detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 23 Mei 2019, 11:46 WIB

Kolom

Pembatasan Akses Media Sosial

Djoko Subinarto - detikNews
Pembatasan Akses Media Sosial Foto: Reuters
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Jakarta - Pemanfaatan media sosial mesti dibarengi dengan kesadaran digital yang memadai agar tidak memunculkan dampak destruktif yang dapat memporak-porandakan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menyusul kerusuhan di sejumlah titik di Jakarta, Selasa (21/5) dan Rabu (22/5), pemerintah Indonesia mengambil kebijakan pemblokiran secara parsial dan temporer akses terhadap layanan sejumlah media sosial. Ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju dengan langkah pemerintah tersebut.

Yang setuju menilai langkah pemerintah itu dapat dipahami demi mencegah terjadinya kerusuhan yang lebih besar akibat dari beredarnya informasi bohong dan provokatif lewat jejaring media sosial.

Mereka yang tidak setuju menilai langkah pemerintah Indonesia tersebut sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia. Mereka berdalih, hak untuk mengemukakan pendapat lewat media, apa pun medianya, dan hak untuk memperoleh informasi, adalah hak fundamental yang tidak boleh dihalang-halangi dengan cara apa pun dan oleh siapa pun.

Perilaku Produktif

Saat ini, Indonesia berada di peringkat keenam sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia, setelah Jepang, Brazil, India, Amerika Serikat, dan China. Jumlah pengguna internet di negeri ini diperkirakan mencapai 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen dari jumlah total penduduk.

Sayangnya, jumlah pengguna internet yang tinggi tersebut belum dibarengi dengan perilaku produktif para penggunanya. Sebagian besar pengguna internet kita masih memanfaatkan internet sebagai alat hiburan semata. Merujuk kepada survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebesar 89,35 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan internet hanya untuk mengakses aplikasi percakapan (chatting), dan 87,13 persen untuk mengakses media sosial.

Terkait media sosial, kabar buruknya, tentu saja, meskipun media sosial melahirkan sejumlah manfaat, seperti menyambung tali silaturahim, menambah pertemanan dan memperluas jejaring sosial serta relasi bisnis, harus diakui keberadaan situs-situs media sosial ini justru lebih sering dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak produktif.

Salah satu perilaku tidak produktif dalam pemanfaatan media sosial di negeri ini yaitu mengumbar kebencian. Kalau kita buka media sosial, maka selalu saja bisa kita temukan unggahan-unggahan yang bernada kebencian, seperti penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, penghasutan, dan penyebaran kabar-kabar bohong, baik yang ditujukan kepada perseorangan, kelompok, maupun lembaga.

Sekarang ini, siapa pun bisa menayangkan apa saja yang dikehendakinya ke media sosial, entah itu berupa teks, gambar, suara, video, maupun melakukan tayangan langsung (live streaming). Meskipun demikian, para pengguna media sosial di negeri ini diharapkan memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah mana yang layak dan mana yang tidak layak mereka tayangkan di media sosial.

Generasi muda kita sebagai pengguna terbesar internet sekarang ini dan di masa yang akan datang diharapkan dapat lebih cerdas dan lebih bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kita sama sekali tidak ingin generasi penerus bangsa ini berperilaku kontraproduktif dan berkarakter buruk yang cuma gemar memaki-maki, menista, memfitnah, menghasut, mengadu domba, gemar menyebarkan kabar-kabar bohong, dan cenderung intoleran serta diskriminatif.

Ini adalah satu tantangan berat bagi para orangtua dan para pendidik kita saat ini. Karenanya, perlu kesadaran semua pihak, termasuk keluarga dan pihak sekolah, untuk dapat semaksimal mungkin mengarahkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa, agar mereka mampu menjadi pengguna teknologi digital yang cerdas dan bijak.

Untuk itu, perlu ada upaya membangun dan menanamkan kesadaran digital kepada anak-anak kita sejak dini. Secara sederhana, kesadaran digital dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan, memahami, mengevaluasi, menciptakan, dan mengkomunikasikan informasi menggunakan teknologi digital secara tepat guna.

Dengan memiliki kesadaran digital diharapkan individu dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi secara lebih kritis dan lebih bertanggung jawab sehingga mampu memilih dan memilah mana informasi yang dibutuhkan dan mana yang tidak, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Yang tidak kalah krusial adalah bagaimana pihak pemerintah mampu menciptakan iklim yang mendorong masyarakat kita berlomba melahirkan konten-konten internet yang menarik dan bermutu, yang pada gilirannya bakal membuat warga negeri ini kian produktif.

Tindakan memblok akses layanan media sosial demi mencegah beredarnya kabar-kabar bohong dan provokasi sama sekali tidak dibutuhkan tatkala warga negeri ini telah memiliki kesadaran digital yang mumpuni.

Djoko Subinarto kolumnis dan bloger


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com