detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 27 Mei 2019, 16:50 WIB

Kolom

Melestarikan Tanaman Jamu Indonesia

Muhamad Jalil - detikNews
Melestarikan Tanaman Jamu Indonesia Temu lawak (Foto: M Reza Sulaiman)
Jakarta -
Jamu adalah satu warisan asli budaya Indonesia. Eksistensinya harus terus dilestarikan di tengah maraknya obat-obat kimia yang terkadang memiliki efek samping yang bahaya bagi jangka panjang manusia. Hari Jamu Nasional ke-11 (27 Mei 2019) adalah momentum untuk mengembalikan kearifan lokal untuk terus dipelihara dalam mendukung Gerakan Masyarakat Sehat (Germas).

Hari Jamu dipopulerkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2008. Pemerintah saat itu berpikir bahwa jamu harus dipertahankan karena merupakan minuman sehat yang tidak memiliki efek berbahaya bagi tubuh. Namun sayangnya untuk mempopulerkan jamu di tengah-tengah masyarakat modern mengalami banyak kendala. Salah satunya adalah pengetahuan masyarakat pada tanaman obat masih rendah. Hal ini menyebabkan ketergantungan terhadap obat-obat kimia sangat tinggi.

Padahal banyak tanaman-tanaman sekitar rumah yang bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan penyakit yang khasiatnya tidak kalah dengan obat kimia. Daun pepaya efektif menyembuhkan malaria, jambu biji dapat meningkatkan trombosit darah, kunyit ampuh mengatasi mag, sirsak adalah musuh utama kanker, temu lawak meningkatkan nafsu makan, temu ireng mengatasi batuk dan masuk angin, dan spesies medicine plants lain.

Indonesia saat ini riskan terhadap ancaman secara internal, sehingga eksistensi tanaman obat sebagai bahan utama pembuatan jamu bisa punah. Data LIPI (2019), menunjukkan keanekaragaman tumbuhan di Indonesia mengalami ancaman kepunahan, di mana 437 spesies telah terancam punah, dan lebih dari 600 spesies dikategorikan hampir terancam (near threatened).

Contoh nyata pada marga Curcuma (temu-temuan). Genus ini sekarang terancam punah. Padahal Curcuma merupakan marga yang banyak digunakan sebagai bahan pembuatan jamu di masyarakat, baik jamu pahitan, beras kencur, kunir asem, maupun yang lain.

Dalam buku Flora of Java disebutkan oleh Backer dan Van Den Brink (1968), terdapat 16 spesies Curcuma yang ditemukan di Pulau Jawa waktu itu. Namun saat ini hanya tersisa lima spesies yang masih diperjualbelikan di pasar tradisional. Spesies itu adalah temu ireng, temu putih, temu lawak, kunyit, dan temu giring. Sedangkan temu glenyeh (Curcuma soloensis) asli Solo dan dan temu tis (Curcuma purpurascens) asli Jawa Barat sulit ditemukan.

Ancaman berikutnya adalah eksternal, yaitu berkaitan dengan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) terhadap pengakuan identifikasi spesies lokal. Temu lawak, buah merah, dan sambiloto merupakan tanaman asli Indonesia, namun ketiga spesies tersebut sudah dipatenkan oleh orang luar negeri. Hal ini sebenarnya jadi tamparan keras bagi pemerintah agar lebih peduli terhadap kekayaan plasma nutfah Indonesia.

Wilayah geografis kita dari dulu sampai sekarang dikenal sebagai negara mega-biodiversitas karena memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Hampir 89.326 lumut dan paku, 19.232 spesies tanaman berbunga tumbuh di Kawasan Indonesia (Bappenas, 2016). Pemerintah hendaknya segera menggerakkan para peneliti, dosen, dan ahli taksonomi untuk mengeksplorasi kekayaan alam di Tanah Air, sehingga terungkap asas manfaat suatu spesies tertentu bagi kesehatan manusia.

Ancaman lain misalnya kehilangan habitat akibat illegal loging, pemanfaatan berlebihan pada spesies yang memiliki nilai jual tinggi, dan adanya spesies asing yang invasif., Adanya pencemaran dan perubahan iklim akibat global warming juga dapat menyebabkan kepunahan tanaman jamu.

Strategi Pengembangan

Agar sumber daya tanaman tanaman jamu bisa terkelola secara berkelanjutan, perlu rumusan strategi pengembangan yang tepat ke depan (Widyatmoko, 2019). Perumusan arah harus didasarkan pemahaman dan pertimbangan-pertimbangan pada aspek-aspek strategis. Pertama, keanekaragaman tanaman jamu merupakan modal dan entitas yang sangat penting untuk mewujudkan Germas.

Kedua, kepunahan spesies dan populasi merupakan kerugian yang sangat besar untuk mewujudkan kemakmuran bangsa. Ketiga, kompleksitas dan keragaman hayati merupakan hal positif karena mengandung pilihan-pilihan pemanfaatan sebagai tanaman jamu ke depan. Keempat, evolusi merupakan proses alamiah yang positif bagi tanaman jamu. Kelima, keanekaragaman tumbuhan jamu memiliki nilai intrinsik dan manusia tidak berhak merusak nilai kekayaan tersebut.

Muhamad Jalil dosen IAIN Kudus, mahasiswa Biologi IAIN Kudus dan pemerhati tanaman obat keluarga


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed