detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 26 Mei 2019, 12:20 WIB

Kolom

Arifin Ilham, Zikir, dan Musik

Aris Setiawan - detikNews
Arifin Ilham, Zikir, dan Musik Foto: Ari Saputra
Jakarta - Musik adalah serupa getaran-getaran (vibrations) yang menyentuh jiwa. Ia tidak saja berwujud nada, namun jembatan yang menghubungkan manusia dengan penciptanya. Bagi kalangan kaum sufi, musik tak ubahnya gejolak yang mendorong hati untuk terus mencari Tuhan (Nashir Budiman, 1995). Mereka berpandangan bahwa musik dapat menjadi sarana yang memurnikan hati (as-sama) dari kebencian dan kedengkian. Terlebih apabila musik itu berisi senandung puja dan puji bagi Allah.

Dalam konteks yang demikian kita memahami bahwa zikir yang dilantunkan oleh Arifin Ilham tidak saja menjadi sebuah kekaguman bagi kebesaran nama Allah, tapi juga menempatkan musik dalam kuasa religius, di mana manusia terlibat, larut, dan hanyut di dalamnya. Dalam zikir yang dilakukan Arif Ilham dan jamaahnya, gelombang musik saling bersahutan, menggaung membentuk gugusan suara yang ramai, namun sejatinya mereka sedang bertafakur dalam keheningan diri yang sunyi.

Di kala para ustad lain berlomba-lomba meneguhkan diri sebagai penceramah yang penuh retoris di depan umat, Arifin Ilham memilih zikir sebagai jalan dakwahnya. Jalan dakwah yang demikian menihilkan batas antara ustad dan umat, mereka menyatu dalam senandung yang sama. Dalam bunyi zikir itulah Arifin menjadi pemantik, membawa ketenangan dan kesyahduan tentang keindahan dan kebesaran Allah.

Berzikir menjadi lorong penyerahan diri sepenuhnya, mendamba ampunan atas segala dosa. Puncak dari zikir adalah apa yang disebut sebagai "ekstase", senandung itu membawa kesadaran umat memasuki alam lain, seolah ia berada dalam sebuah titik penyatuan diri dengan Tuhannya. Karena itu kemudian air mata mengalir, merasa diri sangat kecil dan lemah di hadapan Ilahi.

Siapapun dapat melakukan zikir, namun tidak semua dapat meraih kuasa kesakralan sebagaimana yang dilakukan oleh Arifin Ilham. Suaranya parau namun lembut, serak-serak yang menggetarkan. Dengan mata yang terpejam, zikir dilantunkan secara pelan dan khusyuk. Suara itu sayup-sayup hadir menyentuh perasaan terdalam umat. Dalam sebuah ceramahnya ia berkata: zikir adalah makanan yang paling bergizi bagi hati dan iman.

Zikir selayaknya embusan napas, ada diktum waktu, tentang tempo dan keindahan nada. Sapardi Djoko Damono dalam Dimensi Mistik Islam (2000) menjelaskan bahwa pencapaian tertinggi dari lantunan doa adalah saat urusan keduniawian telah dilupakan, yang ada hanya diri dan Tuhannya. Pandangan yang demikian menjadi keutamaan zikir dengan melanggengkan konsep "duplikasi", mengulang-ulang bacaan secara terus menerus.

Dalam ilmu musik, pengulangan yang berlangsung lama menyebabkan "trans", adanya peristiwa "kehadiran" Tuhan dalam diri. Oleh karena itu manusia tidak lagi memiliki kuasa atas tubuhnya, segala yang dilakukan dan diucapkan semata karena Allah.

Margareth Smith dalam Reading from the Mystics of Islam (1950) mengungkapkan, kendatipun musik seringkali menjadi perdebatan yang tiada tuntas di kalangan ilmuwan Islam (halal-haram), namun tanpa sadar bahwa sejatinya musik telah menyatu dalam setiap pelafalan doa dan puji-pujian, tidak terkecuali zikir. Dalam bahasa Margareth, lewat musik tuhan menampakkan dirinya tanpa "cadar".

Dengan kata lain, berzikir adalah sebentuk upaya menghapus batas atau sekat yang menghalangi manusia berjumpa dengan tuhannya. Karena itu para wali dalam menyebarkan agama Islam menggunakan musik untuk mendamba karunia dan anugerah, lewat penciptaan senandung lirik (baca: Jawa) yang menentramkan hati. Di kalangan Nahdlatul Ulama, selepas azan terdapat "puji-pujian", mengkultuskan tentang keagungan Tuhan lewat keindahan nada dan suara. Bermusik, dengan demikian adalah ber-Tuhan.

Muhammad Yusra (2015) melihat zikir sebagai strategi dakwah dari Arifin Ilham. Seringkali dakwah tidak harus dilakukan dengan memproduksi wacana-wacana verbal berupa nasihat-nasihat tentang kehidupan. Adakalanya, yang dibutuhkan umat bukanlah sebentuk teguran, kritikan tentang hidup dan seruan untuk terus mempertebal iman. Tapi terlibat langsung dalam pusaran peristiwa yang secara nyata menempatkan diri mereka sebagai subjek, bukan semata objek yang mendengar.

Dengan berzikir bersama, mereka turut menjadi aktor atau pelaku dalam pusaran peristiwa religius itu. Bersenandung zikir melampaui rentetan kalimat bijak berisi teguran dan nasihat. Mereka mengalami langsung untuk mengerti dan memahami, ingatan-ingatan tentang salah dan dosa, dengan titik kulminasi berupa keinsyafan diri.

Dalam rentang yang demikian, Arifin Ilham hadir memberi warna baru dalam berdakwah, membawa semangat keimanan paling total lewat zikir. Namun ia ditakdirkan untuk pergi terlebih dahulu, menghadap Allah dengan penuh senyum dan damai pada 22 Mei 2019. Di usia yang ke-49 tahun ia kalah bergelut dengan sakit kanker kelenjar getah bening yang selama ini diderita. Nada-nadanya akan selalu dikenang. Warna suaranya yang khas itu terus menggema dan menyadarkan kita tentang arti penting Islam dan kehidupan lewat zikir.

Berzikir tidak saja menderas ayat dan nama Allah dengan khusyuk, namun juga memujanya lewat serangkaian nada-nada yang indah. Keindahan musik itu menjelaskan tentang keindahan dari sebuah keagungan sang pencipta. Nada-nada yang membingkai zikir menjadikan suara dari Arifin Ilham serupa bunyi yang dinanti dan dirindukan. Suara itu pun kini menjadi kenangan. Lewat senandung zikir, kepergian Arifin Ilham diiringi dan ditangisi, karena lewat zikir pula pertemuan dengan Allah dilangsungkan, bukan lagi di dunia, namun di alam baru yang lebih hakiki. Selamat jalan, Ustad!

Aris Setiawan etnomusikolog, pengajar di ISI Surakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com