DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 24 Mei 2019, 13:08 WIB

Kolom

Sampah Bulan Ramadhan

Ririn Handayani - detikNews
Sampah Bulan Ramadhan Pasar takjil Ramadhan di Jogja (Foto: istimewa)
Jakarta - Salah satu masalah klasik yang kita hadapi saat Ramadhan adalah peningkatan jumlah sampah yang sangat fantastis. Untuk wilayah Jakarta saja, Dinas Lingkungan Hidup DKI pada 2018 lalu mencatat terjadi peningkatan tonase sampah sebesar 289 ton per hari atau meningkat empat persen dari bulan biasa. Peningkatan ini disebabkan oleh perubahan dan peningkatan pola konsumsi masyarakat pada waktu berbuka puasa dan sahur.

Kenaikan jumlah sampah umumnya juga terjadi di daerah-daerah lain terutama kota-kota besar yang memiliki tren peningkatan konsumsi selama Ramadhan. Sejumlah aktivis lingkungan memperkirakan, setidaknya terjadi peningkatan sebanyak 500 ton sampah makanan khusus Ramadhan. Sama dengan Jakarta, kebanyakan sampah adalah gabungan dari makanan yang tidak habis serta kemasan makanan.

Peningkatan jumlah sampah yang sangat signifikan ini tentunya sangat mengkhawatirkan mengingat pada bulan-bulan lain di luar Ramadhan produksi sampah kita, terutama yang berasal dari sisa makanan, menempati peringkat kedua dunia yakni sebanyak 300 kilogram per orang per tahun. Data yang dilansir oleh Pusat Makanan dan Nutrisi Barilla pada 2018 yang juga dimuat oleh The Economist Intelligence Unit ini mencatat Arab Saudi di posisi pertama dengan jumlah sampah makanan mencapai 427 kilogram per orang per tahun. Disusul oleh Amerika Serikat di posisi ketiga dengan jumlah 277 kilogram per orang per tahun.

Peningkatan pola konsumsi masyarakat yang meningkat saat Ramadhan dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya iklan konsumsi yang gencar ditayangkan bahkan jauh hari sebelum Ramadhan. Iklan-iklan Ramadhan yang gencar itu sedikit-banyak terinternalisasi yang kemudian mempengaruhi pola pikir dan orientasi Ramadhan kita.

Ramadhan sebagai bulan ibadah menjadi bulan konsumtif. Selain identik dengan sampah yang bertambah signifikan, Ramadhan juga identik sebagai bulan inflasi karena meningkatnya permintaan masyarakat terutama terhadap sejumlah bahan pangan pokok dan sejumlah komoditas lain yang identik dengan puasa dan hari raya.

Mengendalikan Diri

Konsumtif memang merupakan salah satu sifat alami manusia. Sifat alamiah ini bisa berkembang tak terkendali saat dikompori oleh iklan-iklan yang sangat masif dan diskon besar-besaran, terlebih juga ketika didukung oleh kemampuan finansial yang memadai. Atau kemudahan berutang yang kini nyaris semudah membalik telapak tangan. Jadinya, semangat Ramadhan untuk mengatrol ibadah seringkali terbelokkan menjadi semangat untuk mengejar barang-barang konsumsi.

Sangat kontekstual ajaran Islam akan Ramadhan terhadap fenomena ini yang salah satu esensi terbesarnya adalah pengendalian diri. Mengendalikan diri dari hawa nafsu belanja patut dilakukan mengingat Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini berdekatan dengan tahun ajaran baru yang artinya ada pos pengeluaran yang semestinya lebih menjadi prioritas.

Sikap konsumtif kita yang meningkat pada bulan suci ini sebenarnya sangat kontradiktif dengan semangat Ramadhan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad yang justru sangat sederhana dalam hal konsumsi, namun bertambah istimewa dalam hal ibadah. Kita memang tidak bisa menyamai beliau, namun sejumlah teladannya sangat mungkin kita terapkan dalam keseharian kita saat Ramadhan.

Dalam hal makanan misalnya, Nabi SAW mencontohkan makan kurma saat berbuka dan penutup di saat sahur. Selain sehat dan baik bagi pencernaan, mengonsumsi kurma juga ramah lingkungan. Dari sudut pandang zero waste, mengonsumsi kurma sebagai pengganti camilan akan meminimalisasi produksi sampah.

Pengendalian diri dalam hal makanan sebenarnya tidak semata terkait dengan persoalan perut saja. Menarik apa yang dikemukakan oleh dokter Umar Faruq Abdallah, seorang cendekiawan muslim, bahwa kemampuan kita dalam mengontrol makanan dan minuman akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita terhadap kontrol diri yang lainnya. Banyak nasihat dan pendapat lain yang juga senada dengan dokter Umar Faruq ini.

Selain terkait dengan kemampuan mengontrol diri secara umum, pengendalian diri dalam hal makanan juga memiliki banyak manfaat yang baik bagi kesehatan. Salah satunya untuk menekan obesitas yang bisa memicu sejumlah penyakit.

Sifat konsumtif ini sebenarnya bisa kita alihkan menjadi semangat untuk berbagi sebagaimana juga dicontohkan oleh Rasulullah. Pada bulan Ramadhan, sifat kedermawanan beliau mencapai titik terbaiknya. Ini bisa menjadi solusi untuk mengalihkan hasrat konsumsi kita ke jalan yang lebih baik dan bermanfaat. Di saat sebagian kita berlimpah makanan, sebagian saudara kita masih ada yang kekurangan atau bahkan mengalami gizi buruk dan stunting. Belum lagi sejumlah daerah yang mengalami bencana karena problem lingkungan dan atau masalah lainnya.

Sebagaimana halnya sifat konsumtif, sifat berbagi ini seyogianya adalah juga sifat alamiah kita yang seringkali terpinggirkan oleh nafsu yang lainnya. Dan Ramadhan adalah momen untuk mengaktualisasikannya, juga untuk membersihkan "sampah-sampah" di hati dan harta kita.

Ririn Handayani peminat masalah sosial


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed