DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 12 Juni 2019, 12:10 WIB

Kolom

Menyelami Hakikat Halalbihalal

Suhardi Behrouz - detikNews
Menyelami Hakikat Halalbihalal Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Jakarta - Sebagai negara yang multikultural, Indonesia memiliki tradisi khas dalam menyambut atau merayakan hari keagamaan, terutama Hari Raya Idulfitri. Seperti tradisi mudik atau balik kampung sebelum Hari Raya Idulfitri datang, majelis rumah terbuka (open house) ketika hari raya tiba, dan beberapa hari setelahnya ada tradisi halalbihalal.

Beragam tradisi tersebut boleh dikatakan tidak ditemukan di belahan negara lain yang penduduknya beragama Islam. Ritus ini dilihat sebagai adaptasi dari budaya dan kultur Indonesia. Bahkan istilah halalbihalal yang menggunakan kosakata Arab tidak dikenal di negeri Arab. Itu artinya, tradisi halalbihalal adalah tradisi khas masyarakat Nusantara dalam merayakan dan memaknai Hari Raya Idulfitri. Malah Quraish Shihab menyebutnya sebagai "pribumisasi ajaran Islam".

Tradisi halalbihalal menurut Ibnu Jarir pertama kali dilakukan oleh Mangkunegara I yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Saat itu, untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran dan biaya, setelah Salat Idulfitri, Pangeran Sambernyawa mengadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Dalam sumber yang lain, tradisi halalbihalal lahir pada masa revolusi kemerdekaan. Saat itu, kondisi Indonesia sangat terancam dan membuat sejumlah tokoh menghubungi Sukarno pada Ramadhan 1946 agar bersedia di Hari Raya Idulfitri yang jatuh pada Agustus menggelar pertemuan dengan mengundang seluruh komponen revolusi. Tujuannya agar Idulfitri menjadi ajang saling memaafkan dan menerima keragaman dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Selanjutnya halalbihalal menjadi tradisi rutin di masyarakat, organisasi dan juga pemerintah. Hanya saja tradisi baik dan unik ini belakangan telah kehilangan ruhnya. Halalbihalal hanya dilihat sebagai acara seremonial belaka. Sehingga yang mendominasi hanya jabatan tangan dan makan-makan. Padahal halalbihalal memiliki kedalaman makna atau hakikat yang seharusnya dipahami dalam setiap diri yang fitri.

Hakikat halalbihalal itu antara lain, pertama, upaya untuk hidup dalam koridor yang halal atau yang baik. Menjalani hidup dalam tataran aturan Tuhan adalah sebuah keniscayaan agar keselamatan menyertai hidup. Sebab, hidup di luar koridor yang halal akan membawa manusia dalam jurang haram penuh kesengsaraan hidup, walaupun dalam pandangan manusia jurang haram terlihat indah. Namun itu adalah fatamorgana surga yang sejatinya berbalut neraka.

Sebagaimana yang diungkapkan Alquran dalam Surah An-Naml: 24, "Dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk."

Kedua, manakala hidup dalam koridor haram atau bertentangan dengan aturan Tuhan, maka harus kembali kepada koridor utama, yakni koridor halal. Artinya bertaubat kepada Sang Khalik dan bulan Ramadhan menjadi momentum yang sangat tepat untuk menyadarkan serta menundukkan hati agar mampu menangkap pesan-pesan keilahian dalam kehidupan. Persis seperti imbauan dalam Alquran Surah Az-Zumar: 53-54:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)."

Ketiga, merajut silaturahmi sesama insan. Kesalehan spiritual kepada Tuhan yang dipupuk selama Ramadhan harus dibuktikan dengan membumikan kesalehan sosial. Hal ini sudah diisyaratkan Tuhan ketika akhir Ramadhan dengan mewajibkan manusia untuk membayar zakat fitrah. Kesalehan spiritual yang dibangun selama Ramadhan tidak akan menjadi bangunan utuh manakala kesalehan sosial tidak ikut serta di dalamnya.

Untuk itu, menyelesaikan yang kusut dan menenun kembali tali silaturahmi yang putus menjadi tenunan indah akan semakin menguatkan bangunan kesalehan seorang insan. Sebagaimana anjuran Alquran dalam Surah An-Nisa: 1, "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."

Kembali Dibersihkan

Tradisi halalbihalal hadir untuk menenun tali silaturahmi yang sejati di semua jenjang tingkatan kehidupan. Seperti antara ayah dengan anak, istri dengan suami, sesama anggota masyarakat, dan juga antara pemimpin dengan rakyat. Kekusutan tali silaturahmi akibat debu-debu kehidupan harus kembali dibersihkan dan dijalin agar menjadi tenun indah dan kuat. Sehingga kehidupan sosial berjalan dengan baik dan indah selaras dengan sunnatullah.

Menenun silaturahmi dalam lingkaran keluarga harus dilanjutkan dalam lingkaran yang lebih besar agar harmonisasi sosial terwujud dalam kehidupan. Apatah lagi dalam konteks kebangsaan. Jujur diakui, jalin silaturahmi sesama anak bangsa akhir-akhir ini banyak yang terkoyak dan terputus akibat pilihan dan pandangan politik yang berbeda akibat pilpres kemarin, serta berseliwerannya informasi fitnah atau hoax di berbagai media sosial.

Dalam konteks kebangsaan, pemimpin haruslah terlebih dahulu memberikan keteladanan dalam mengulurkan kata maaf kepada rakyat. Sebab di tangan pemimpinlah tanggung jawab yang paling besar yang diberikan Tuhan. Selanjutnya elite-elite politik, tokoh bangsa ini juga harus saling memaafkan, sehingga tidak lahir saling tuduh, kecurigaan dan fitnah yang tidak memiliki dasar.

Kerelaan hati untuk saling memaafkan itu akan hadir apabila manusia itu berada dalam koridor halal, bukan jalan haram. Kesadaran untuk hidup dalam koridor halal juga tidak akan bisa tercapai manakala insan tidak melewati Ramadhan dengan baik. Kalau tidak, tradisi halalbihalal atau saling memaafkan hanya akan menjadi kesalehan sosial yang kehilangan ruhnya. Ruh kesalehan sosial itu adalah ketundukan kepada Tuhan dan komitmen untuk menjalankan aturan-aturan-Nya dalam kehidupan.

Hadirnya hati dalam tenun silaturahmi menjadi penting agar tenunan itu kuat dan akan mengikat sekat-sekat yang membuat komunikasi menjadi terhambat. Alhasil, komunikasi yang tersumbat menjadi lancar, prasangka buruk menjadi luluh dalam wadah silaturahmi. Akhirnya lahirlah pribadi-pribadi yang melihat pribadi lainnya sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Menyakiti orang lain sama dengan menyakiti dirinya sendiri, membohongi dan menzalimi rakyat sama dengan membohongi keluarga dan diri mereka sendiri. Ketika kesadaran itu hadir dalam diri, ketika itulah hakikat halalbihalal telah tercapai. Segala kesalahan insan lain akan mudah dimaafkan dan dilupakan, serta kesalahan diri akan mudah diakui dan berjanji untuk tidak diulangi kembali.

Selanjutnya dipatrikan dengan saling memaafkan, mengulurkan tangan penuh kesadaran, ketulusan serta keikhlasan. Sehingga kesalehan spiritual yang telah dijemput dan diraih selama Ramadhan dan dirayakan di hari yang fitri akan terasa indah dan sempurna dengan dibalutnya kesalehan sosial dalam setiap diri anak bangsa.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed