DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 19 Mei 2019, 12:08 WIB

Jeda

Tak Putus Dirundung Gaduh

Mumu Aloha - detikNews
Tak Putus Dirundung Gaduh Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kabar terakhir, Kubu 02 mengajak pendukungnya untuk mogok bayar pajak. Kita tahu, itu terjadi setelah serentetan aksi yang susul menyusul tak putus-putus sejak beberapa jam setelah pencoblosan. Dari sujud syukur dan deklarasi kemenangan hingga ajakan people power yang kemudian diperhalus namanya menjadi "gerakan kedaulatan rakyat", yang diluncurkan dalam sebuah acara --lagi-lagi-- deklarasi di sebuah tempat yang diberi nama sesuai gerakannya, Posko Kedaulatan Rakyat, di Menteng, Jakarta, Jumat kemarin.

Itu belum termasuk soal surat wasiat yang dibuat oleh Prabowo. Lho, menyikapi hasil pemilu kok pakai bikin-bikin surat wasiat segala? Tapi, aduh, rasanya kita sudah kehabisan energi untuk terus mengikuti secara detail beritanya satu demi satu. Setiap hari selalu ada perkembangan baru. Dari tuduhan kecurangan yang terus-menerus didengungkan sampai klaim angka kemenangan yang terus berubah. Sungguh, kita dibuat penasaran, akan ke mana, bagaimana, dan seperti apa ending dari semua rentetan drama "copras-capres" ini.

Ada yang meramalkan, atau barangkali lebih tepatnya mengkhawatirkan, bahwa pada 22 Mei nanti, setelah KPU mengumumkan secara resmi hasil pemilu, situasi yang tegang, gaduh, dan panas selama ini akan memuncak, dan menjadi kekacauan. Aduh, kita berdoa semoga hal itu tidak terjadi. Tapi, Kedubes Amerika Serikat di Jakarta sudah memberikan warning untuk kemungkinan buruk yang akan terjadi sekitar tanggal itu.

Berbagai ramalan, kekhawatiran, maupun kewaspadaan itu memang wajar muncul, mengingat sejak awal kata "people power" (yang kemudian diralat itu), juga kata "revolusi", terus-menerus diserukan. Amien Rais sendiri, sebagai tokoh yang sejak semula, jauh sebelum hari pencoblosan, melontarkan "ancaman" --"Kalau sampai terjadi kecurangan (pemilu) yang terstruktur, sistematis, dan masif...."-- itu, dalam deklarasi Gerakan Kedaulatan Rakyat, Jumat kemarin kembali menegaskan bahwa "permainan belum selesai".

Selain karena adanya kecurangan dalam pemilu yang selalu dituduhkan itu, Gerakan Kedaulatan Rakyat juga dimaksudkan sebagai pesan kepada petahana yang menurut Pak Amien tokoh kita tercinta itu "sudah empat tahun ternyata nggak bisa apa-apa, bahkan....menyengsarakan rakyat." Dan, jika Pak Amien yang bicara, maka siapa yang berani meragukannya? Sekali beliau melontarkan "ancaman" people power, mau namanya diganti apapun, kita mesti bersiap-siap.

Siapa yang bisa melupakan sejarah, bahwa Pak Amien adalah salah satu orang terdepan dan terkuat di balik jatuhnya Soeharto pada Mei 1998? Pak Amien pulalah yang telah berhasil melengserkan Presiden Gus Dur, dan menggantinya dengan Ibu Megawati. Kini, beliau berada di belakangan Prabowo, sebagai --katakanlah-- "penasihat utama" Kubu 02, yang apapun pernyataannya, sepak terjangnya, manuver politiknya, bahkan celetukan-celetukannya, juga desah napasnya, tidak mungkin dianggap angin lalu begitu saja.

Banyak di antara kita yang berharap bahwa datangnya bulan puasa akan meredakan berbagai ketegangan tersebut. Namun, bagi Pak Amien justru sebaliknya. Tokoh kita tercinta, yang pernah kita puja-puja dan tinggikan sebagai Bapak Reformasi itu, dengan semangat dan kegagahan yang masih sama seperti saat melawan Soeharto berpuluh tahun yang lalu, menegaskan bahwa Syahrul Ramadhan justru "kita jadikan syahrul jihad, syahrul perjuangan."

Inti dari semua itu, Pak Amien menyatakan dan mengajak segenap pendukung Kubu 02 untuk "kita bela sampai titik darah penghabisan." Itu baru Pak Amien. Kita belum mendengar pernyataan tokoh-tokoh lain di kubu yang sama. Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya, Titiek Soeharto, yang juga anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi misalnya, tak kalah heroik menyerukan tekad bahwa pihaknya "akan berjuang di jalanan". Artinya, tidak perlu membawa tuduhan soal kecurangan pemilu yang menjadi pangkal seluruh gerakan mereka tersebut ke Mahkamah Konstitusi.

Pokoknya, pemilu curang, titik. Siapa yang curang? Petahana. Dan, itu harus dilawan. Dengan? People power. Eh, bukan. Gerakan Kedaulatan Rakyat. Aksi tersebut rencananya akan digulirkan mulai 20 Mei besok, hingga KPU mengumumkan hasil pemilu. Tujuannya? Meminta KPU mendiskualifikasi capres petahana.

