detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 25 Mei 2019, 13:02 WIB

Kolom

Jika Bukan Setan, Lalu Siapa?

Candra Malik - detikNews
Jika Bukan Setan, Lalu Siapa? Candra Malik (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Satu pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab, bukankah setan dibelenggu pada Bulan Ramadhan? Tapi mengapa masih saja manusia berbuat keburukan? Apakah kita sesungguhnya tidak membutuhkan bujuk rayu setan untuk berbuat semau gue?

Ah, ternyata bukan cuma satu, tapi tiga atau bahkan bisa lebih banyak pertanyaan yang muncul tentang bagaimana manusia bisa mandiri berbuat mungkar. Lebih dari itu, jangan-jangan kita pun suka menyalahkan setan atas perbuatan jelek kita sendiri.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Jika telah tiba Bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu." Sabda Nabi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ini terang menegaskan masa tak berdaya setan.

Khusus di bulan suci puasa, setan tak diberi keleluasaan untuk membisikkan kejahatan ke dada manusia, sebagaimana termaktub pada Q.S. An Naas (114): 5. Nah, kita selayaknya menuduh diri sendiri sebagai biang keladi perbuatan khilaf maupun yang sengaja.

Dalam Alquran setidaknya ada lima nafsu yang disebut. Pertama, nafsu muthmainnah, sebagaimana Q.S. Al Fajr (89):26-27, yaitu nafsu yang tenang dan menenangkan jiwa, yang mendorong manusia beramal ibadah semata-mata karena Allah dan untuk Allah.

Kedua, nafsu amarah bi 's-suu', seperti yang dicantumkan pada Q.S. Yusuf (12):53, yaitu nafsu yang mengajak manusia berbuat keji dan mungkar. Namun, masih dalam ayat ini, Allah memberi pengecualian terhadap nafsu yang telah Dia karuniai rahmat.

Ketiga, nafsu lawwamah, yang dalam Q.S. Al Qiyamah (75):2 bahkan Allah bersumpah dengan menyebut namanya, sesudah Dia bersumpah demi hari kiamat. Lawwamah ini nafsu yang suka menyesali perbuatannya. Namun, penyesalan toh sering terlambat.

Nah, gara-gara nafsu ini manusia tak mematuhi perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Dan, kita acapkali merasa menyesal setelah melakukan kesalahan. Namun, ada yang insyaf, ada pula yang justru mengulangi perbuatannya.

Sampai di sini menjadi jelas ternyata setan bukanlah penyebab tunggal perbuatan buruk manusia. Tiap-tiap manusia sudah diberi bakat berbuat baik, sebagaimana bakat untuk berbuat sebaliknya. Setan membisiki manusia untuk diajaknya bersekutu.

Ironisnya, manusia teramat susah melihat kekurangan dan keburukannya sendiri. Ini lagi-lagi bukan semata karena setan, tapi disebabkan nafsu kita sendiri. Dalam Q.S. Yusuf (12):83, Nabi Yaqub AS difirmankan menyebut nafsu musawwalah. Nafsu apa itu?

Inilah nafsu yang menyebabkan manusia suka memandang baik bahkan terhadap perbuatan buruknya. Hari-hari ini, hari-hari suci yang seharusnya untuk menahan diri, nafsu-nafsu tersebut di atas sepertinya sedang mendapatkan panggung besar.

Tapi, sepanjang belum tiba ajal, tak pernah tertutup kemungkinan, Allah berkehendak memberikan ilham kepada manusia untuk membedakan kefasikan dan kebaikan. Inilah nafsu yang telah dibimbing Allah yang dalam Q.S. Asy Syams (91):7-8 disebut nafsu mulhamah.

Dalam ketertimbingan itulah, nafsu-nafsu manusia terdorong untuk tak lagi berbuat buruk. Melainkan, mulai istiqamah berbuat baik, patuh dan taat pada Allah dan Rasul-Nya, hingga akhirnya merasa legawa hanya bersandar pada Allah, tak lagi pada sesama.

Diabadikan di Q.S. Al Fajr (89):27, keadaan inilah yang disebut radhiyatan mardhiyah, merasa lega dan diridhai Allah. Puasa pada Bulan Ramadan menjadi wahana yang tepat untuk bertawakal pada Allah. Sebab, puasa itu sendiri ibadah yang semata untuk-Nya.

Dalam Hadits Qudsi disebutkan, "Setiap amal baik manusia untuk dirinya sendiri, kecuali puasa, sebab puasa hanya untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya." Kini, pada Bulan Ramadhan, tak perlu mengambinghitamkan siapa pun. Kita saja yang menahan nafsu.

Candra Malik budayawan sufi


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com