DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 25 Mei 2019, 11:50 WIB

Pustaka

Melacak Akar Ideologi dan Pendidikan Islam Transnasional di Indonesia

Umi Salamah - detikNews
Melacak Akar Ideologi dan Pendidikan Islam Transnasional di Indonesia
Jakarta -
Judul Buku: Ideologi dan Lembaga Pendidikan Islam Transnasional di Indonesia: Kontestasi, Aktor, dan Jaringan; Penulis : Ali Muhtarom; Penerbit: Zahir Publishing, Januari 2019; Tebal: 365 halaman

Banyak hal yang dapat disoroti dari penyelenggaraan Pemilihan Umum Serentak 2019, terutama pemilihan presiden dan wakil presiden. Salah satunya isu terkait salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden yang santer disebut pro dengan berdirinya khilafah.

Gaung khilafah untuk berdiri di negeri ini sejatinya hal baru. Produk negara Islam sendiri memang bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari sebuah ideologi Islam tertentu. Begitu pula dengan serangkaian aksi terorisme yang terjadi di Indonesia, gerakan-gerakan radikal ini beberapa terjadi mengatasnamakan Islam. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan ideologi Islam transnasional yang sangat pesat di Indonesia.

Perkembangan ideologi Islam transnasional menjadi topik hangat yang dibicarakan di berbagai belahan dunia pada awal abad ke-21 ini. Secara geopolitik dan geostrategik, penyebaran ideologi Islam transnasional tidak bisa dipisahkan dari kontestasi Arab Saudi dan Iran. Revolusi Iran pada 1979 dalam menjatuhkan kekuasaan monarki Syah Reza Pahlevi dan berbagai kejadian penting lain seperti Perang Teluk 1991, Invasi Irak pada 2003, dan bergulirnya The Arab Spring pada 2011 semakin membuat Arab Saudi kehilangan kepercayaan diri dalam merebut pengaruh keislaman di dunia. Dominasi Iran menyudutkan posisi Arab Saudi.

Untuk menghadang laju pengaruh Iran, Arab Saudi menciptakan ketakutan di dunia muslim melalui wacana yang disebut ancaman Syiah. Wacana ini diartikan sebagai sebuah ketakutan sebagian muslim terhadap ekspansi ideologi Syiah yang bukan hanya dianggap menyimpang, tetapi juga dapat mengancam stabilitas negara.

Dampak dari perseteruan antara Arab Saudi dan Iran secara tidak langsung dirasakan di Indonesia. Adanya penggiringan opini terkait isu sektarianisme Sunni dan Syiah yang tersebar masif di berbagai media dan ceramah-ceramah keagamaan tertentu, menyeret masyarakat muslim Indonesia untuk merasakan gejolak di Timur Tengah.

Sebagian masyarakat menyakini terjadinya perang di Timur Tengah akibat perseteruan ideologis antara Sunni dan Syiah. Sebagian yang lain menganggap lebih mengarah pada persaingan antara Arab Saudi dan Iran merebut pengaruh politik dan persaingan untuk mempertahankan pengaruh politik, sosial, dan penguasaan ekonomi di kawasan tersebut.

Salafi dan Syiah merupakan bentuk ideologi Islam transnasional karena keduanya melintas tanpa batas dari tempat kedua ideologi tersebut berasal ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebagai ideologi Islam transnasional, penyebaran Salafi dan Syiah bersifat ekspansif melalui struktur aktor dan institusi kelembagaan transnasional.

Kedua aspek tersebut memainkan peran penting dalam penyebaran Salafi dan Syiah yang menembus batas dan ruang tanpa mengikatkan diri pada aturan yang berlaku di dalam suatu negara tertentu (hal 3). Ideologi Salafi berorientasi pada gerakan pemurnian Islam dengan konsep salafi ahlul hadits.

Di Indonesia, gerakan Salafi yang secara enggan mengikuti tradisi, nilai-nilai, dan aturan-aturan yang berlaku menjadikan ideologi ini terkesan ekstrem, radikal, dan intoleran. Stigma ini tidak hanya berasal dari non muslim, tetapi juga berasal dari sebagian kalangan muslim sendiri. Bahkan Salafi punya peran terhadap aksi serangan terhadap World Trade Center (WTC) dan Markas Departemen Pertahanan Amerika, Pentagon yang dikenal sebagai Peristiwa 9/11.

Sedangkan ideologi Syiah secara umum menekankan pada bentuk keterhubungan dengan doktrin imamah atau kepemimpinan yang diwakili oleh para ulama sebagai orang suci yang menempati posisi sebagai perantara menuju kepada hakikat Tuhan. Gerakan ini berbeda dengan Salafi yang terkesan keras menolak tradisi, nilai-nilai, dan aturan-aturan yang berlaku di suatu negara. Ideologi ini lebih menekankan pada pendidikan filsafat dari ulama Syiah seperti Al-Farabi, Nashiruddin Thusi, dan Mulla Sadra.

Ideologi Salafi dan Syiah diekspansi melalui lembaga pendidikan. Pendidikan menjadi sarana yang efektif dalam menginternalisasikan ideologi kepada masyarakat sekaligus menjadi sarana dalam mempertahankan ideologi. Strategi ini dilakukan untuk menarik pengaruh, simpati, dan pengakuan oleh masyarakat terhadap kedua ideologi tersebut.

Di Indonesia, ada Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) yang menyebarkan ideologi Salafi. Lembaga ini berfokus pada dakwah keislaman dan kajian materi yang berasal dari tokoh-tokoh Salafi Wahabi. Lembaga ini mendapatkan sokongan dana melimpah dari Arab Saudi. LIPIA diharapkan dapat menjadi model pendidikan alternatif yang dapat melegitimasi kepentingan Arab Saudi, khususnya dalam mengekspor ideologi Salafi.

Sedangkan ideologi Syiah melalui Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra yang berada di bawah Yayasan Hikmah al-Mustafa yang berdiri pada 2012 memberikan beasiswa kepada para mahasiswanya. Lembaga ini menekankan pada pengembangan pemikiran-pemikiran keislaman Syiah.

Keberadaan lembaga dan aktor menjadi penentu dalam merebut ruang publik yang berupa pengaruh ideologi yang diperankan mereka. Untuk menjelaskan bagaimana para aktor menjalankan strateginya dalam mewujudkan nilai-nilai ideologi yang diyakini serta untuk mendapatkan pengakuan dari mayoritas muslim Indonesia digunakan kerangka teori strategi reproduksi dan strategi rekonversi.

Strategi reproduksi adalah serangkaian tindakan yang didesain untuk melestarikan dan memperbaiki posisi. Dalam konteks Salafi dan Syiah, strategi reproduksi dapat berbentuk pendidikan, dakwah, dan bentuk lain seperti penerbitan buletin, majalah, dan buku-buku yang berisikan pesan penyampaian ideologi.

Dalam pendidikan, LIPIA dan STFI Sadra merupakan lembaga yang efektif karena di dalam mereproduksi atau mengkonstruksikan ideologi dilakukan dengan tatap muka secara langsung kepada para mahasiswa. Melalui tatap muka secara langsung akan terjadi interaksi yang lebih intensif.

Adapun strategi rekonversi adalah strategi yang berkaitan dengan tindakan-tindakan atau gerakan dalam mengakumulasikan dan mentransformasikan modal-modal ekonomi, sosial, dan kultural di dalam arena sosial (hal 49).

Rivalitas lembaga Islam transnasional Salafi dan Syiah di Indonesia saat ini secara sadar maupun tidak sadar telah berhasil mempengaruhi dan menarik simpati dari kalangan masyarakat muslim. Ini tercermin pada lembaga pendidikan yang semakin menjamur dengan berlabel agama.

Kenyataan dua ideologi tersebut berkembang dengan baik dan nyaman di negeri ini, menunjukkan bahwa masyarakat sangat terbuka terhadap ide-ide baru. Tetapi, daya keterbukaan ini di sisi lain diuji ketika negeri ini dijadikan medan kontestasi, jika bukan proxy war, dari ideologi transnasional. Apalagi jika dilakukan dengan membunuh budaya lokal, ini sangat miris.

Pendidikan haruslah terus menjadi media pencerdasan, perdamaian, dan pencerahan peradaban, bukan media penyebaran kebencian, pertikaian, dan perpecahan.

Demikian, walaupun buku ini merupakan hasil riset serius berupa disertasi, tetapi dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami oleh kalangan masyarakat pada umumnya. Buku ini sangat bermanfaat membuka kesadaran masyarakat untuk berpikir dan bersikap kritis melihat fenomena tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan berlabel keagamaan saat ini, yang terkadang model dan gerakannya bertabrakan dengan fitrah kenusantaraan.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed