detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 26 Mei 2019, 16:12 WIB

Jeda

Lawan Kejantanan Bukan Pengecut, Tapi Teknologi

Mumu Aloha - detikNews
Lawan Kejantanan Bukan Pengecut, Tapi Teknologi Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Sebagai pengguna angkutan umum, saya sering dibuat jengkel oleh ulah penumpang lain yang bermacam ragam. Hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin dianggap biasa saja, bagi saya bisa cukup mengganggu. Bagi yang bersangkutan sendiri, mungkin tidak menyadari bahwa yang dilakukannya itu punya kemungkinan mengganggu orang lain. Di sinilah perlunya kesadaran dan kepekaan dalam bersikap dan bertingkah laku, membawakan dan menampilkan diri di ruang publik.

Pada waktu yang belum lama berlalu, berbicara keras-keras di telepon genggam merupakan perilaku yang secara umum membuat kenyamanan orang lain di ruang publik seperti angkutan umum merasa terganggu. Apakah orang-orang yang berperilaku seperti ini sudah "punah" seiring dengan pergeseran fungsi dan peningkatan teknologi telepon genggam? Belum sepenuhnya. Namun, bisa dibilang, hal seperti itu sudah sangat jarang sekali terjadi.

Sekarang, "gangguan" itu telah berubah, mengikuti perkembangan teknologi gadget dan kebutuhan kita pada benda itu. Yakni, orang-orang yang menonton video tanpa headset, dengan volume yang menyebar dan menggema hingga ke sekitar. Jika Anda pengguna angkutan umum seperti saya, menyaksikan perilaku orang seperti itu barangkali sudah jamak. Kadang di balik kejengkelan saya, diam-diam bisa memaklumi jika yang melakukannya bapak-bapak tua, yang biasanya menonton video ceramah agama.

Maksud saya, bukan apa yang ditontonnya itu yang membuat saya maklum, melainkan karena yang melakukannya adalah bapak-bapak, yang saya anggap....ya, pokoknya bisa dimaklumi. Tapi, jika yang melakukannya adalah anak-anak muda berbusana kantoran yang keren, rapi, elegan, dan tampak pintar berdebat di ruang meeting, rasanya saya ingin berteriak tepat di depan telinganya, memberi tahu bahwa ia telah melakukan sesuatu yang mengganggu kenyamanan bersama di ruang publik.

Anda boleh menganggap saya berlebihan. Anda mungkin menganggap bahwa perilaku seperti itu biasa saja, dan oleh karenanya tidak perlu dirisaukan. Tapi, bagi saya hal seperti itu sangat mengganggu. Mungkin ini memang masalah saya. Tapi, boleh jadi, ini memang salah satu masalah kita dengan dunia modern yang semakin memisahkan antara hal etis dan legal.

Bicara keras-keras di telepon genggam atau menonton video di Youtube dengan volume yang dibiarkan "ke mana-mana", di mana pun Anda berada, di ruang publik maupun di kamar sendiri, jelas memang tidak melanggar hukum apapun. Namun, dalam sebuah kehidupan bersama, dengan sistem tata nilai tertentu yang secara tidak tertulis "disepakati", ada hal-hal etis yang mestinya menjadi pertimbangan kita dalam berperilaku di tempat umum, karena menyangkut kepentingan banyak orang yang berbeda-beda.

Hari ini, teknologi komunikasi telah melahirkan kita kembali dalam sebuah tatanan yang semakin hari semakin memisahkan kita dari nilai-nilai dan hampir apapun yang sebelumnya menjadi pegangan dan pijakan kita dalam kehidupan bermasyarakat. Kita memisahkan nilai-nilai ketulusan dan spontanitas serta mungkin juga kejujuran dari perkataan kita, dengan keterampilan "baru" mem-posting "status" untuk sekadar menarik perhatian, mengundang komentar, mendapatkan 'like', dan menjadi viral, atau bahkan untuk menciptakan "keributan" dan "kegaduhan".

Keterhubungan digital kemudian menjadi ironi ketika ikatan sosial yang "semu" dan "tidak mengikat" itu menciptakan sebentuk ketergantungan yang membuat kita merasa "bersih" dan lebih "aman" setelah membatasi penggunaannya. Hal ini begitu nyata terasa ketika belakangan ini, dalam situasi berlatar pertarungan politik dua kubu, berbagai ujaran kebencian, berita palsu, dan kabar bohong dijadikan senjata untuk saling menghancurkan. Kita memisahkan keberanian manusia dari aksi nyata secara progresif, atau pun perkelahian satu lawan satu, dengan menjadi pengecut berkeahlian membuat "tagar", trending topic, meme, manipulasi gambar dan video, serta pernyataan-pernyataan bombastis-provokatif, untuk membunuh orang tanpa harus menghadapi risiko nyawa terancam.

Para politisi, atas nama rakyat, dengan dalih melawan tuduhan kecurangan pemilu yang didengungkan berulang-ulang, menyerukan perlawanan sampai titik darah penghabisan (darah siapa?), tanpa harus ikut turun ke jalan, cukup dengan ancaman "people power" atau gerakan kedaulatan rakyat, yang mengaduk-aduk emosi massa. Ketika massa marah, tersulut, dan menjadi beringas lalu benar-benar terjadi kerusuhan dalam sebuah aksi demonstrasi, seorang politisi, mungkin dari sebuah kafe sambil menyeruput kopi, cukup melemparkan cuitan: mohon info, berapa jumlah korban tewas dalam aksi penembakan umat Islam pagi ini?

Semua hal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tiba-tiba menjadi soal agama, menjadi isu "umat Islam", demi sebuah kepentingan dan ego segelintir elite yang sedang berusaha mati-matian untuk mendapatkan kekuasaan.

Di tangan orang-orang seperti itu, teknologi menjadi sebuah kekuatan yang merusak. Dibungkus dengan sentimen agama sebagai alat untuk memanipulasi kesadaran massa, semua cara kemudian menjadi halal karena atas nama agama semua sah sebagai bagian dari "perjuangan", bahkan "jihad". Apakah sang politisi yang mengatasnamankan "umat Islam" tadi benar-benar berdiri untuk membela umat (membela dari apa?), atau sebenarnya dia tahu, sambil tertawa-tawa, bahwa yang tertembak adalah "para perusuh", seperti belakangan dibuktikan oleh pihak aparat, yang sama sekali tidak mewakili kepentingan-kepentingan yang sedang bertikai?

Alangkah bahayanya teknologi, ketika telah dikangkangi oleh orang-orang yang karena nyaman dibuatnya, mereka kemudian memisahkan perjuangan sebagai (seperti kata Rendra) "pelaksanaan kata-kata", dengan justru cukup merancang kata-kata, menyebarkannya sebagai hoax, misalnya tentang "tentara China", untuk memancing kemarahan massa yang lebih luas, betapapun mereka tahu tak masuk akalnya kehadiran tentara asing dalam pengamanan demonstrasi di sebuah negara.

Para penyebar hoax itu jelas memang tidak bodoh. Justru mereka sangat pintar, dalam hal ini, memanfaatkan teknologi. Kemudahan untuk "berjuang" tanpa harus berhadap-hadapan secara langsung dengan lawan, berkeringat, apalagi berdarah, telah membuat mereka menjadi pengecut yang "melempar batu" dari balik aplikasi-aplikasi, dari grup-grup Whatsapp alumni. Sambil, mungkin, menonton video yang lucu-lucu di Youtube, dalam perjalanan dengan angkutan umum, tanpa menggunakan headset.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed