan dirasakan begitu memecah belah persatuan bangsa. Ada saja argumen yang digunakan untuk menyerang pihak yang berbeda. Dialog-dialog konstruktif semakin sulit terbangun karena masing-masing pihak merasa paling benar.

Kontestasi politik lima tahun seperti perang yang melibatkan hidup mati. Sampai memposisikan teman dan bahkan saudara sebagai lawan yang perlu diberangus hanya karena berbeda pilihan. Siapapun akan diserang habis-habisan jika berbeda dengan cara pandangnya. Kebencian dengan mudah ditembakkan ke segala penjuru mata angin.

Hari-hari ini, kita perlu mengingat terus pesan Bung Karno. Ia menyebut Indonesia didirikan untuk semua bukan untuk golongan tertentu saja. Bukan untuk satu agama atau suku tertentu. Maka, tak bisalah jika hanya karena berbeda pilihan politik kita harus tercerai berai. Gotong royong yang menurut Bung Karno adalah intisari dari perasan semua sila Pancasila hanya bisa dilakukan ketika ada kesepakatan bersama untuk bahu membahu dalam membangun bangsa ini.

Sebab itu, Indonesia kini dan masa depan tak bisa dibangun oleh pertengkaran saling menjatuhkan. Tak bisa dikokohkan oleh semburan caci maki juga sumpah serapah yang penuh hasutan dan kutukan. Negeri ini tak memerlukan getir amarah penuh kebencian hanya karena perbedaan agama, suku, kelas sosial, apalagi hanya karena pilihan politik.

Piranti Kultural

Beruntung setelah kontestasi berlangsung, kita kemudian memasuki bulan Ramadhan dan disusul oleh Hari Raya Idulfitri. Ramadhan dan Idulfitri menyediakan ruang yang besar bagi pertemuan-pertemuan antarberagam masyarakat. Dua momen besar ini merupakan piranti perjumpaan kultural yang perlu dioptimalkan.

Perjumpaan-perjumpaan menjadi lebih intensif dilakukan di momen Ramadhan dipungkas dengan saling bermaafan di Hari Raya Idulfitri. Buka puasa bersama, tarawih bersama, ataupun salat berjamaah adalah momen pertemuan antar beragam kalangan menjadi bagian penting rekonsiliasi antar beragam kalangan yang sebelumnya sempat berbeda pendapat soal pilihan politik.

Jika sebelumnya sungkan untuk saling bertemu, maka Ramadan lalu maupun Idulfitri adalah momen tepat untuk menjalin kembali silaturahmi. Momen-momen mengharukan begitu banyak terpotret selama Ramadhan. Haru rasanya ketika melihat kalangan saudara non-muslim ikut merayakan kegembiraan ketika berbuka puasa dengan menyiapkan beragam makanan. Ataupun ketika kita menyaksikan masyarakat yang memiliki rezeki berlebih berbagi kepada kalangan masyarakat yang kurang mampu.

Situasi yang sama dirasakan ketika perayaan Idulfitri. Pertemuan antarmasyarakat begitu hangat dan menyenangkan. Silaturahmi yang dilakukan elite politik pun menjadi bagian penting bagi rekonsiliasi politik pascapilpres yang begitu menguras tenaga.

Momen-momen tersebut menghadirkan tawa bahagia dan perasaan hangat. Inilah Indonesia yang kita bayangkan bersama. Indonesia yang meskipun berbeda-beda, tapi tetap berkomitmen untuk terus bersama. Saling bahu untuk menolong atas nama kasih sayang.

Dinamika politik tidak boleh mencerabut rasa bahagia dan keinginan untuk berbagi di antara kita. Kontestasi yang terjadi tidak boleh membuat kita mudah marah atau mudah dihasut oleh mereka yang ingin memanaskan situasi menjadi tidak nyaman.

Ramadhan lalu membuat kita leluasa merenungkan kembali hakikat diri juga relasi dengan lingkungan sekitar. Almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam buku 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan (2007) mengemukakan bahwa ibadah puasa tidak hanya menyangkut masalah personal, tetapi juga terkait dimensi sosial. Ramadhan adalah waktu untuk menumbuhkan sikap-sikap terpuji salah satunya dengan mendahulukan berprasangka baik terhadap orang lain yang sangat sesuai dengan konsep fitrah.

Berprasangka baik, lanjut Cak Nur, berkaitan dengan pelaksanaan ibadah puasa. Karena ketika berpuasa umat Islam dianjurkan untuk menjauhi sikap tidak terpuji seperti iri, dengki, berkata kotor, dan segala sikap yang merugikan lainnya. Catatan reflektif dari Cak Nur dapat menjadi pengingat kita semua. Ramadhan menjadi ruang penting untuk mengikis rasa curiga berlebihan kepada pihak yang berbeda. Ada keinginan untuk memperlakukan orang lain sebaik-baiknya.

Kita tentu berharap ibadah puasa yang dijalani sebulan penuh lalu tidak menjadi sia-sia. Ramadhan sebagai sekolah terbaik yang membuat kita meraih derajat takwa. Sehingga kita dapat menjauhkan diri dari perilaku yang tidak terpuji yang coba kita hindari selama sebulan lamanya.

Anggi Afriansyah peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed