DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 18 Mei 2019, 14:30 WIB

Pustaka

Mengurai Benang Kusut Sofisme

Muhammad Nanda Fauzan - detikNews
Mengurai Benang Kusut Sofisme
Jakarta -

Judul Buku: Sofisme; Penulis: Plato; Penerbit: Basabasi, Januari 2019); Tebal: 136 halaman

Kondisi politik mutakhir Indonesia, terutama pra dan pasca pilpres, membuka kembali percakapan tentang keberadaan kaum Sofis, dalam beragam tafsir dan karakteristik masing-masing, juga upaya menautkannya dengan era kini.

Mulanya saya berpikir—sekaligus berharap—hal ini bukan semata-mata untuk memenuhi hasrat umpatan dalam kontestasi pemilu, sebab, "Kau bukan filsuf, kau sofis," memang terdengar lebih sophisticated ketimbang diksi "cebong-kampret", bukan?

Tapi, seperti kita tahu, pikiran dan harapan acapkali datang dalam bentuk lain. Diksi "Sofis" yang telanjang justru dijadikan tameng sekaligus senjata untuk menentang kelompok yang berbeda, alih-alih memberi definisi yang ideal dan meneroka muasal mengapa ia ada. Konsekuensi logis setelahnya bisa kita tebak, di internet orang-orang lihai merundung figur berseberangan dengan label "Sofis" tanpa pengetahuan yang memadai.

Dalam khazanah percemoohan dunia, hal semacam itu adalah selemah-lemahnya iman. Pada tatanan pakar, Februari 2019 para pegiat filsafat di Jakarta mengadakan diskusi publik dengan tema Menolak Pembusukan Filsafat. Kegiatan tersebut menelurkan enam poin yang sekaligus menjadi pernyataan sikap dan ditandatangani oleh 106 orang, di antaranya Goenawan Mohamad, Setyo Wibowo, Donny Gahral Adian, dan Akhmad Sahal.

Di luar kesepakatan itu, beberapa orang menilai ada agenda politis yang hendak diselundupkan. Misalnya, I Nyoman A. W dalam eseinya menulis, "Mereka beramai-ramai menunjuk Rocky Gerung sebagai pemilik wajah sofisme klasik kontemporer, ia dianggap merendahkan marwah filsafat ke dalam retorika sofis yang minus esensi."

Kita tahu, Rocky Gerung adalah figur yang dikenal sebab kritik kerasnya terhadap rezim Jokowi, dan empat orang di atas berlaku sebaliknya. Pertengkaran antara dua kubu itu seolah mengulang kontestasi politis di antara Kaum Sofis dan Platon berpuluh abad lalu.

Untuk keluar dari pergeseran definisi "Sofisme" yang telah disusupi agenda politik, kita bisa membaca satu magnum opus yang ditulis Plato berjudul Sofis yang edisi terjemahannya diterbitkan oleh Penerbit Basabasi, Yogyakarta ini sebagai rujukan dasar.

Buku ini dibuka dengan lanskap di mana Theodorus dan Theaetetus mengajak orang asing—murid Parmenides dan Zeno—yang berasal dari Elea untuk ikut berdiskusi tentang pengertian Sofis, dan kepada siapa ia julukan itu layak disematkan.

Seperti pada kebanyakan karyanya, Plato memang selalu menggunakan dialog sebagai metode filosofis yang ia anggap sebagai seni manusiawi yang paling tinggi.

Keterampilan semacam ini disebut dengan metode Sokratik, sebab Socrates tidak pernah absen tampil sebagai tokoh utama pada setiap percakapan. Hampir seluruh filsuf pada zaman itu menggunakan metode ini, misalnya Xenophon, Antisthenes, Aeschines dari Sphettos, Phaedo dari Elis, Euclides dari Megara, Theocritus, Tissaphernes, dan Aristoteles.

Metode ini terus dielaborasi hingga sekarang. Mortimer J. Adler, seorang filsuf pendidikan Amerika Serikat, dalam bukunya Paedia Program (2009) mengatakan metode Sokratik sebagai cara paling ampuh setelah ceramah dan pelatihan (coaching).

Dalam buku ini kita bisa melacak bagaimana cara Plato memberi keterangan tentang Sofis melalui tiga periode dialog; periode penyelidikan (inquiry), periode spekulasi (speculation), serta periode kritisisme, penilaian, dan aplikasi (critism, appraisal, and application).

Jika persoalan-persoalan besar ingin ditangani dengan tepat, maka persoalan itu harus diturunkan ke dalam contoh yang lebih kecil dan mudah sebelum masuk pada definisi yang lebih besar dan rumit (halaman 7). Dalam buku ini nelayan digunakan sebagai contoh terkecil, sebelum akhirnya percakapan berkembang di mana terdapat titik singgung antara keduanya. Bermula dari seni menangkap, keduanya bercabang ketika perburuan hewan; yang satu pergi menuju laut, yang lain lagi menuju darat.

Sofis memburu manusia—lazimnya pemuda—untuk diberikan pelajaran tentang seni berdebat dengan imbalan uang. Mereka juga mengelilingi kota dengan ajaran relativisme, dengan argumentasi yang tak peduli terhadap keutamaan (arete). Dengan demikian Sofis tampak hanya memiliki semacam pengetahuan spekulatif dan semu tentang segala hal.

Di satu sisi, kaum Sofis adalah para pendidik tulen yang memunculkan fenomena budaya intelektual di Athena. Mereka menolong orang menggunakan akal budinya secara maksimal. Namun di sisi lain, kaum Sofis jatuh dalam bahaya sophistiquerie. Karena sombong dan merasa mampu melogiskan segala sesuatu, juga terlalu yakin bisa merasionalkan segala hal, Sofisme menjadi terlalu banyak membual. Sejak Platon, kata Sofisme praktis menjadi musuh filsafat, kembaran hitam filsafat, dan diucapkan sebagai cemoohan (Jean-François Pradeau, Introduksi, 2009, hl. 7-9, 18).

Dalam beberapa karyanya Plato memang sering memberi ulasan negatif terhadap para Sofis, misalnya dalam Gorgias dan Protagoras. Skeptisime dan nihilisme para Sofis—dengan nama Gorgias dan Protagoras—ditentang Sokrates lewat dialog aporetik yang berhenti tanpa kesimpulan, sehingga hasil dari dialog adalah bahwa para pendialog sama-sama tidak tahu. Ketidaktahuan adalah satu-satunya kepastian.

Juga dalam karya lain yang bisa dijadikan rujukan tentang narasi Sofisme; Meno (tentang kebajikan dan pengetahuan), Xarmides (tentang kemawasdirian), Lakhes (tentang keberanian), dan Lysis (tentang persaudaraan).

Menurut K. Bertens dalam Sejarah Filsafat Yunani (1990), buku yang ditulis plato mereduksi Sofis menjadi makna yang peyoratif. Kendati demikian, belakangan usaha untuk memberikan penilaian positif telah banyak hadir. Sebagai penyeimbang, sila baca Petualangan Intelektual, Simon Petrus L. Tjahjadi (Kaninsius, 2004).

Buku ini secara singkat membawa kita pada kesadaran penuh untuk mengurai benang kusut Sofisme dengan landasan sosio-historis, bukan politik praktis. Lalu, sudahkah kita tahu dan mampu menilai siapa Sofis? Jika Anda bijaksana—seperti Plato—mestinya satu-satunya yang Anda ketahui adalah Anda tidak mengetahui apa-apa.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed