DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 24 Mei 2019, 11:16 WIB

Kolom

Ramadhan dan Refleksi Etik Manusia Beragama

Hijrian A. Prihantoro - detikNews
Ramadhan dan Refleksi Etik Manusia Beragama Sebuah kegiatan kemanusiaan di bulan Ramadhan (Foto: dok. Jamkrindo)
Jakarta - Relasi antara agama dan manusia merupakan sebentuk ikatan yang mampu melahirkan tatanan nilai yang inklusif. Agama yang hadir membawa pesan moral akan senantiasa mengawal gerak laju manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya. Kebebasan berkehendak yang dianugerahkan sepaket tatkala manusia lahir merupakan acuan interaksi sosial keagamaan. Sebab, agama melalui berbagai media ajarannya berjanji membimbing kehendak tersebut agar tidak keluar dari garis-garis besar kemaslahatan.

Keyakinan beragama yang diejawantahkan dalam praktik keagamaan merupakan seperangkat nilai yang disarikan dari prinsip hierarki keimanan dan keislaman. Relasi ganda kedua konsep tersebut dengan manusia mengindahkan pencapaian hubungan yang paripurna: vertikal dan horizontal. Puasa sebagai salah satu prinsip dalam hierarki keislaman adalah sebuah fase yang menyimpan berbagai nilai dalam segenap aktivitas ritual peribadatan. Berbeda dengan keempat prinsip keislaman yang lainnya, puasa adalah model peribadatan yang dilakukan secara serentak dalam bulan Ramadhan.

Pemahaman keagamaan merupakan sebentuk laku kesadaran manusia dalam beragama. Cara manusia memahami agama senantiasa akan mengalami hambatan jika ia tidak mampu menangkap pesan-pesan Tuhan yang tersirat dalam setiap sendi ajaran agama. Ramadhan sedari eksistensi awalnya telah diyakini sebagai one piece in one year yang penuh dengan keberkahan. Keberkahan Ramadhan tentu tidak hanya dipahami sebatas menumpuk pahala-pahala ritual peribadatan, namun juga harus mampu memupuk kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Ramadhan dalam tradisi praktik keagamaan manusia beriman merupakan suatu masa yang mewadahi relasi ganda yang senantiasa menghubungkan antara manusia dengan Tuhannya, dan juga antarsesama manusia. Oleh sebab itu, mentransformasikan nilai peribadatan keagamaan menjadi seperangkat nilai sosial kemanusiaan merupakan sebuah keniscayaan. Dengan demikian, dialektika relasional yang berkait-kelindan antara manusia beriman dengan aktivitas ritual peribadatan akan hadir dengan tekstur pemahaman baru: dialektika kesadaran kemanusiaan.

Perintah berpuasa yang hadir pada tahun kedua Hijriah merupakan sebuah peristiwa yang memiliki aspek-aspek historis-sosiologis. Ia tidak semata-mata hadir dengan wajah yang benar-benar baru. Sebab aktivitas ritual peribadatan ini sejatinya memang sudah disyariatkan kepada umat-umat sebelum risalah muhammadiyah diturunkan. Oleh karena itu, proses penetapan hukumnya pun tidak bersifat gradual, sebab ia sudah dikenal, melainkan secara spontan sebagai respons atas sebuah keadaan. Hal inilah yang melatarbelakangi umat Islam untuk memenuhi janjinya sebagai manusia yang beriman.

Kesadaran yang berlandaskan keyakinan tersebut merupakan sebentuk prinsip mutual agreement antara manusia dengan Tuhannya. Berdasarkan prinsip mutual agreement tersebut lahirlah apa yang disebut dengan hak dan kewajiban dalam setiap ritual peribadatan semasa Ramadhan. Manusia beriman memiliki kewajiban untuk melaksanakan ibadah puasa, sehingga mereka berhak untuk mendapatkan nilainya. Kesadaran berhukum ini membentuk pola pikir manusia pada tataran yang paling praktis.

Hal ini bukanlah perkara yang absurd, sebab ia hadir sebagai hasil dari dialektika antara hak dan kewajiban yang kemudian memantik kesadaran yang paling orisinal, yakni kesadaran individual. Kesadaran individual yang didasari oleh keyakinan dalam diri insan yang beriman merupakan kunci utama untuk memasuki gerbang cakrawala yang lebih terbuka. Jika seorang insan beriman telah mampu memotivasi dirinya untuk senantiasa berperilaku dan bertingkah laku baik, maka ia akan mampu untuk memahami bahwa Ramadhan tidak hanya berbicara tentang hukum dan kewajiban semata, melainkan juga tentang rasa dan etika.

Rasa adalah bagian yang tak terpisahkan dari ritual peribadatan dalam bulan Ramadhan. Manusia diajarkan untuk lebih mengerti arti tentang empati dan simpati dalam setiap lingkungan sosial. Pada titik inilah terjadi transformasi nilai dari kesadaran individual menuju kesadaran komunal. Rasa empati dan simpati antarsesama manusia yang diajarkan oleh Ramadhan kemudian berproses menjadi sebuah refleksi etis.

Secara serentak manusia berkonsensus bahwa perilaku amoral merupakan tindakan yang cacat nilai. Proses pengadilannya pun diputuskan berdasarkan keadilan sosial. Pada titik inilah, Ramadhan menjadi kontrol moral dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sebab jika manusia gagal memahami pesan moral yang dibawa Ramadhan, maka laku kesalehan individual yang tidak terafiliasi dengan baik dalam kesadaran komunal adalah harga mahal yang harus dibayar.

Nilai-nilai keagaman merupakan mutiara kemuliaan yang dibudidayakan dari segenap aktivitas ketaatan manusia kepada Tuhan. Memang benar manusia adalah makhluk yang sempurna jika dibandingkan dengan ciptaan-ciptaan yang lainnya. Namun manusia yang sempurna adalah manusia yang bertakwa kepada Tuhannya. Dari sinilah kualitas keagamaan manusia lahir, kemudian tumbuh dan berkembang dalam bingkai-bingkai ketakwaan.

Manusia yang mampu menyelami samudera makna dalam setiap embus napas agama secara otomatis akan menjadi pribadi yang penuh dengan budi pekerti. Sebab, manusia bertakwa yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik etikanya. Hubungan antara takwa dan etika tidak akan pernah ter-makzul-kan. Keduanya bisa dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan. Karena keimanan dan ketakwaan seorang manusia merupakan cermin moral dalam laku kehidupan sosial keagamaannya.

Itu sebabnya, etika menjadi sasaran wahyu risalah kenabian. Maka menjadi sangat logis jika Ramadhan menjadikan ketakwaan sebagai etika paripurna manusia beragama.

Hijrian A. Prihantoro pegiat literasi syariat dan filsafat, aktivis Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bagian Riset dan Publikasi Ilmiah


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed