detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 19 Mei 2019, 10:00 WIB

"Common Sense" Ishadi SK

111 Tahun Kebangkitan Indonesia

Ishadi SK - detikNews
111 Tahun Kebangkitan Indonesia Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Tanpa terasa Kebangkitan Nasional 1908 telah berusia 111 tahun. Setiap tahun diperingati karena pada hari itu lahir organisasi sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan Budi Utomo oleh Dr Soetomo dan para Pelajar STOVIA; School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji dan Suryadi Soeryaningrat (Ki Hadjar Dewantara). Penggagasnya adalah Dr Wahidin Soedirohusodo.

Awalnya organisasi ini bergerak di bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan, namun sejak tahun 1915 Budi Utomo mulai bergerak di bidang politik. Peristiwa Perang Dunia I (1914-1918) memaksa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda memberlakukan milisi, wajib militer bagi warga pribumi. Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum pada 18 Mei 1918 menyetujui usul Budi Utomo untuk membentuk lembaga perwakilan rakyat.

Dalam lembaga vorskraat terdapat perwakilan dari organisasi Budi Utomo, yakni Suratmo Suryokusumo. Bersamaan dengan lahirnya Budi Utomo, pada 1930 Budi Utomo mengembangkan cita-cita untuk membangun Indonesia merdeka.

Budi Utomo menjadi penanda bahwa bangsa Indonesia pertama kali menyadari arti penting dari persatuan dan kesatuan yang kemudian menjadi isyarat strategis Presiden pertama Indonesia Sukarno untuk mengampanyekan nasionalisme Indonesia yang berujung pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Mengikuti sejarah sejak 1908, kita memahami bahwa tanpa gerakan Budi Utomo, Proklamasi Kemerdekaan tidak akan terjadi.

Dalam konteks pasca Pilpres 17 April 2019, memperingati semangat Budi Utomo mempunyai makna strategis, karena enam bulan sebelum pilpres, November 2018, ada nuansa "perpecahan" di antara pendukung Paslon 01 vs Paslon 02. Awalnya sekadar beradu argumentasi, terakhir meningkat menjadi gerakan permusuhan luas di seluruh Indonesia. Situasi ini mendorong sekelompok tokoh nasional yang atas nama pribadi, yakni Goenawan Mohammad, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, dan Malik 'Prambors' mencoba untuk mengajak seluruh bangsa untuk menggunakan peringatan 111 Tahun Budi Utomo sebagai upaya untuk mempersatukan kembali benih-benih perpecahan yang semakin runcing pasca Pilpres 2019 lalu. Mereka kemudian minta agar kegiatan berbagi karya kreatifnya ditayangkan secara luas di stasiun radio dan televisi.

Pihak ATVSI - yang meliputi 10 stasiun televisi swasta dan ATVLI yang meliputi televisi lokal Indonesia menyambut baik gagasan besar ini, atas pertimbangan momentum tepat seratus sebelas tahun Kebangkitan Nasional Indonesia.

Kegiatan kampanye ini mungkin bisa menjadi sedikit upaya mengingatkan bahwa seratus sebelas tahun sudah para Bapak Bangsa merintis Indonesia bersatu yang menjadi cikal bakal Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, yang kita nikmati hingga sekarang.

Bersatu adalah sebuah keniscayaan seperti dinyanyikan grup musik Dewa 19 lima belas tahun lalu.

Wahai, jiwa jiwa yang tenang/ berhati-hatilah dirimu... kepada hati hati yang penuh dengan kebencian yang dalam

Kkarena, sesungguhnya iblis ada dan bersemayam di hati yang penuh dengan benci... di hati yang penuh dengan prasangka

Laskar cinta/ sebarkanlah benih-benih cinta musnahkanlah virus-virus benci/ virus yang bisa merusakkan jiwa dan busukkan hati

Laskar cinta/ ajarkanlah ilmu tentang cinta/ karena cinta adalah hakikat dan jalan yang terang bagi semua manusia.

Ishadi SK Komisaris Transmedia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com