Tak jauh beda dengan Pak Amien, Titiek Soeharto tentu saja juga bukan tokoh sembarangan, yang boleh dianggap enteng pernyataannya. Bahkan, mungkin kita perlu menggarisbawahinya lebih tebal. Jika kata "berjuang" atau "perjuangan" diucapkan oleh Pak Amien Rais, maka itu sudah biasa, bukan barang baru, ataupun mengejutkan. Tapi, ini Titiek Soeharto! Kita tak bisa tidak menjadi terharu dibuatnya. Saya sampai berkali-kali mengulang membaca berita itu, takut salah baca --maklum, dalam kondisi puasa, perut lapar, orang bisa saja berhalusinasi.

Tapi, seperti ditulis oleh wartawan dalam kutipan langsung di berita tersebut, Titiek Soeharto benar-benar telah mengucapkan kata itu. Berjuang. Saya mengulanginya lagi dan lagi, seperti membaca doa, seperti merapal mantra keramat yang suci dan sakral. Berjuang. Berjuang. Berjuang. Jika seorang Titiek Soeharto saja sampai melontarkan kesiapannya untuk "berjuang" --apalagi ditambah "di jalanan"-- maka situasi memang benar-benar sudah sangat gawat.

Begitulah, tuduhan kecurangan pemilu terus dan terus didengungkan, seperti nyanyian sehari-hari yang kemudian dengan mudah dihafal liriknya oleh publik. Sesuatu yang terus diulang-ulang, ada atau tidak, menjadi tak penting lagi, karena akhirnya menjelma menjadi "kebenaran" yang hakiki dan diyakini. Sejumlah orang sampai berdemo di depan Kantor Bawaslu, memprotes "kecurangan pemilu". Salah satu pendemo bahkan menyerukan akan "memenggal" Presiden Jokowi. Videonya menyebar. Orang-orang berdebat. Lagi, dan lagi. Tiada hari tanpa kegaduhan. Kita tak bisa menghindari. Tak ada tempat untuk berlari dan sembunyi.

Kita duduk-duduk bersantai minum kopi dengan teman, obrolan kita tak akan jauh dari perkembangan politik pasca-pemilu. Di Grup WA alumni hingga keluarga, orang-orang juga rajin membagikan berita-berita perkembangan situasi politik terkini, berikut komentar dan analisis mereka. Politik --utamanya urusan seputar Pemilu 2019 ini-- telah menjadi makanan sehari-hari, kita peduli atau tidak. Para pendukung fanatik akan selalu memastikan energinya tersedia untuk segala debat di media sosial.

Saya sering heran dan penasaran, siapa sebenarnya mereka? Bagaimana kehidupan sehari-harinya? Apakah dalam kehidupan "nyata" di antara tetangga kanan-kiri, di tengah pergaulan pertemanan di tempat kerja, mereka juga terus saja berdebat, membela pasangan capres yang didukungnya, sambil menyakini dan meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa benar telah terjadi kecurangan dalam pemilu kemarin --kecurangan yang menurut para junjungan mereka "sistematis, terstruktur, masif, dan brutal?

Ketika saya iseng melempar pertanyaan itu di Twitter, seorang teman me-reply dan membantu saya membayangkan apa yang terjadi di luar sana. Teman saya itu mengatakan bahwa orang-orang yang ribut terus urusan "copras-capres" itu: sehari-hari merengut. tetangga saya dua orang fans garis keras salah satu angka, dua-duanya roboh karena serangan jantung. ini kisah nyata.

Sebagai rakyat, tugas kita mestinya sudah "selesai" setelah memberikan hak suara kita pada hari pencoblosan. Setelah itu, kita kembali ke kehidupan masing-masing. Kalau memang benar ada dan telah terjadi kecurangan, maka biarlah itu kita serahkan saja pada Pak Amien Rais, Ibu Titiek Soeharto dan tokoh-tokoh yang sejak awal menyatakan diri siap untuk berjuang melawannya. Kita tak perlu ikut tegang, panas, ngotot, ngegas, sampai harus membenci dan memusuhi --apalagi ingin "memenggal"-- orang-orang yang berbeda pilihan politik dengan kita.

Tak perlu kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik untuk tahu dan paham, bahwa politik sejatinya tak lebih dari urusan bagi-bagi kekuasaan. Nanti, setelah hasil pemilu diumumkan oleh KPU, setelah segala kegaduhan yang seolah tak berujung ini, seperti yang sudah-sudah, koalisi baru partai-partai akan terbentuk, peta politik akan memperjelas dirinya: siapa merapat ke mana, dan mendapatkan apa, sambil tertawa-tawa. Sedangkan kita, akan tetap begini-begini saja. Dalam lirik retoris nan satir puisi Wiji Thukul: ....gelas dan sendokku/ apakah bertambah/ setelah pemilu bubar?

Jadi, masih mau terus ikut gaduh? Sayangi jantungmu!

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed